Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jejak Ilmuwan Dalam Peradaban Islam

Ilmuwan Islam
Komunitas ilmiah dalam peradaban islam memenuhi seluruh penjuru dunia. Adapun mengenai sikap para ilmuwan dalam peradaban Islam yang menghindarkan diri dari perkara-perkara kecil dan menjauhkan diri dari harta, ini merupakan suatu teladan yang dapat dipresentasikan. Dalam hal ini dapat kita telusuri kisah Al-Hasan bin Al-Haitsam bersama walikotanya, yang menyerahkan upah pengajarannya kepadanya. Akan tetapi Al-Hasan bin Al-Haitsam menolak harta tersebut dengan perkataannya yang populer dan menggentarkan, "Ambillah harta-bendamu seluruhnya, karena kamu lebih membutuhkannya dibandingkan aku. Ketika suatu hari nanti kamu kembali pada kerajaan dan tempat kelahiranmu. Dan ketahuilah bahwa tidak ada upah dalam menulis karya, tidak pula suap, dan tidak pula hadiah dalam menegakkan kebaikan."

Padahal dalam sejarah tercatat bahwa Al-Hasan bin Al-Haitsam tidak makan kecuali dari hasil keringatnya sendiri. Dalam hidupnya, ia hidup dari penjualan buku-buku ilmiah yang ditranskipnya. Hal yang sama juga dilakukan Abu Ar-Raihan Al-Bairuni ketika menolak hadiah Sang Sultan atas sebuah buku karyanya. Dengan alasan bahwa ia mengabdikan hidupnya demi ilmu pengetahuan dan bukan harta.

Begitu juga dengan sikap Al-Kindi, yang meyakini bahwa pengetahuan tidak terbatas, dan menyatakan bahwa orang yang berilmu adalah mereka yang meyakini bahwa di atas ilmunya terdapat ilmu lainnya. Dengan keyakinannya itu, maka ia senantiasa bersikap rendah hati dengan tambahan ilmu pengetahuannya. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang meyakini bahwa ilmu dan pengetahuannya telah mencapai tingkat tertinggi sehingga jiwanya menjadi berontak karenanya. la juga meyakini bahwa kebenaran tidak bisa dibeli dan tidak merendahkan orang mereka yang mencarinya sama sekali. Karena seseorang tidak akan malu mengakui dan mendalaminya dari mana pun sumbernya yang datang kepada kita.

Para ilmuwan berkeyakinan bahwa tugas dan tanggungjawab ilmiah mereka adalah dalam konteks prinsip-prinsip Islam dan ajaran-ajarannya yang mulia. Inilah Ibnu An-Nafis yang bertekad mempersembahkan ensiklopedinya dalam bidang kedokteran yang dalam perhitungannya mencapai tiga ratus juz. Akan tetapi kematian telah mendahuluinya, sehingga ia tidak berhasil mempersembahkannya kecuali delapan puluh juz saja.

Para tabib dan ilmuwan membuat resep dan menyarankannya agar meminum An-Nabidz atau jus anggur ketika menderita sakit. Akan tetapi ia menolak mengkonsumsinya karena takut jika harus berhadapan dengan Allah sedangkan dalam tubuhnya terkandung minuman keras.Inilah Abu Abdullah Al-Qazwaini, yang nasabnya sampai pada Anas bin Malik. Abu Abdullah Al-Qazwaini sangat mencintai ilmu Astronomi, Fisika, Taksonomi atau ilmu tentang tumbuh-tumbuhan, Biologi, dan Geologi. la juga mempercayai seruan dakwah Al-Qur' an, yang menyerukan kepada umatnya untuk memperhatikan kerajaan-kerajaan langit dan bumi demi mendapatkan petunjuk dan keyakinan yang kuat. Untuk itu, ia mencatat segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya, dan kesimpulan akal dan pemikirannya terhadap hukum-hukum dan aturan yang mengagumkan serta fenomena-fenomena aneh karena khawatir akan hilang atau tercerai-berai.

Mereka yang mempersembahkan hidupnya dalam menekuni ilmu pengetahuan menyarankan agar kita tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu dan hendaknya memastikan kebenarannya. Salah seorang di antara mereka berkata, "Janganlah kamu keliru atau tersesat. Jika tidak mendapatkan kebenaran dalam satu kali atau dua kali, maka bisa jadi karena tidak terpenuhinya kriteria-kriterianya atau adanya sesuatu yang menghalanginya.

Jika kamu melihat besi magnet tidak dapat menarik besi, maka janganlah kamu mengingkari spesifikasinya dan curahkan segenap perhatiannya untuk meneliti hal-hal yang melingkupinya hingga kamu mengetahui rahasianya dengan jelas."

Perhatian ilmuwan muslim juga terfokus pada agama mereka yang suci; Mereka memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai pengabdian untuk menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan, memudahkan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, ibadah, dan manasik haji, mengembangkan metode silogisme dan hisab untuk menentukan arah kiblat, memastikan awal-awal bulan dan posisi planet, mengetahui waktu- waktu shalat, haji, perhitungan harta warisan, wasiat-wasiat, muamalah, dan lainnya.

Mereka menelurkan banyak karya ilmiah dalam masalah- masalah tersebut, baik berupa buku-buku maupun artikel yang banyak dimanfaatkan umat Islam. Para ilmuwan muslim tidak pernah meninggalkan suatu kesempatan pun dalam karya-karya tulis mereka yang beragam kecuali memperlihatkan keagungan Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya. Mereka juga senantiasa mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk mengungkap rahasia-rahasia Al-Qur'an, menjelaskan ayat-ayatnya tanpa diselimuti fanatisme dan pengingkaran.

Misalnya, kita dapat memilih naskah dari Al-Atsar Al-Baqiyyah min Al-Qurun Al-Khaliyyah, yang ditulis oleh Al-Bairuni pada permulaan abad kesebelas Masehi. Dalam buku tersebut, Al-Bairuni mengemukakan hakikat bulan-bulan dan tahun serta menjelaskan kisah An-Nasi dalam firman Allah dalam surat At-Taubah, "Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."

Al-Bairuni memulainya dengan mendefiniskan pengertian tahun, yaitu, "Kembalinya matahari dalam orbit gugusan bintang-bintang jika bergerak tidak sesuai atau berlawanan (memutar) dengan gerakan semua benda langit ke titik manapun permulaan geraknya.

Dengan demikian, terpenuhilah empat musim yang kita kenal yaitu musim semi, musim panas, musim dan berakhir di mana ia dimulai. an8n3 dan musim dingin, dan mengandung empat sifatnya Pada periode ini, maksud saya, adalah kembalinya matahari dalam orbit gugusan bintang-bintang, maka rembulan mencapai dua belas putaran dan kurang setengah putaran, serta muncul sebanyak dua belas kali. Kemudian periode tersebut, maksud saya, kembalinya rembulan dengan memenuhi dua belas kali putaran pada orbit gugusan bintang-bintang dalam tahun rembulan dalam terminologi dan menggugurkan kekurangan dimana kurang lebih sebanyak sebelas hari, hingga akhirnya masyarakat mengenal tahun terbagi dalam dua jenis: tahun Syamsiyyah atau tahun matahari (Kalender Solar) dan tahun Qamaryyah atau tahun rembulan (Kalender Lunar) Kemudian Al-Bairuni menjelaskan metode perhitungan bulan dan tahun bangsa Romawi, Suryani, Kaldania, Mesir Kuno, dan Persia. Lalu ia mengatakan,"" Adapun bangsa Ibrani, Yahudi, semua Bani Israel, Kaum Saba', dan Haran, maka mereka menggunakan dua pendapat: Mereka menghitung tahunnya berdasarkan perputaran matahari sedangkan bulan- bulannya berdasarkan perputaran bulan. Hal itu mereka lakukan demi menjaga hari-hari perputaran bulan. Dengan demikian, maka bulan-bulan mereka tetap menjaga waktu-waktunya dalam setahun. Mereka pun mengakhirkan setiap sembilan belas tahun Bulan (kalender lunar) sebanyak tujuh belas bulan (tambahan sebanyak tujuh belas bulan pada kalender matahari, penerjemah). Perhitungan mereka ini diikuti oleh kaum Kristen. Sebab urusan mereka hari raya dan puasa mereka tetap berdasarkan perhitungan banyak mengikuti tradisi kaum Yahudi.

Akan tetapi kaum Kristen ini sedikit berbeda dengan mereka dalam penggunaan bulan-bulan. Dalam hal ini, kaum Kristen mengikuti pola perhitungan kalender Romawi dan Suryani. Begitu juga dengan bangsa Arab pada masa Jahiliyah; mereka melihat perbedaan waktu antara perhitungan tahun mereka dan tahun matahari yaitu kurang lebih sepuluh hari, dua puluh satu jam, 12 menit.

Karena itu, mereka menambahkan satu bulan penuh padanya setiap tahun. Akan tetapi mereka menyatakan bahwa tambahan tersebut sebanyak sepuluh hari dan dua puluh jam. Tambahan tersebut mereka pelajari dari Kinanah. Hanya saja mereka mengakhirkan sembilan bulan setiap dua puluh empat tahun lunar.

Dengan demikian, maka bulan-bulan dalam perhitungan tahun mereka tetap berjalan dalam satu rel dan tidak terlambat dari waktunya atau maju hingga Rasulullah menunaikan ibadah haji wada' dan diturunkannya firman Allah, "Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran "hingga akhir ayat 37 dari surat At-Taubah.

Setelah itu, Rasulullah menyampaikan .ceramahnya, dengan mengatakan, "Sesungguhnya ma ite teras berputar seperti semula ketika Allah menciptakan beberapo langit dan hum Setelah itu beliau membacakan ayat yang menjelaskan tentang pengharaman An Nasi, yaitu penundaan atau pengunduran bulan haram. Inilah Al-Kahsa, atau himpitan. 

Ketika itulah mereka mengundurkannya Bulan-bulan mereka menjadi hilang atau terhapuskan sehingga nama namanya tidak menunjukkan pengertiannya. Maksudnya, bulan Ar-Rabi atau musim semi, terjadi pada musim semi dan Ramadhan terjadi pada musim panas. Kemudian bulan-bulan hijriyah terjadi pada selain musim- musim tersebut, yang tidak jatuh pada musim-musim yang ditunjukkan dengan nama-nama tersebut. 

Bangsa Arab pada masa Jahiliyah ingin menunaikan ibadah haji pada waktu mereka mendapatkan komoditi mereka dan hendaknya hal itu terjadi pada satu posisi dan waktu terbaik, serta kondisi alam paling subur. Karena itu, mereka belajar menunda atau mengundurkan bulan haram ini dari kaum Yahudi yang berdampingan dengan mereka. Dan mereka menamainya An-Nasi". Sebab mereka mengakhirkan atau menunda permulaan tahun setiap dua tahun atau tiga puluh bulan berdasarkan kemajuan dan pengundurannya. Kemudian datanglah Islam dan mengharamkan pengunduran bulan haram ini, serta menentukan bulan dalam setahun dalam jumlah dua belas. Dan tiada suatu bangsa pun yang berbeda dengan bangsa lain berkaitan dengan tahun kabisat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah, "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (schagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kmu semuanya. Dan ketahuilah balua Allah beserta orang-orang yang takwa." (At-Taubah: 36)

Karakter utama yang membedakan antara ilmuwan dalam kejayaan peradaban Islam adalah bahwasanya mereka beRupaya menjaga kejujuran dalam menulis dan bertanggungjawab dalam melakukan pengutipan. Sikap dan kebjakan ini tentunya sangat berbeda dengan situasi dan kondisi yang berkembang pada generasi para ilmuwan dalam periode kebangkitan Eropa. 

Tanggungjawab ilmiah para imuwan Arab-muslim tersebut tercermin dalam pemyataan Ibnul Al-Haitsam, "Jika Anda mendapati pernyataan baik dari orang lain, maka janganlah Anda menisbatkannya pada diri sendiri dan cukuplah bagi Anda memanfaatkannya saja. Sebab anak itu dinisbatkan kepada orang tuanya dan pendapat itu dinisbatkan kepada orang yang melontarkannya. 

Ibnul Haitsam mencapai kesimpulan dalam sebuah permasalahan yang belum pernah dicapai seorang pun sebelumnya, maka a berkata dengan penuh kerendahan, "Dan kami tidak mendapati ilmuwan Alasik maupun kontemporer yang menjelaskan pengertian ini. Dan kami juga tidak mampu menemukannya dalam buku-buku."

Begitu juga dengan Al-Bairuni, yang menisbatkan teori-teori teknik kepada penemunya. Adapun pemikiran-pemikirannya sendiri, maka ia mengemukakannya dalam kedudukannya sebagai inspirasi yang dititiskan kepadanya atau hujah yang terlintas pada pemikirannya. Apabila salah seorang di antara mereka melakukan sebuah kesalahan, maka ia tidak segan-segan mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf. 

Di samping itu, Al-Hasan bin Al-Haitsam tidak segan-segan mengakui kesalahan dan kegagalannya dalam merealisasikan ide dan pemikiranya yang telah dijanjikannya kepada Al-Hakim Biamrillah Al-Fathimi meskipun la terkenal sebagai orang yang memiliki reputasi luar biasa. Hal itu terjadi ketika ia menyatakan, "Kalaulah aku di Mesir, maka tentulah aku akan melakukan suatu kreativitas yang bermanfaat bagi siapa pun dan kapanpun." Kemudian ia meminta maaf kepada Al-Hakim Biamrillah Al-Fathimi atas kesalahannya: karena ide dan pemikiran geometris yang empat terlintas dalam benaknya menyimpang dari realita.

Beginilah etika para ilmuwan dan kepribadian mereka pada mana kejayaan peradaban Islam. Sehingga wajarlah jika kemudian kita mendengar bahwa para pemimpin dan khalifah berlomba-lomba menarik perhatian para ilmuwan dan memperbanyak jumlah dan kehadiran mereka dalam ruang-ruang pertemuan. Hal itu mereka lakukan karena para ilmuwan tersebut memiliki kedudukan sosial yang tinggi. 

Dalam kesempatan ini, kami dapat mengemukakan kisah khalifah Bani Abbasiyah bernama Al-Mu'tadhid Billah, ketika bersandar pada pundak Al-Allamah Tsabit bin Qurrah, ketika berbincang-bincang dengannya di taman istana. Ketika Al-Mu'tadhid menyadari hal itu secara tiba-tiba, maka ta menarik tangannya dengan cepat seraya meminta maaf, "Wahai Abu Al-Hasan, aku terlupa sehingga kuletakkan tanganku pada pundakmu. Padahal tidak seharusnya hal itu terjadi. Karena sesungguhnya para ilmuwan itu tinggi dan tiada yang lebih tinggi darinya." 

Dari gambaran yang kompleks mengenai roman-roman kepribadian yang menjadi karakter utama ilmuwan dalam peradaban Islam ilmiah ini, maka jelas dan layaklah jika mereka kemudian memiliki kedudukan ilmiah dan sosial. 

Pujian yang dilontarkan terhadap mereka oleh para sejarawan ilmu pengetahuan dan peradaban tidak berdampak kecuali semakin membuat para pakar sejarah itu kagum terhadap tokoh-tokoh yang kehidupannya bagaikan legenda, karya-karya mereka penuh dengan berbagai inovasi dan teori, menikmati waktu untuk memperdalam ilmu pengetahuan, dan dalam mengungkap kebenaran serta mencarinya melalui berbagai riset dan studi ilmiah yang benar. 

Seluruh pakar sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban hampir berbagai riset dan studi ilmiah bersepakat bahwa kalaulah bukan karena persembahan para ilmuwan dalam peradaban Islam, maka tentulah perjalanan peradaban umat manusia akan terhenti atau mundur beberapa abad lamanya. 

Dan tentunya para ilmuwan dalam kebangkitan peradaban Eropa terpaksa memulai kerja mereka sebagaimana para ilmuwan Arab yang melestarikan warisan ilmiah dan kemudian menumbuhkan dan mengembangkannya, hingga mereka mampu berinovasi dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan seni dan menggunakan metode ilmiah yang benar, sehingga para ilmuwan Eropa dapat mentransformasikannya. 

Akan tetapi sebagian besar orisinalitas pendapat dan inovasi ilmiah mereka dinisbatkan secara zhalim kepada orang lain meskipun kemudian sejarah mengakui legalitas sebagian hak-hak mereka karena obyektifitas mereka. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Ibnu An-Nafis dalam penemuan-penemuannya tentang teori sirkulasi darah, Ibnu Al-Haitsam yang merumuskan dasar-dasar ilmu optic, Al-Khawarizmi dan Umar Al-Khayyam dalam merumuskan beberapa teori matematika, Al-Bairuni, Ibnu Sina, dan Al-Hamdani, dalam menemukan prinsip-prinsip hukum mekanika klasik. 

Dari realita ini, kita harus membangunkan dan menyadarkan para ilmuwan Arab-Islam dalam semua spesialisasinya agar mampu membangkitkan studi dan penelitian secara disiplin dalam warisan peradaban Islam serta memperlihatkan peran dan kontribusi nenek moyang mereka demi memajukan roda peradaban dan mempersiapkan akal-pemikiran untuk berpikir ilmiah kontemporer. Sesungguhnya tanggungjawab ilmiah mengharuskan kita menata ulang perjalanan sejarah ilmu pengetahuan dan tidak senantiasa menjadi mangsa empuk bagi buku-buku asing, yang berusaha menghancurkan sendi-sendi peradaban Islam yang maju. penulis sendiri pernah membaca sebuah buku yang baru terbit beberapa waktu yang lalu berjudul Al-Fiziy', yang ditulis dua Guru Besar di sebuah universitas di Eropa yang intinya menyatakan, "Pada awalnya, Archimedes merupakan ilmuwan jenius dalam bidang matematika dan ilmiah yang tiada bandingnya hingga muncullah Sir Isaac Newton di kemudian hari setelah dua ribu tahun dari kematiannya. 

Beginilah kedua penulis ini memperkenalkan kepada pembaca seorang simuwan asal Yunani bernama Archimedes dan ilmuwan Inggris Sir Isaac Newton. Saya tidak memahami, bagaimana kedua penulis terkemuka ini mengabaikan peran peradaban Islam dalam menjembatani dunia peradaban klasik dengan peradaban kontemporer. Bagaimana nama-nama para ilmuwan muslim seperti Al-Khawarizmi, Al-Bainani, Al-Khazin, Tsabit bin Qurrah, Bani Musa bin Syakir, dan Abu AI Wata Al-Buzajani, serta lainnya terhapus dari ingatan kedua profesor ini. 

Sungguh penulis bingung dengan hak para ilmuwan yang berkontribusi dalam memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan studi dan penelitian mereka guna mencapai kebenaran dan ketelitian ilmiah serta mengajarkannya kepada generasi berikutnya Seorang orientalis berkebangsaan Jerman bernama Zigred Hunke, yang membantah pemyataan para ilmuwan yang berupaya menghapuskan peran dan kontribusi bangsa Arab dan Islam dalam memajukan pengetahuan manusia dengan mengatakan, "Sungguh kami telah membaca sembilan puluh delapan dari seratus buku, akan tetapi kami tidak mendapatkan tulisan yang menyatakan keutamaan bangsa Arab dan ilmu pengetahuan yang telah mereka bangun. 

Sungguh sikap semacam itu merupakan penghinaan jika para pakar dan ilmuwan Eropa itu mengetahui bahwa bangsa Arab merupakan pioner kebangkitan peradaban manusia yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya, dan bahwasanya kebangkitan ini melampaui atau mengungguli peninggalan bangsa Yunani ataupun Romawi. Akan tetapi mereka tidak mengakuinya. Sesungguhnya pandangan bangsa Eropa ini membuktikan sempitnya pandangan dan cakrawala pengetahuan bangsa Barat dan ketakutan mereka dalam mengungkapkan fakta dan realita kebenaran serta mengakui keutamaan bangsa Arab dalam mengubah wajah dunia yang kita hidup di dalamnya seperti sekarang ini. 

Tepatnya, ketika mereka (bangsa Arab) mempersempahkan ilmu pengetahuan, seni, sastra, dan peradaban selama delapan abad lamanya kepada dunia. Dalam menanggapi komentar ini, kami menambahkan sejumlah pertanyaan mengenai sejauhmana kebutuhan kita bangsa Arab dan umat Islam pada masa ilmu dan teknologi seperti sekarang ini untuk meneladani nenek moyang kita sebagai mercusuar peradaban, hingga setelah mereka meninggalkan kita lebih dari seri tahun yang lalu? 

Sumber:
Buku Sumbangan Keilmuan Islam Pada Dunia Oleh Ahmad Fuad Basya