Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CARA I'TIKAF SESUAI SUNNAH

CARA I'TIKAF SESUAI SUNNAH

Cara Memutuskan itikaf Sesuai Sunnah

Orang beri'tikaf sunat boleh memutuskan i'tikafnya bilamana saja ia kehendaki sebelum selesai waktu yang diniatkan. Diberitakan oleh 'Aisyah, bahwa Nabi SAW. apabila mau beri'tikaf, bershalat fajar, kemudian masuk ke tempat i'tikafnya. 

Pada suatu hari beliau hendak beri'tikaf di likur yang akhir di bulan Ramadlan, maka beliau menyuruh membuat bilik untuk tempat beliau i'tikaf. Sesudah aku melihat yang demikian, akupun menyuruh buat yang demikian dan isteri-isteri Nabi yang lainpun menyuruh membuatnya juga. Sesudah beliau shalat shubuh, beliaupun melihat bilik-bilik itu (bangunan yang dibuat dari tirai-tirai tikar) lalu beliau berkata: "Bilik-bilik apakah ini, apakah kebaikan yang kamu kehendaki?" Sesudah itu beliau menyuruh supaya biliknya dibongkar dan demikian pula bilik-bilik isterinya. Kemudian beliau mentakkhirkan i'tikafnya ke sepuluh yang pertama dari bulan Syawal. (H.R. Bukhari Muslim)

Perintah Nabi kepada isterinya membongkar bilik-biliknya dan tidak jadi Nabi beri'tikaf, demikian pula isteri-isterinya sesudah berniat, menunjukkan kepada boleh kita memutuskan i'tikaf sesudah kita memasukinya. 

Dan hadits ini menunjukkan pula bahwa orang yang beri'tikaf boleh membuat dinding bagi dirinya di dalam mesjid, sebagaimana Rasulullah SAW. telah membuatnya itu untuk tempat beri'tikaf dari tikar. Hanya saja dibolehkan hal ini jika tidak mengganggu orang ramai. Dan hendaklah dibuatnya di bahagian belakang agar tidak mengganggu orang lain.

Syarat-syarat sah i'tikaf

Disyaratkan supaya yang beri'tikaf itu seorang muslim, telah mumaiyiz, suci dari janabah, haidh dan nifas. Karena itu tidak sah i'tikaf orang kafir, anak kecil yang belum mumaiyiz, orang yang berjunub, berhaidh dan bernifas.

Hukum-hukum I'tikaf

Hakikat i'tikaf, ialah berhenti dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Maka jika berdiam itu bukan dalam mesjid, atau tidak diniatkan, maka tiadalah menjadi i'tikaf.

I'tikaf itu harus dilakukan dalam mesjid, karena Tuhan mengatakan:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي المَسَاجِدِ 

"Dan janganlah kamu menyetubuhi isterimu, sedangkan kamu lagi ber I'tikaf dalam mesjid." (ayat 187; S 2; Al Baqarah).

Andaikata sah i'tikaf di bukan mesjid tentulah tak ada artinya Tuhan mengharamkan mubasyarah bagi manusia yang sedang beri'tikaf di dalam mesjid. Maka dengan demikian dapatlah kita pahami, bahwa i'tikaf itu dipandang sah jika dalam mesjid.

Tempat I'tikaf

Para Ulama berselisih tentang mesjid yang sah kita beri'tikaf dalamnya. 

Abu Hanifah, Ahmad, Ishak dan Abi Tsaur berpendapat, bahwa sah i'tikaf di segala mesjid yang dilakukan padanya shalat yang lima dan didirikan padanya jama'ah. Abu Yusuf menentukan tempat yang demikian itu untuk i'tikaf wajib saja. Malik, Asy Syafi'i dan Daud berpendapat, bahwa sah I'tikaf di segala mesjid. Tidak ada keterangan yang menerangkan di dalam sebahagian mesjid saja.

Ulama Syafi'iyah berkata: "Yang lebih utama i'tikaf itu dilakukan dalam mesjid jami', karena Rasulullah beri'tikaf dalam mesjid jami dan karena jama'ah di mesjid jami' lebih banyak pengikutnya. Dan janganlah seseorang beri'tikaf di bukan mesjid jami, kalau waktu i'tikaf itu diselangi oleh shalat jum'at, supaya jangan luput jum'at itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dari Sa'id ibn Musaiyab bahwa beliau itu tidak mensahkan i'tikaf kecuali di mesjid Nabi SAW. sendiri.

Diriwayatkan dari Huzaifah pula, bahwa tiada sah i'tikaf, melainkan di tiga mesjid saja al Masjidil Haram, Masjid Madi- nah dan al Masjidil Aqsha.

Kata A: Zuhri, Al Hakam dan Hammad: "Tiada sah I'tikaf melainkan di mesjid jami'.

Muhammad ibn Amir ibn Lubabah al Maliki membolehkan kita beri'tikaf di segala tempat.

Demikianlah keadaan i'tikaf seorang lelaki.

Adapun i'tikaf wanita, maka menurut pendapat Malik, Ahmad dan Daud tidak sah melainkan di dalam mesjid. Pendapat yang sahih dalam mazhab Asy Syafi'y demikian juga.

Kata Abu Hanifah Sah wanita i'tikaf di mesjid rumahnya.

Ringkasnya, tempat melakukan I'tikaf, ialah setiap mesjid di mana saja yang ada didirikan jum'at atau jama'ah, baik lelaki maupun perempuan.

Pernah 'Aisyah bernadzar i'tikaf di dalam lembah Tsabit dekat Mina. Mungkin inilah yang dijadikan dasar oleh mereka yang membuat gubuk-gubuk khilwat di mesjid. Tetapi 'Aisyah berbuat begitu, adalah karena beliau bernadzar.

Demikian menurut Mazhab Asy Syafi'i, sebagai yang telah ditegaskan. Dan beliau hanya menyukai saja orang-orang yang lazim atasnya jum'at beri'tikaf dalam mesjid jami'.

Puasa orang yang beri'tikaf

Berselisih pendapat para Ulama tentang apakah disyari'at- kan puasa untuk beri'tikaf, atau tidak.

Kata Al Khaththabi: "Para Ulama berselisihan dalam soal ini.

Kata Al Hasanul Bisri: "Jika ia beri'tikaf dengan tidak berpuasa, sah i'tikafnya."

Pendapat inilah yang dipegang Asy Syafi'i dan pendapat ini diriwayatkan dari Ali dan ibn Mas'ud, yakni boleh berpuasa dan boleh tidak berpuasa.

Kata Al Auza'i dan Malik: "Tidak sah i'tikaf kalau tidak beserta puasa." Pendapat ini adalah pendapat ahlur Ra'yi dan itulah pendapat Sa'id ibn Musaiyab 'Urwah ibn Zubair dan Az Zuhri; dan diriwayatkan pula yang demikian dari Umar dan Ibn Abbas.

Menetapkan tempat yang tertentu di dalam mesjid dan mendirikan kemah.

Diriwayatkan oleh ibnu Majah dari Umar bahwasanya Rasulullah beri'tikaf pada sepuluh yang akhir dari bulan Ramadlan. Kata Nafi': "Abdullah telah memperlihatkan kepadaku tempat Nabi beri'tikaf."

Diriwayatkan dari pada Nabi SAW. bahwa apabila beliau beri'tikaf, beliau bentangkan tikar atau diletakkan untuknya tempat tidur di belakang tiang taubat (tiang tempat seorang Shahabat yang mengikat dirinya sehingga Allah menerima taubatnya).

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri bahwa Nabi beri'tikaf dalam Qubah Turki yang di pintunya digantung sehelai tikar. ini. Inilah asal-usul membuat rumah (gubuk) khilwat sekarang

Nadzar i'tikaf di sesuatu mesjid yang tertentu

Barangsiapa bernadzar i'tikaf di Mesjid Haram atau di Mesjid Nabi atau di Mesjid Aqsha, wajiblah ia menunaikannya itu di mesjid yang ditentukannya. Adapun jika bernadzar beri'tikaf di mesjid yang lain dari ini, tidaklah wajib ia penuhi, boleh ia beri'tikaf di mesjid mana saja, dan jika ia bernadzar l'tikaf di mesjid Nabi, boleh dia beri'tikaf di mesjid Haram.

Qadha i'tikaf

Apabila seorang masuk ke dalam i'tikaf sunat kemudian ia putuskan, maka disukai mengqadhanya. Sebahagian ulama malah mewajibkan mengqadhanya.

Kata At Turmudzi: "Berselisih ahli ilmu tentang memotong I'tikaf sebelum sempurna sebagai yang diniatkan. Menurut pendapat Malik di qadha. Menurut pendapat Asy Syafi'i tidak wajib kecuali i'tikaf nadzar."

Orang yang bernadzar beri'tikaf sehari, umpamanya sesudah masuk ke dalam "itikaf, ia rusakkan, wajiblah diqad lai bila ia sanggup. Hal ini disepakati para Imam. Jika ia mati sebelum diqadla, tidaklah dilakukan i'tikaf itu oleh orang lain buat gantinya. Menurut pendapat Ahmad, wajib diqadlanya oleh walinya. Diriwayatkan oleh Sa'id ibn Mansur, bahwasanya 'Aisyah pernah beri'tikaf untuk menggantikan seorang saudaranya yang telah meninggal. 

Hal-hal yang disukai dan yang dimakruhkan bagi orang sedang i'tikaf

Disukai bagi mu'takif membanyakkan ibadat-ibadat sunat, menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al Qur-an, tasbih, tahmid, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW. dan amalan-amalan yang lain yang menambah ta'at dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Masuk ke dalam golongan ini mempelajari ilmu, membaca kitab-kitab tafsir dan hadits, sejarah Nabi-nabi dan orang-orang shalih, serta membaca buku-buku Fikh dan agama.

Dan disukai baginya membuat perkemahan kecil dalam mesjid meneladani Nabi SAW.

Dimakruhkan bagi mu'takif membimbangkan diri dengan- yang tidak berguna, baik perkataan maupun perbuatan. Dan dimakruhkan baginya menahan diri dari berbicara karena menyangka bahwa yang demikian itu mendekatkan diri kepada Allah.

Dibolehkan bagi mu'takif, keluar dari tempat i'tikafnya untuk mengantar keluarganya. Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Abu Daud dan Ibn Majah dari ibn Abbas, katanya :

بَيْنَمَا النَّبِيُّ ، يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَائِمٍ فَسَأَلَ عَنْهُ فَقَالُوا أَبُوْ إِسْرَائِيلَ نَذَرَ أَنْ يَقُوْمَ وَلَا يَقْعُدَ وَلَا يَسْتَظِلَّ وَلَا يَتَكَلَّمَ وَيَصُوْمَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ مُرْهُ وَيَتَكَلَّمَ والْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ

"Selagi Nabi pada suatu hari sedang berkhotbah, tiba-tiba beliau meli- hat seorang lelaki yang sedang berdiri, lalu beliau bertanya tentang orang itu. Para shahabat menjawab: "Abu Israil, dia bernazdar berdiri tanpa naungan dengan tidak berbicara, dan dia berpuasa " Maka Nabi- pun bersabda: "Suruhlah ia berbicara, bernaung, duduk, serta me- nyampurnakan puasanya."

Hal-hal yang membolehkan bagi mu'takif

Kata Shafiyah : Adalah Rasulullah SAW. beri'tikaf, lalu aku datang menzairahinya pada malam hari serta aku berbicara dengan beliau. Kemudian aku bangun untuk pulang, maka Nabipun bangun mengantarkan aku. Dan adalah tempat diam- ku di rumah Usamah bin Zaid. Maka berlalulah dua orang lelaki dari Anshar. Ketika mereka melihat Nabi merekapun bercepat- cepat. Melihat itu Nabipun berkata: Pelan-pelanlah kamu, bahwa wanita ini Shafiyah binti Huyai. Mendengar itu mereka berkata: Subhanallah, ya, Rasulullah. Bersabda Nabi: "Syetan mengalir dalam tubuh manusia di tempat pengaliran darah, maka aku takut dia lemparkan ke dalam jiwamu sesuatu persangkaan yang jelek." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Dibolehkan bagi mu'takif menyisir rambutnya, atau mencukur, menggunting rambutnya, memotong kuku, membersihkan badan dari kotoran, memakai pakaian yang baik dan berwangi-wangian.

Berkata 'Aisyah: "Adalah Rasulullah SAW. beri'tikaf dalam mesjid. Maka beliau menonjolkan kepalanya dari celahan bilik, lalu kubasuh kepalanya dan kusisir rambutnya; sedang aku lagi berhaidl." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Kata 'Aisyah:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّالِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

"Adalah Rasulullah SAW. apabila beri'tikaf, mendekatkan kepalanya, kepadaku, lalu aku sisir rambutnya Dan beliau tidak masuk rumah melainkan untuk keperluan hajat besar atau hajar kecil" (HR. Bukhary, Muslim dan lain-lain)

Kata Ibn Mundzir: "Sepakat ulama menetapkan bahwa si mu'takif boleh keluar dari tempat i'tikafnya untuk buang air karena yang demikian itu tidak dapat dilakukan dalam mesjid." Semakna dengan demikian, keluar untuk keperluan makan dan minum, apabila tidak ada yang membawanya ke dalam mesjid. Jika ia muntah, boleh ia keluar untuk muntah di luar mesjid. 

Tiap-tiap yang tidak boleh dilakukan dalam mesjid, padahal perlu untuk dilakukan, boleh dia keluar dari mesjid; tidak rusak f'tikafnya, asal tidak terlalu lama. Diserupakan dengan demikian, keluar untuk mandi, membersihkan pakaian dan badan dari najis.

Diriwayatkan oleh Sa'id ibn Mansur, bahwasanya Ali ibn Abi Thalib berkata:

  إِذَا اِعْتَكَفَ الرَّجُلُ فلْيَشْهَدِ الجُمُعَةَ وَالْيَحْظُرِ الجَنَازَةَ وَالْيَعُدِ الْمَرِيضَ وَالْيَأْتِ أَهْلَهُ يَأْمُرُهُمْ لِحَاجَتِهِ وَهُوُ قَائِمٌ 

"Apabila seseorang beri'tikaf, maka hendaklah dia menghadiri jum'at, menghadiri jenazah, mengunjungi orang sakit, kembali kerumah untuk minta sesuatu, dengan tidak duduk."

Qatadah berkata: "Dibolehkan bagi mu'takif menghantar jenazah, mengunjungi orang sakit dengan tidak duduk di tempat si sakit."

Kata Ibrahim An Nakha-i "Para Shahabat menyukai bagi para mu'takif mensyaratkan hal-hal ini, dan hal-hal itu sebenamya boleh dilakukan walaupun tidak disyaratkan, yaitu: mengunjungi orang sakit, tapi jangan masuk ke dalam/ke bawah atap (loteng), mendatangi jum'at, menghadiri jenazah dan keluar buat buang air. Dan janganlah ia masuk ke sesuatu naungan, kalau tidak ada keperluan."

Kata Al Khaththabi: "Segolongan Ulama membolehkan para mu'takif menghadiri jum'at, menghadiri orang sakit, mengha- diri jenazah. Yang demikian ini diriwayatkan dari Ali. Itulah pendapat Sa'id Ibn Jubir, Al Hasan Al Bisri dan An Nakha'i.

Ada diriwayatkan oleh Abu Daud dari 'Aisyah, bahwasanya Rasulullah melalui orang sakit, sedang beliau lagi beri'tikaf, maka beliau melalui dengan tidak bertanya tentang halnya. Perkataan 'Aisyah bahwa menurut sunnah, tidak boleh si mu'takif mengunjungi orang sakit, maka maknanya tidak boleh keluar dari tempat i'tikafnya sengaja untuk mengunjungi orang sakit, tetapi boleh keluar, bertanya, tanpa duduk.

Dan dibolehkan bagi mu'takif makan dan minum dalam mesjid serta tidur di dalamnya dengan memelihara kebersihan, sebagaimana dibolehkan baginya melakukan akad, seperti akad nikah, akad jual beli dan lain-lain.

Kemudian hendaklah diketahui pula, bahwa bagi orang yang mengerjakan i'tikaf itu (mu'takif), dibolehkan dia melakukan di dalam mesjid segala pekerjaan yang mubah (yang dibolehkan), seperti: bercakap-cakap, menjahit, makan, minum, dan lain sebagainya yang tidak mengganggu kawan mu'takif yang lain dan tidak membawa kepada kotornya mesjid. Karena hakikat I'tikaf, ialah duduk, atau berdiri dalam mesjid.

Referensi: Buku Pedoman Puasa