Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Sosial Anak

Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Sosial Anak
Keluarga belum melengkapi tugasnya dengan sempurna dalam pendidikan anak-anak sehingga ia menolong anak-anak bertumbuh dari segi sosial. Pertumbuhan sosial ini melibatkan pendidikan sosial, ekonomi dan politik yang mengatakan bahwa kesediaan-kesediaan dan bakat-bakat asasi anak-anak dibuka dan dikeluarkan ke dalam kenyataan berupa hubungan-hubungan sosial dengan orang-orang sekelilingnya. 

Pendidikan sosial ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi dan politik dalam rangka akidah Islam yang betul dan ajaran-ajran dan hukum-hukum agama yang berusaha meningkatkan iman, takwa, takut kepada Allah dan mengerjakan ajaran-ajaran agamanya yang mendorong kepada produksi, menghargai waktu jujur, ikhlas dalam perbuatan, adil, kasih say ang, ihsan, mementingkan orang lain, tolong menolong, setia kawan, menjaga kemaslahatan umum dan lainnya. 

Artikel Terkait:

  1. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Agama Bagi Anak-anak
  2. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Kejiwaan Bagi Anak-anak
  3. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Intelektual Bagi Anak-anak
  4. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Jasmaniah Bagi Anak-anak
  5. Fungsi Keluarga Dalam Perspektif Islam

Di antara metode yang sangat penting yang harus digunakan oleh oleh kedua orang tua dalam proses mendidik anak-anaknya dari segi sosial, politik dan ekonomi adalah sebagai berikut: 

  1. Memberikan kepada anak-anak mereka keteladanan yang baik dari segi tingkah laku sosial yang berdasarkan kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang ada dalam Al-qur'an dan sunnah. 
  2. Menjadikan rumah tangga mereka itu sebagai tempat dimana tercipta hubungan sosial yang harmonis antara ayah dengan ibu dan hubungan mereka dengan anak-anaknya sesuai dengan yang ada dalam Al-qur'an dan sunnah. 
  3. Membiasakan anak-anaknya untuk mandiri dan memberikan beban dan tanggungjawab kepada mereka sesuai dengan umurnya dan diserta dengan membimbing anak-anak jika mereka terjatuh dalam kesalahan. tentunya itu dilakukan dengan cara dengan lemah lembut.
  4. Pendidikan Sosial dalam keluarga akan dapat menjauhkan anak-anak dari sifat manja dengan orang tua dan sikap berfoya-foya. 
  5. Pendidikan Sosial juga dapat menjadikan mereka bergaul dengan penuh tata krama dan tidak menghina dan merendahkan sesama kawannya. 
  6. Pendidikan Sosial dalam keluarga harus dilakukan dengan lemah lembut agar mereka diluar luar mampu untuk bersikap lembut dan menghormati kawannya. 
Oleh karena itu orang tua tidak boleh mempermalukan anaknya di depan kawan-kawannya. Karena itu akan menjatuhkan martabat mereka. orang tua juga tidak boleh melepaskan kekuasaan kebapaan mereka terhadap anak-anaknya sehingga mereka melampaui batas.

Di antara dalil-dalil agama yang menjadi dasar keluarga Muslim dalam mendidik anak-anaknya dari segi sosial adalah: Sabda Rasulullah s.a.w. : "Cintailah anak-anak dan sayangi- lah mereka". Juga sabda beliau: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi an ak-anak dan tidak menghormati orang tua". 

Juga sabda Rasulullah s.a.w. kepada Aishah R.A. yang maknanya: "Hendaklah engkau bersifat lemah lembut terhadap sesama, karena sifat lemah-lembut jika ia berada pada sesuatu ia menghiasinya menjadi lebih baik, sedang jika meninggalkan sikap lemah lembut itu dari sesuatu maka ia merusakkannya". (H.R. Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad). 

Juga sabda Rasulullah s.a.w.: "bertaqwalah kamu kepada Allah dan berbuat adillah antara anak-anakmu". Sebagaimana keadilan berlaku pada pemberian juga berlaku pada kasih-sayang, perhatian dan lain-lain. 

Sabda Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan tingkat-tingkat pendidikan an ak-anak. "Anak lelaki diakikahkanpada hari ketujuh, di beri nama dan dihindarkan daripadanya bahaya. Setelah sampai umur enam belas tahun bapaknya mengawinkannya kemudian di pegangnya tangannya sambil berkata kepadanya". "Aku telah mengajarmu, mendidikmu, mengawinkanmu. Aku berlindung dari Allah dari fitnahmu di dunia dan azabmu di akhirat". (Al-Ghazzali dalam Al Ihya). 

Diriwayatkan bahwa 'Umar R. A. telah berkata kepada anak- anaknya: "Jika kamu sudah dewasa hendaklah kamu berpisah, janganlah kamu berkumpul di satu rumah, sebab aku takut kamu akan benci-membenci atau kamu mendapat keburukan". (Diriwayatkan oleh Al Bukhari). 

Di antara kata-kata yang diucapkan Ali RA.: "Ajarkan kepada anak-an akmu selain yang kamu telah pelajari Sebab mereka akan hidup di suatu masa berlainan dengan masamu". 

Diriwayatkan bahwa Ali R.A. berkata: Biarkan anakmu bermain tujuh tahun; di ajar adab tujuh tahun dan didampingi dia tujuh tahun. Kalau berhasil baiklah, kalau tidak maka tidak ada kebaik- an padany a". (Disehut oleh Al Thabrani dalam Makarim al Akhlaq). 

Di antara yang disebutkan Ibnu Maskawih (1966) dalam mendidik kepada anak-anak dan remaja adalah: "Jiwa kanak-kanak itu sederhana belum ditulisi sesuatu, belum punya pendapat dan keputusan dari suatu kepada yang lain. Jika diukir suatu gambaran dan diterimanya, maka ia akan membawanya sampai besar dan menjadi kebiasa an baginya". 

Sepatutnyalah anak-anak harus diingatkan jiwanya supaya mencintai harga diri. Mencntai kawannya dan menjaga kerhormatannya. Mereka juga harus menjaga kehormatan dan keteguhan agamanya. 

Dia juga dicela bila menginginkan makanan-makanan, minuman-minuman dan pakaian-pakaian mewah. Di galakkan ia mengutamakan orang lain atas dirinya dalam makanan dan cukup dengan sesuatu yang sederhana, dan jangan terlalu loba untuk mencarinya. Dia juga diajar bahwa orang yang paling utama menggu- nakan pakaian-pakaian berwarna-warni dan berukir adalah kaum wanita".

"Kanak-kanak pada pemulaan perkembangannya pada umumnya buruk perbuatan. Kemudian setelah diajar dan bertambah tua dan pengalaman ia berobah dari suatukeadaan kepada keadann lain. Kemudian disuruhlah ia menghafal cerita-cerita dan syair-sy air yang sesuai dengan kebiasaannya dalam hidupnya dengan sopan ". "Kemudian ia dipuji atas setiap akhlak baik dan perbuatan baik yang dibuatnya kemudian ia dimuliakan karenanya. Jika ia berlainan dari pada yang disebutnya pada pertama kalinya maka ia tidak dicerca dan dibuka rahasianya bahwa ia telah memperbuatnya. Tetapi dilupakan saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa terutama kalau kan ak-kanak itu menutup-nutupinya dan berusaha menyembunyikan apa yang diperbuatnya kepada manusia, tetapi kalau ia berbuat lagi maka ia dicerca secara rahasia dan diancam jika ia membuatnya lagi. 

Sebab jika engkau membiasakan ia mendengar rencana dan membuka rahasia engkau telah menyebabkan ia bersifat nakal dan menggalakkan ia mengulangi perbuatan yang dianggapnya buruk, sehingga ia mudah mendengar cercaan untuk mengerjakan keburukan-keburukan seperti kelezatan-kelezatan yang diingini oleh dirinya". 

Jangan cepat-cepat ia makan dan mengikutkan suapan demi suapan dengan cepat. Jangan ia menelan suapan itu sebelum dikunyahnya baik-baik. Jangan ia mengotori tangan, pakai an dan orang-orang makan sama dengannya dan mengikutkan pandangan kepada tempat tangannya mengambil makanan". "la juga dibiasakan jangan menelanjangi anggota-anggotanya dan jangan cepat-cepat berjalan dan jangan membelakangkan tangannya, tetapi diletak kedepan dadanya. 

Hendaklah ia jangan berbangga dengan harta kekayaan orang-tuanya kepada kawannya, begitu juga dengan pakaian dan lain-lain sebagainya. Patut juga dibiasakan jangan ia membuang ingus dan meng- uap di depan orang lain. Dan jangan meletak kaki atas kaki yang lain dan bertopang dagu. 

Juga ia dibiasakan berbicara dengan baik dan behadapan dengan orang lain dengan sopan. Juga ia harus dibiasakan mengambil sendiri barang-barang yang diperlukan dan memberi hormat kepada yang lebih tua daripadanya". (Mas- kawaih, 1966). 

Banyak lagi nash-nash dan dalil-dalil yang dapat digunakan oleh orang tua untuk menguatkan usaha-usaha pendidikan terhadap anak-anak mereka yang prinsip-prinsipnya tidak berten- tangan dengan penemuan-penemuan yang diakui juga oleh kajian- kajian pendidikan modern. 

Referensi: Hasan Langgulung yang berjudul Manusia dan Pendidikan