Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Biografi Imam An-Nawawi

Biografi Imam An-Nawawi
Segala puji bagi AllahShawalat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, juga kepada segenap keluarga dan sahabat beliau. Wa ba'du. 

Sudah selayaknya bila kita mengemukakan biografi singkat Imam Nawawi ke hadapan para pembaca semuanya. Beliau adalah Imam yang hafizh dan hujah, Yahya bin Syaraf bin Mizzi bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam'ah bin Haram An-Nawawi. 

Imam Nawawi Lahir pada awal Muharam 631 H. di Nawa, salah satu kota di Damaskus. Indah sekali syair berikut ini: 

Duhai Nawa, semoga dikau dibalas kebaikan 
Dan dijaga dari segala bencana 
Padamu telah berlalu seorang ulama 
yang mengikhlaskan niat untuk-Nya.

Baca juga:

Beliau adalah teladan dalam ketekunan menuntut ilmu pada masa kecil. Anak-anak sebayanya biasa memaksanya ikut bermain bersama mereka, sedangkan ia menghindari mereka karena hasratnya untuk menghafal Qur'an dan belajar. Ayahandanya pernah menyuruhnya berjualan di toko, tetapi ia sibuk belajar sehingga tidak mempedulikan dagangan. Acap kali, datang seseorang yang ingin membeli, tetapi ia justru berkata, "Pergilah, semoga Allah memberkati kami dan Anda !" 

Ayah dari Imam Nawawi mengatakan bahwa beliau pernah datang kepada guru yang mengajarkan Qur'an kepada Imam An-Nawawi. Kemudian menyampaikan pesan kepada Imam Nawawi. la tersenyum seraya berkata: “Ta bisa diharapkan menjadi ulama paling ahli dan paling zuhud di zamannya. Sungguh layak kiranya kaum muslimin mendapatkan manfaat dari ilmunya.”

"Apakah Anda seorang peramal ? " ayahnya bertanya.” 
Bukan, tetapi Allah telah menjadikanku mengatakan begitu, " jawabnya. 
Setelah hafal Qur'an, beliau pergi ke Damaskus untuk menuntut ilmu. 

Beliau berkata: “Ketika saya berusia sembilan belas tahun, pada tahun 649 H., ayah mengirimku ke Damaskus. Saya tinggal di Madrasah Rawahah. Saya tinggal selama kurang lebih dua tahun tanpa pernah membaringkan rusuk di atas permukaan tanah. Selama itu saya berkonsentrasi mempelajari kurikulum madrasah, tanpa mempelajari lainnya. Saya hafal At-Tanbih kurang lebih selama empat bulan, kemudian hafal pasal Ibadah dalam Al-Muhadzab selama enam bulan.” 

"Saya mulai mensyarah dan mentashih kitab tersebut di hadapan Syaikh kami, Kamal -Ishaq Al-Maghribi-. Saya bermulazamah kepada beliau. 

QIRAAH DAN BELAJAR BELIAU 

'Alaudin bin 'Athar menuturkan: “Syaikh pernah bercerita kepadaku bahwa beliau dulu setiap hari membaca du a belas pelajaran di hadapan para Syaikh, baik merupakan syarah maupun tashih. Dua pelajaran mengenai Al Wasath, satu pelajaran mengenai Al-Muhadzab, yang keempat mengenai memadukan antara Shahih Bukhari dan Muslim, satu pelajaran mengenai Shahih Muslim dengan syarahnya, pelajaran keenam mengenai Al-Luma', sebuah kitab Nahwu karya Ibnu Jini, ketujuh mengenai Ishlahul Mantiq, sebuah kitab bahasa Arab karya Ibnus Sikit, kedelapan mengenai Tashrif, kesembilan mengenai ushul fikih, kadah-kadang menggunakan kitab Al-Luma' karya Abi Ishaq dan kadang-kadang menggunakan Al-Muntakhab, karya Fakhrur Razi, satu pelajaran mengenai nama-nama para perawi, dan pelajaran kedua belas mengenai ushuludin. 

Beliau mengatakan: "Saya mengomentari kitab tersebut dengan berbagai hal yang berkaitan, kadang berupa penjelasan hal yang sukar dimengerti, keterangan bahasa, atau koreksi bahasa. Allah telah memberikan berkah dengan memberkati waktu dan kesibukanku serta menolongku di dalamnya. Pernah terlintas dalam hatiku untuk mempelajari ilmu kedokteran. Saya pun membeli kitab Al-Qanun. Saya bertekad menekuni bidang ini, tetapi saya merasakan adanya kegelapan di hati. Beberapa hari saya berdiam tanpa bisa melakukan aktivitas apapun. Saya lantas berfikir, dari mana perasaan gelap semacam ini merasuk ke dalam hati. Allah mengilhamkan kepadaku bahwa kesibukanku mempelajari masalah kedokteran adalah sebab timbulnya kegelapan di hatiku itu. Saat itu pula saya menjual kitab tersebut. Semua yang berkaitan dengan kedokteran dan ilmu kedokteran saya keluarkan dari rumah. Begitu itu saya lakukan, hatiku kembali bersinar. Keadaanku kembali pulih seperti semula.

GURU-GURU BELIAU 

Beliau belajar dari Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Al Maghribi, Abu Muhammad bin Abdurahman bin Nuh Al Maqdisi, Abu Hafs Umar bin Sa'ad Ar-Rabi'i Al-Arbali, Abul Hasan Salar bin Hasan Al-Arbali, Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Marani, Abul Baqa' Khalid bin Yusuf An-Nabalusi, Dhiya' bin Tamam Al-Hanafi, Abul Abas Ahmad bin Salim Al-Mishri, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Malik Al-Jiyani, Abul Fath Umar bin Bandar At-Taflisi, Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ali Al-Wasithi, Abul Abas bin Abdud Daim Al-Maqdisi, Abu Muhammad Isma'il bin Abul Yasar At-Tanukhi, Abu Muhammad Abdurahman bin Salim Al-Anbari dan lainnya.

SIAPA MURID-MURID BELIAU ? 

Di antara murid-murid beliau adalah 'Alaudin bin 'Athar, Abul Abas Ahmad bin Ibrahim bin Mush'ab, Abul Abas Ahmad bin Muhammad Al-Ja'fari, Abul Abas Ahmad bin Faraj Al-Asybili, Ar-Rasyid Ismail bin Al-Mualim Al-Hanafi, Abu Abdullah Muhammad bin Abil Fath Al-Hanbali, Abul Abas Ahmad Adh-Dharir Al-Wasithi, Jamaludin Sulaiman bin Umar Ad-Dar'i, Abul Faraj Abdurahman bin Muhammad Al Maqdisi, Al-Badar Muhammad bin Ibrahim bin Jamaah, Asy Syams Muhammad bin Abu Bakar bin An-Naqib, Asy-Syihab Muhammad bin Abdul Khaliq Al-Anshari, Asy-Syaraf Hibatullah bin Abdurahim Al-Bari, Abul Hajaj Yusuf bin Abdurahman Al-Mizzi, dan banyak ulama besar lainnya. 

TULISAN-TULISAN BELIAU 

Beliau menulis banyak kitab, di antaranya: Riyadhus Shalihin, Syarhu Muslim, Al-Adzkar, Al-Arba'in An Nawawiyah, At-Tibyan, Mukhtasharut Tibyan, Al-Minhaj fi Fiqhis Syafi'iyah, dan Ar-Raudhah fi Fiqhisy Syafi'iyah-kitab ini telah dicetak, dibiayai oleh pemerintah Qatar. 

Pertama kali ia dicetak dengan biaya dari Syaikh Ali bin Abdullah Ali Tsani hingga juz delapan. Kemudian juz-juz lainnya disempurnakan pencetakannya atas biaya dari Yang Mulia Syaikh Khalifah bin Hamd Ali Tsani, Amir Qatar hafizhahullah. 

Beliau juga menulis beberapa fatwa dan penjelasan mengenai manasik Haji, Al-Ijaz, Tabriru Alfazhit Tanbih, At Tarkhish fil Qiyam li Ablil Fadhl, Al-Irsyad, At-Taqrib, Al Mubhamat, Thabagatul Fuqaha, Tahdzibul Asma' wal Lughat, Mukhtashar Usudul Ghabah, Manaqibul Imam Asy-Syafi'i, serta syarah sebagian kitab Al-Muhadzab, sebagian kitab At-Tanbih, sebagian kitab Al-Wasith, sebagian Shahih Al-Bukhari, dan sebagian Sunan Abu Daud. 

Beliau juga menulis sebagian At Tahqiq dan Jami'us Sunan, menulis Khulashatul Ihkam fi Muhimatil Ahkam, Bustanul ' Arifin, dan banyak kitab lain yang belum dicetak tetapi bisa ditemukan di beberapa penyimpanan manuskrip. 

SIFAT WARA' DAN ZUHUDNYA 

Beliau sangat wara' dan zuhud. Adz-Dzahabi berkata: “Beliau tidak memiliki penyimpanan makanan, tidak menyimpan makanan untuk esok hari karena bertawakal kepada Rabbnya. Beliau tidak menyukai kemewahan dan bersenang senang. Beberapa bait syair ini konon diucapkan oleh Imam An-Nawawi yaitu: 

Kutemukan, qana'ah adalah pangkal kekayaan 
Maka kuikuti, kupegang erat ia 
Maka, tak seorangpun melihatku di depan pintunya 
Tidak pula yang lain melihatku mendesak desaknya 
Aku hidup bagai si kaya, tanpa uang 
Memerintah orang seperti raja 

Karena mengagumi syair ini, ketika berusia duapuluh satu tahun saya menggubahnya menjadi lima bait-lima bait, menjadi:

Hai kamu yang berseru, takut menderita 
Ambil nasehat ini, niscaya kau peroleh semua cita 
Nawawi, Sang pemerhati, pernah berkata:
Kutemukan qana'ah adalah pangkal kekayaan 
Maka kuikuti, dan kupegang erat ia 

Kumohon pada Tuhan dengan kelembutan-Nya 
Agar memberiku kekayaan melalui jalan-jalannya 
Dan memberi qana'ah di hati agar rela menerimanya 
Maka, tak ada seorangpun melihatku di depan pintunya 
Tidak pula yang lain melihatku mendesak-desaknya 

Betapa banyak nikmat pemberian Sang Pemelihara 
Melimpahi dan mencukupimu dari kebutuhan kepada pendosa
Cukuplah Tuhanku yang memberiku nikmat 
Dan aku hidup sebagai si kaya tanpa uang 
Memerintah orang seperti raja" 

An-Nawawi menghindari tindakan-tindakan dungu berupa keberlebihan dalam berpakaian bagus, memakan makanan lezat, atau berhias melebihi kebiasaan. Beliau cukup dengan memakan roti dengan sedikit lauk, berbapakaian kain katun, dan mengenakan beberapa jubah yang halus. 

Ibnul 'Athar berkata: “Beliau tidak pernah mau makan buah-buahan Damaskus. Suatu ketika saya bertanya kepada beliau mengenai hal itu. Beliau menjawab: "Di Damaskus banyak tanah wakaf dan tanah hak milik yang secara syara ' harus disita. Semua itu tidak boleh dikelola kecuali dengan cara yang memberikan kemaslahatan. Mengelolanya dengan sistim bagi hasil, mengenai hal ini terdapat perselisihan di kalangan ulama. Barangsiapa yang membolehkannya, mensyaratkan agar pengelolaan itu untuk kepentingan anak yatim dan pihak yang tanahnya disita. Sementara orang-orang tidak melakukan hal itu kecuali dengan bagi hasil seperseribu untuk pemilik. Bagaimana hati saya bisa tenang memakan buah-buahan ini ?" 

Rasyidudin bin Mualim Al-Hanafi berkata: “Saya pernah mengkritiknya karena tidak mau masuk kamar mandi dan sikapnya yang mempersulit diri dalam hal makan dan berpakaian." 

Saya katakan kepadanya: "Saya khawatir, kamu terkena penyakit yang menyebabkanmu tidak bisa melaksanakan hal-hal baik yang menjadi tujuanmu." Maka ia menjawab, "Si Fulan berpuasa sampai tulang-tulangnya terlihat. Maka, tahulah saya bahwa ia tidak mempunyai minat menetap di dunia atau kecintaan kepada kehidupan yang kita jalani ini.” Salah seorang ikhwannya mendorong beliau menikah, maka jawab beliau: “Apa perluku kepada pernikahan yang akan menyebabkanku lupa dari sesuatu yang paling kucintai, yaitu ilmu ? " Maka, sampai wafat, beliau belum menikah. 

KEBERANIAN BELIAU DALAM MENYAMPAIKAN KEBENARAN 

Beliau biasa berhadapan dengan para raja dan pejabat untuk melakukan amar makruf nahyi munkar tanpa mempedulikan celaan orang lain. Beliau menyatakan kebenaran dengan cara bijaksana dan nasehat yang baik. Beliau menulis surat-surat kepada mereka, menasehatkan agar mereka berlaku adil terhadap rakyat dan menjauhi perbuatan maksiat. 

Abul Abas bin Faraj berkata: “Imam Nawawi telah menyandang tiga pangkat; masing-masing darinya bila disandang oleh seseorang, maka pantas bila orang lain dianjurkan datang kepadanya: Pangkat pertama adalah ilmu. Pangkat kedua adalah zuhud. Dan pangkat ketiga adalah amar makruf nahyi munkar. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik dan sifat-sifat terpuji yang terlalu banyak untuk dituliskan dalam lembaran kertas. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada beliau.” 

Pada tahun 667 H., beliau kembali ke Nawa setelah mengembalikan buku-buku pinjaman kepada para pemiliknya. Beliau melakukan ziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada guru-gurunya yang telah wafat. Beliau berdoa dan menangis. 

Beliau berkunjung kepada para sahabatnya yang masih hidup dan berpamitan kepada mereka. Sekelompok dari sahabat-sahabat beliau mengantarkan kepergian beliau sampai di luar Damaskus. Salah seorang dari mereka berkata: “Kapan kita bisa berjumpa lagi, Syaikh ? " Beliau menjawab, " Bertahun-tahun lagi.” Tahulah mereka bahwa yang dimaksudkan oleh beliau adalah pada hari kiamat. Setelah berkunjung kepada ayahanda, beliau pergi ke Baitul Maqdis dan Al-Khalil ( Hebron ), kemudian kembali ke Nawa. Sekembali dari sana, beliau jatuh sakit. Beliau wafat pada malam Rabu, bertepatan tanggal 24 Rajab 676 H. dalam usia 45 atau 46 tahun. 

Ketika kabar kewafatan beliau sampai di Damaskus, tangis penduduk menggetarkan kota itu dan kawasan sekitarnya. Kaum muslimin menampakkan bela sungkawa yang mendalam atas kewafatan beliau. Qadhil Qudhat Izzudin Muhammad bin Shaigh dan sejumlah besar ulama berangkat ke Nawa untuk menshalatkan beliau di kuburnya.

Sekelompok orang yang jumlahnya mencapai lebih dari dua puluh ulama dan pujangga meratapi kepergian beliau. Semoga Allah mencurahkan rahmat yang seluas-luasnya kepada beliau dan menempatkan beliau di surga Firdaus-Nya yang paling tinggi serta mengumpulkan beliau bersama para nabi, shidiqin, syuhada, orang-orang shalih, para wali, dan orang-orang yang beramal. 

Semoga pula, Allah mengumpulkan kita dan mereka bersama golongan orang-orang yang tidak akan ditimpa rasa takut dan tidak bersedih hati. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabat beliau. 

Referensi berdasarkan tulisan Abdullah Ibrahim Al-Anshari Dalam Buku Syarah Hadits Arba'in An-Nawawi