Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Psikologi Eksperimental Dan Teori Darwin

Psikologi Eksperimental Dan Teori Darwin

Dengan munculnya teori Darwin pada abad ke 19 psikologipun condong ke arah biologi. Di antara pengikut-pengikut Darwin yang terkenal adalah Francis Galton (1822 1911) yang berusaha menerapkan teori evolusi dalam mengkaji tingkah laku manusia. Sekalipun kajian-kejian Galton banyak, tetapi semuanya terpenga- ruh oleh kajian keturunan. 

Baca juga: Psikologi Modern

Pada tahun 1869 diterbitkannya bukunya yang berjudul "Hereditary Genius" di mana digunakan metode genetik, yaitu mengkaji kesan dari segi sejarah untuk membuktikan bahwa bakat-bakat akal terpengaruh oleh faktor- faktor keturunan. Oleh sebab ia mengkaji tingkat kesamaan dan perbedaan diantara anggota-anggota keluarga yang satu, maka ini menghendaki pengukuran kemampuan-kemampuan individu-individu. 

Oleh sebab itu Galton menciptakan berbagai ukuran dan ujian untuk mengukur. Ia menguji seseorang dalam pembedaan indera, ke- mampuan gerak dan sebagian proses yang sederhana. Galton beru- saha mengukur tingkat-tingkat akal yang berlainan-lainan melalui pengukuran terhadap proses-proses indera, sebab ia menganggap pengetahuan yang sampai kepada kita tentang peristiwa-peristi- wa luar berlaku di celah-celah indera kita. 

Baca juga: Psikologi Dalam Perspektif Islam

Setiap kali pancaindera kita bertambah tanggapannya terhadap peristiwa ini bertambah luas pula bidang di mana akan nampak kebaikan dan kecer dasan kita. Galton mendapati bahwa kajian-kajian menunjukkan bahwa pembedaan indera di kalangan orang-orang cacat itu lemah, Dari situ diambilnya kesimpulan bahwa pembedaan indera harus kuat di kalangan orang-orang genius dan orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi.

Salah seorang murid Galton dalam sekolahnya adalah Jama Mekeen Cattell (1860 - 1944) orang pertama yang menggunakan istilah ujian mental (mental tets) pada tahun 1890 dalam sebuak makallah yang berjudul "Mental Test and Meassurements" (Ujian ujian dan pengukuran-pengukuran mental). la kembali kenegaranya (Amerika) sedang dua mazhab berlomba-lomba untuk maiu ke depan, yaitu psikologi eksperimental dan ujian-ujian mental Cattell sangat terpengaruh oleh karya-karya Galton dalam ujian-ujian dan statistik. 

Ini jelas dalam kemajuan karya-kary anya dalam metode-metode eksperimental dalam satu pihak dan pengukuran perbedaan-perbedaan perseorangan di pihak yang lain. Di samping kajianny a dalam masa tindakbalas (reaction time), assosi asi dan lain-lain, dia juga menyiapkan rentetan ujian-uji an psikologikal yang digunakannya dalam kajian-kajiannya. Dari kajian-kajian inilah timbulnya ujian-ujian kecerdasan dan bakat-bakat khusus, uji an-uji an yang menjadi dasar penting dalam berbagai bidang psikologi.

Bersamaan dengan masa Galton di Jerman muncul seorang ahli psikologi yang bemama Wilhelm Wundt (1832-1920) yang mendirikan sekolah psikologi pertama di Universitas Lepzig pada tahun 1879. Inilah dianggap masa berpisahnya psikologi sebagai sains yang berdiri sendiri. 

Baca juga: Sejarah Ilmu Psikologi

Sekolah ini didirikan untuk mengkaji gejala-gejala psikologikal dengan cara ilmiah dengan menggunakan metode-metode penyelidikan yang telah terbukti berhasil dalam fisika dan an atomi. Pengaruh ilmu-ilmu ini nampak jelas sekali dalam segala karya-karyanya. Sebab itu semua proses psikologikal yang dikajinya dalam sekolah ini termasuk dalam sifat-sifat fisiologi seperti indera, tanggapan, waktu tindakbalas (reaction time) dan lain-lain. 

Semua itu adalah proses-proses psikologikal tetapi mempunyai sifat fisiologi.Dengan  menggunakan metode penyelidikan ini Wundt ber- usaha mengan alisa tentang perasa an. Tujuannya adalah menemu- un unsur-unsur yang membentuk pengalaman perasaan. Sudah jelas bahwa ia terpengaruh oleh kecenderungan analitik yang sangat populer pada masa itu. Ia melatih orang-orang menaruh perhatian pada pengalaman-pengalamannya dan menggambarkannya, sedang pengkaji membuat berbagai perubahan dalam cahaya, suara dan lain-lain keadaan luar, sebagaimana ia mengadakan perubahan pada keadaan fisiologi (mengadakan perubahan kimia pada badan manusia). la telah mengambil manfaat dari penemuan- penemuan fisiologi yang men afsirkan hasil-hasil penyelidikan psikologi dengan fungsi-fungsi sistem syaraf (nervous system). Cara menaruh perhatian kepada penglaman-pengalaman dan menggambarkannya dalam suasana dalam dan luar yang tepat diberi nama "experimental introspection"" 

Juga ahli-ahli psikologi memanggilnya kajian-kajian Wund tentang perasaan. Sebab kajian- kajian ini tiada lain dari gambaran terperinci tentang pengalaman- pengalaman perasaan. Maknanya ia menganalisa perasaan sebagaimana sebuah benda dianalisa kepada atom-atom untuk sampai kepada unsur-unsur awal yang jernih yang membentuk benda itu. Sedang perincian-perincian yang ditambahkan seseo- ang kepada perhatiannya dipisahkan. 

Oleh sebab itu disebutnya kajian tersebut kandungan -kandungan perasaan. Teknik-teknik penyelidikan ini mempengaruhi sebagian besar murid-murid Wundt, seperti EB Titchner (1868 yang mendirikan suatu mazhab dalam psikologi yang terkenal dengan nama psikologi binaan (Structural Psychology). Ia berpen- dapat bahwa akal terdiri atas beberapa unsur sebagaimana terbentuk dari unsur-unsur awalnya. Ini sejalan dengan per kemnbangan sains-sains kealaman (Natural Sciences) pada masa itu. 

Sebagaiana ahli kimia menganalisa benda ke unsur-unsur awalnya, begitu Jugal ah Titchner dalam menganalisa pengalaman manusia kepada MnBur-unsur psikologinya, misalnya perasaan, khayal dan emosi. 

Unsur-unsur ini selanjutnya di analisa lagi kepada unsur-unsur awal misalnya kualitas, kuat, kekal, meluas, dan lain-lain. Gerakan pendidikan ini dikunjungi oleh banyak penuntut dari seluruh dunia, yang menyebabkan mereka mendirikan sekolah-sekolah yang serupa bila me reka kembali ke negeri mereka. 

Perlu juga disebut di sini bahwa sudah pemah dilakukan penyelidikan sebelum Wundt oleh berbagai ahli seperti Weber (1789 - 1878), Fechner (1801 - 1887) dan Helmholtz (1821 tetapi sekolah Wundt merupakan sekolah pertama yang digunakan dengan tujuan untuk mengkaji proses-proses psikologi. 

Jadi jelaslah bahwa teknik yang digunakan oleh Wundt menciptakan arah tertentu bagi psikologi eksperimental, yaitu mengkaji proses-proses psikologi berpisah satu sama lain, seperti pengamatan, pelajaran, pemikiran dan lain-lain. 

Setiap proses ber diri sendiri berpisah dengan cara yang sesuai untuk sampai kepada undang-undang umum yang sesuai dengan proses yang sedang di- kaji. Misalnya ketika kita mengkaji seuatu proses psikologi seperti pengamatan indera yang dijalankan kepada dua kumpulan, sebuah kumpulan lapar dan yang satu lagi kekenyangan, kemudian kita ajukan kepada keduanya bentuk-bentuk yang samar-samar dan kita tanyakan kepada tiap orang dalam kedua kumpulan itu untuk menerangkan kepada kita apa yang dilihatnya dalam bentuk- bentuk itu. 

Kita dapati kumpulan yang lapar melihat bentuk- bentuk itu bemacam-macam makanan, sedang kumpulan yang keny ang tidak melihat demikian. Sekarang dapat kita nyatakan suatu undang-undang umum dan mengatakan bahwa kebutuhan- kebutuhan dalam seseorang mempengaruhi pengamatannya terhadap hal-hal luar. 

Di sini kita mengkaji proses psikologi sendiri bukan manusia dalam bentuknya yang sempurna. Begitu juga ketika Wundt mengkaji suatu gejala seperti "ma- sa tindak balas" (ractions-time) di mana ia menggunakan berbagai alat praktek. Diberinya orang-orang yang diselidikanya perangsang-prangsang cahaya (misalnya cahay a merah yang berkelap-kelip tiba di depan si pesakit), kemudian dimintanya mereka untuk memberi gerakbalas tertentu dengan segera terhadap perangsang ini (misalnya ia menekan sesatu kunci) dan mengukur masa tin- dakbalas (cepat gerak balasnya). 

Sesudah itu diberinya mereka perangsang-perangsang suara (suara lonceng misalnya) dan meminta mereka untuk memberi gerak balas tertentu bagi perangsang ini dan diukurnya masa tindakbalas. 

Kita dapati orang-orang, secara umum, mempuny ai gerakbalas terhadap lonceng lebih cepat daripada cahaya. Jadi dapat kita katakan bahwa masa tindak balas bagi suatu bunyi lebih cepat dari masa gerakbalas bagi cahaya. 

Ini suatu prinsip umum yang berlaku bagi suatu proses psikologi tertentu yang dikaji dalam gerak berpisah dengan tujuan untuk sampai kepada undang-undang umum yang berlaku bagi proses ini sendiri, sedang gambaran manusia sebagai suatu yang menyeluruh dan sempurna hilang sama sekali. da Inilah kecenderungan yang berlaku pada psikologi eksperimental semenjak ditumbuhkannya karya Wundt. Kemudian timbullah berbagai mazhab dalam psikologi yang menyebabkan tam- bah tersianya. 

Timbullah mazhab perfungsian dalam psikologi (function al psychology). Ahli-ahli mazhab ini menggunakan metode-metode penyelidikan yang dipelajarinya dalam karya Wundt. Tetapi mereka terpengaruh dalam kecenderungan ilmiah- nya oleh teori Darwin dalam evolusi, Mereka menganggap bahwa introspeksi (introspection) tak dapat memberi kita pengalaman indera yang murni, tetapi haruslah seseorang menambahkan pada pengamatan ini arti dan makna dari dinny a sendiri. 

Nampak sekali pengaruh teori Darwin pada ahli-ahli aliran ini. Darwin telah menekankan bahwa benda-benda hidup menggunakan tekhnik-teknik untuk menyesuaikan diri dengan alam sekitar supaya ia dapat hidup lanjut. 

Selanjutnya ahli-ahli mazhab perfungsian berpendapat bahwa proses psikologi yang bermacam-macam itu haruslah memiliki tujuan dan fungsi. Tanpa tujuan dan fungsi ini tidak akan ada proses prikologi sama sekali. Sebab proses yang tak bertujuan dan tak memikul fungsi bagi benda hidup akan hilang dan musnah Sedang proses yang memikul sesuatu fungsi dan membawa kepada keadaan yang men ambahkan penyesuaian dirinya dengan alam sekitarnya itulah proses yang akan kekal dan tetap. 

Jadi perhatian ahli-ahli mazhab ini berkisar di sekitar fungsi, Jadi daripada kita mengkaji kandungan kesadaran lebih baiklah kita mengkaji fungsinya. Dapatkah kesadaran itu menolong benda hidup untuk kekal? 

Inilah yang menjadi obyek penyelidikan ilmiah. Proses introspeksi menunjukkan bahwa dalam pelajaran ketrampilan gerak (motor skill) itu pada mulanya disadari, tetapi kebias aan (habit) dalam proses untuk menetap dan sempurna lama kelamaan kesadaran itu hilang. Ketika itu kebiasaan sanggup memainkan peranannya secara otomatik tanpa bantuan kesadaran. Artinya kesadaran itu menolong mengekalkan benda hidup yaitu dengan menolongnya belajar. 

Ketika ahli-ahli tersebut mengkaji tentang fungsi-fungsi kesadaran dan bagaimana ia menolong dalam proses penyesuai- an, mereka mengkaji proses pelajaran sendiri. Sedikit demi sedikit mereka kehilangan perhatian pada kesadaran dan menumpukan perhatian pada suasana alam sekitar dan organik yang membawa kepada pelajaran yang lebih lebih sempurna. 

Juga pergantian perhatian dari kesadaran kepada suasana-suasana alam sekitar yang mengelilingi dan pengaruhnya terhadap pendirikan dan mengkaji sif at-sifat proses-proses pelajaran sendiri, merobah "ilmu kesadaran" menjadi "ilmu tingkah laku". 

Inilah yang menjadi titik permulaan munculnya mazhab ketingkahlakuan (behaviorism) yang dipimpin oleh Watson seperti talah kita terangkan di atas. 

Mazhab ini membatasi perhatiannya pada pengkajian tingkahlaku dan melupakan kesadaran sama sekali. Watson sendiri memulai karyanya sebagai ahli psikologi hewan. Dibuatnya penyelidikan yang istimewa. 

Diingkarinya kepentngan kesadaran dalam-psikologi. Watson beranggapan bahwa psikologi akan tetap meraba-raba dalam gelap selama ia mengkaji hal-hal yang tidak nampak dan tidak tunduk pada pemerhatian. 

Dikatakannya bahwa pra tingkahlakuan di kalangan ahli-ahli psikologi disebabkan karena mereka menyelidiki hal-hal metafi sika. Katanya penyelidikan pada kesadaran akan membawa kita kembali pada kajian terhadap benda-benda ghaib. 

Dia berpendapat bahwa mengkaji tingkahlaku individu dan perbuatannya dalam berbagai suasana akan menghasilkan undang-undang (laws) yang dapat menolong kita meramalkan (predict) tingkahlaku manusia.

Tulisan ini terdapat dalam Buku Manusia dan Pendidikan yang ditulis oleh Hasan langgulung