Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hadits Keutamaan Shalat Jenazah

Hadits Keutamaan Shalat Jenazah
Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan melakukan shalat jenazah dan keutamaan mengantarnya ke pemakaman. Ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra berkata:

قال رسول اللہ ﷺ: من شهد الجنازة حتى يصلي عليها فله قيراط ومن شهد حتى تدفن كان له قيراطان ، قيل: وما القيراطان ؟ قال مثل الجبلين العظمين 

" Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang melayat pada orang yang meninggal hingga dia melakukan shalat jenazah, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala satu qirath dan barangsiapa yang melayat pada orang yang meninggal sampai kepada proses penguburan, maka dia akan mendapatkan dua qirath. Seorang bertanya: Apakah dua qirath itu ? Nabi menjawab: Seperti dua gunung besar. " ( Al Bukhary 23: 59 ; Muslim 11: 17 ; Al Lulu-u wal Marjan 1: 217 ). 553 ) 

Juga Hadits Dari Nafi' ra.:

حدث ابن عمر أن ابا هريرة  يقول: من تبع جنازة فله قيراط ,  فقال: أكثر أبوهريرة علينا فصدقت يعنى عائشة أبا هريرة وقالت: سمعت رسول الله ﷺ یقوله فقال ابن عمر لقد فرطنا في قراريط كثيرة
" Ibnu Umar ra. mengabarkan bahwa Abu Hurairah pernah mengatakan: siapa saja yang mengantarkan jenazah, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala satu qirath. Ibnu Umar berkata: Abu Hurairah telah membanyakkan riwayat untuk kita dan Aisyah pun membenarkan Abu Hurairah dan berkata: Saya telah mendengar Rasulullah mengatakan yang demikian. Kemudian Ibnu Umar berkata: Demi Allah, kita telah menyia-nyiakan banyak qirath. (Al Bukhary dan Muslim ) 

Artikel Terkait:

Mereka yang datang menjenguk orang mati dan berada di tempat itu hingga menyalatkannya, maka dia memperoleh pahala satu qirath. Di antara ulama yang berdalil dengan hadits ini, untuk menetapkan bahwa berjalan di belakang keranda jenazah, lebih utama daripada berjalan di depannya. 

Demikianlah pandangan dari Imam Ali, Imam Al Auza-y, dan Imam Abu Hanifah. Kata jumhur sahabat, tabi'in, Malik, Asy Syafi'y dan jumhur ulama: " Berjalan di depan keranda jenazah lebih utama Kata Ats Tsaury dan segolongan ulama: "Kedua posisi itu sama." 

Kata An Nawawy: " Nabi bersabda: 

من شهد الجنازة حتى يصلي عليها.

"Barangsiapa menghadiri kematian sehingga dia bershalat untuknya." 

menggerakkan kita untuk mengunjungi orang meninggal. Sedangkan sabda Nabi saw. 

ومن شهدهاحتى تدفن فله قيراطان

"Dan barangsiapa menghadiri kematian sehingga selesai dikubur, memperoleh dua girath 

menggerakkan kita untuk mengantar jenazah ke kubur hingga selesai pemakaman. Sabda Nabi ini memberi pengertian bahwa orang yang hanya bershalat saja, yang mendapatkan satu qirath. 

Yang bertanya tentang apa yang dimaksud dengan dua qirath adalah Abu Hurairah sendiri. Demikian menurut Abu ' Awanah. 

Pernyataan di atas pengertiannya adalah  bahwa orang tersebut pulang membawa dari mengantarkan jenazah dengan membawa pahala yang besar. Pahala itu diserupakan dengan gunung yang besar. Dalam sebuah hadits, Nabi menyerupakan qirath dengan gunung Uhud,  sebuah gunung yang terbesar di Madinah dan yang paling disukai oleh para mukmin. 

Menurut pendapat Abul Wafa' ibn Aqil, seseorang memperoleh pahala itu adalah jika dia menyalatkan jenazahnya, menguburkannya, mentakziahkannya, dan membawakan makanan untuk keluarga si mati. 

Ibnu Umar juga menjelaskan  bahwasa Abu Hurairah telah banyak benar menyampaikan hadits berkenaan dengan masalah tersebut. Maka ada kemungkinan ada hadits yang terlewatkan. Ibnu Umar kurang percaya pada riwayat ini Mendengar Aisyah mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah itu benar, Ibnu Umar berkata: "Kalau demikian, demi Allah, kita menyia-nyiakan pahala karena tidak menghadiri penguburan jenazah." Demikian diterangkan dalam Shahih Muslim. 

Para sahabat mengatakan demikian adalah sesudah mengetahui pahala yang diperoleh oleh mereka yang menghadiri acara kematian sampai jenazah selesai dikuburkan. 

Menurut pandangan dari Al Qashthalany bahwa setiap perbuatan orang yang beriman yang berhubungan dengan orang mati, baik berupa mengurus jenazahnya, memandikan jenazah, melakukan takziah kepada keluarga yang ditinggalkannya, atau juga berupa memberi makanan kepada keluarga mayit yang ditinggalkan maka itu semuanya akan  memberi pahala kepadanya.

Kata Al Azra-y: "Apabila jenazah itu banyak, namun shalat jenazah dilakukan sekaligus, maka tiap-tiap jenazah menghasilkan satu qirath." Ringkasan kedua hadits ini menggerakkan kita untuk menghadiri kematian, menyalatkannya, dan mengantarkannya ke kuburan. 

Kesimpulan 

Hadits pertama, menjelaskan bahwa melayat orang yang meninggal hingga melaksanakan shalat untuk jenazahnya akan mendapatkan balasan dari Allah berupa satu qirath. Kemudian jika kita mengantar jenazah hingga selesai dikuburkan, memperoleh satu qirath. 

Hadits kedua, menjelaskan bahwa orang yang datang melayat kepada orang yang meninggal maka akan mendapatkan ganjaran dari Allah berupa pahala satu qirath. 

Kutipan dari Buku Mutiara hadits Jilid 4