Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peranan Agama Dalam Pembentukan Masyarakat

Peranan Agama Dalam Pembentukan Masyarakat

Membahas tentang peranan agama dalam pembentukan masyarakat bertatatertib tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang perkara-perkara dasar yang sangat erat kaitannya dengan masyarakat, seperti tentang alam semesta, unsur-unsur asal manusia, unsur-unsur asal masyarakat, sifat-sifat tatatertib, dan kaitan tatatertib dengan pendidikan. 

Sudah tentu ini semua ditinjau dengan kaca mata Islam. Sebab pembahasan tentang tata tertib tanpa mengaitkannya dengan hal-hal ini semua akan memberi gambaran berat sebelah dan setengah-setengah dan sudah tentu tidak akan menjawab persoalan yang ditimbulkan oleh tulisan ini. 

Baca juga: Manusia Dan Pendidikan Perspektif Ibnu Khaldun

Masyarakat bertatatertib melibatkan ciri-ciri asal alam semesta di mana masyarakat hanyalah satu bahagian kecil saja daripadanya, dan di segi lain melibatkan ciri-ciri asal manusia yang menjadi komponen-komponen utama sesuatu masyarakat. 

Dengan kata lain, tatatertib masyarakat harus ditinjau dari segi makro (alam semesta) dan dari segi mikro (manusia sebagai anggota masyarakat). Oleh sebab itu mari kita mulai dahulu dengan makro, diikuti dengan pembahasan dari segi mikro yaitu sifat-sifat asal manusia, kemudian ciri-ciri masyarakat menurut Islam, dan peranan pendidikan Islam dalam menciptakan masyarakat bertatatertib itu. Alam Semesta inlah sclain dari Allah, pencipta alam jaeat itu. 

Pencipta disebut khaliq sedang yang dicipta ata alam jagar disebut makhluk. Termasuk alam jagat itu adalah c krawala, langit, bumi, binatang. manusia, benda-benda, mahluk benda dan yang bukan benda. Persoalan yang selalu ditimbulkan dalam falsafah adalah "darimana dan bagaimana timbulnya alam ini?" Ada tiga jawaban yang telah diberikan oleh ahli-ahli falsafah berkenaan dengan perkara ini. 

Di bawah ini kita akan lihat jawaban-jawaban itu, dua yang pertama merupakan pandangan yang ekstrim yaitu realisme dan idealisme, sedang mazhab ketiga merupakan kompromi dari kedua-dua mazhab tersebut. 

Oleh sebab itu kita hanya akan menerangkan dengan singkat tentang dua mazhab pertama dan akan menumpukan uraian kita pada mazhab ketiga yang di sebut realisme kritikal. 

Mazhab realisme beranggapan bahwa alam jagat itu sungguh- sungguh ada, alam jagat adalah realitas seperti nampaknya. Persoalan darimana datangnya alam jagat, tak perlu dijawab. Alam iagat itu wujud, terimalah apa dan bagaimana adanya. Memang benar bahwa pengalaman kita tidak sempurna, indera kita tak dapat tersentuh langsung oleh semua isi alam, sehingga kita kerapkali mengadakan putusan-putusan yang keliru. 

Bahkan walaupun indera kita sekarang dapat ditolong dan disambung dengan alat-alat yang modern dan besar kemampuannya, tetapi belum ju- ga dapat dipastikan bahwa seluruh alam jagat dapat terjangkau oleh pengalaman kita. Tetapi ini bukanlah prinsip, ini semuanya soal waktu saja. 

Jadi mazhab realisme menerima segala realitas apa yang nampak kepada kita dan sebagai nampaknya itu, yang la- in bukanlah realitas. Mazhab realisme ini mengatakan bahwa di luar perubahan yang nampak itu tak ada sesuatu apapun yang sungguh ada. Yang ada hanyalah perubahan. oleh karena itu segala sesuatu tidak tetap dan itulah yang disebut materi. 

Realisme dan materialisme memang serupa. Mazhab realisme atau materialisme ini memang tidak menjawab pertanyaan dari mana datangnya alam jagat. Mazhab ini menganggap tidak perlu. Mazhab ini mengabaikan keterangan tentang ketidaksempurnaan wujud yang berubah itu. Perubahan itu diakui sebagai fakta. Jadi perubahan alam merupakan keterangan terakhir daripada realitas alam jagat. 

Baca juga: Renungan Kehidupan 

Mazhab kedua adalah mazhab idealisme yang beranggapan bahwa yang merupakan realitas hanyalah idee. Idee itu tetap, tak berubah. Ini merupakan kebalikan daripada materi, jadi idealisme betul-betul merupakan kebalikan daripada realisme. 

Sebab, kata mazhab idealisme, kalau realitas itu memang sungguh-sungguh wujud, maka tak boleh terkandung padanya ketidak wujudan. Perubahan itu bermakna ketidak-wujudan atau ketidak sempur- naan. Kalau sesuatu berubah, itu bukanlah realitas yang mempu- nyai wujud yang penuh. Realitas yang sungguh-sungguh wujud haruslah tanpa perubahan. 

Realitas yang sebenarnya harus merupakan wujud yang penuh, demi kepenuhan wujudnya itu haruslah realitas itu selalu wujud tanpa kekurangan sedikitpun jua, walaupun hanya sesaat. Realitas ini sempurna ia mencakup segala wujud, sebab apakah yang terdapat di luar wujud, tentu hanya ketiadaan. Dengan sendirinya wujud yang sempurna itu mutlak, karena haruslah selalu wujud, tak mungkin kehilangan wujudnya. Apa dia itulah wujudnya, sebab jika sekiranya dapat ditunjuk apa dia yangberlainan dari wujudnya maka ke-apa-annya itu meru- pakan pembatasnya. Maka wujud itu hanyalah satu.

Tiap persekutuan dan perlawanan dari satu merupakan pembatasan dan menunjukkan tidak sempurna, sebab yang lain itu bukan yang pertama. Tetapi dalam dunia materi ada juga satu. Satu ini memungkinkan perjumlahan, oleh karena ada satu, mungkin ada banyak yang semacam. Ini kita namakan satu realistis atau materialistis. la disebut satu, sebab dalam realitas lainlah ia sebagai keseluruhan dari- pada keseluruhan yang lain. Yang satu itu, dalam realitasnya, bukan yang lain. Ini kesatuan tidak sempurna. Adapun kesatuan yang menunjukkan idee itu adalah kesatuan sempurna, demikian satunya sehingga mencakup seluruh yang wujud, tak mungkin ada lain. Untuk membedakan dari satu materi, satu sempurna ini kita namakan Yang Esa. 

Oleh karena idee sempurna, Yang Esa, ini sesuai dengan pendapat kebanyakan orang tentang Tuhan, mazhab ini disebut juga theisme (ketuhanan). 

Inilah dua pandangan yang ekstrem tentang alam jagar Realisme berpendapat bahwa satu-satunya realitas ialah alam nyata, sebab dapat dialami. Sedang idealisme meniadakan real tas alam jagat ini. 

Pandangan idealisme terhadap alam jagat memang merupakan masalah besar, sebab kesadaran kita sukar sekali untuk mengabaikan objektivitas dari alam ini. Jika kita katakan bahwa sekarang ini hujan, sukar diterima bahwa putusan yang kita adakan karena pengalaman itu keliru, sehingga hujan ini hasil kekeliruan saja. 

Memang kita kerapkali keliru sebab kekeliruan indera kita, yang mengalami sesuatu. Kita melihat langit biru, sedangkan langit itu tidak ada, kita melihat tongkat yang sebahagian terendam dalam air bengkok, tetapi sebetulnya tongkat itu lurus. Baik dalam sains, maupun dalam kehidupan sehari-hari kita harus mengakui bahwa kita dapat keliru. 

Tetapi kekeliruan semuanya pada prinsipnya dapat diubah menjadi pengetahuan yang benar, maknanya sesuai dengan realitas (kenyataan) yang se- henarnya. Realisme kritikal pada prinsipnya memang menerima alam ianat sebagai realitas, alam yang dapat kita alami. Tetapi tidaklah cepat-cepat mengatakan bahwa wujudnya alam itu seperti nampaknya kepada manusia. 

Oleh karena itu alam itu perlu diselidiki dan dikritik. Realisme ini malahan hendak mengetahui realitas dengan segala kemampuan manusia, dengan pengalaman dan bukan pengetahuan, asal realitas itu dapat diselami sepanjang kemampuan manusia itu. 

Jadi realisme kritikal menerima realitas alam, alam yang ubah. Ternyata bahwa alam itu, sebab berubah-ubah, mengandung segi negatif yaitu ketiadaan. Wujudnya tidak sempurna. Ini menun- tut keterangan, yang kita rumus seperti di atas: "dari mana datang- nya alam?" Menerima asal, sehingga yang sekarang ini berasal dari yang mendahuluinya boleh juga disebut keterangan, tetapi takkan sampai kepada keterangan terakhir, senantiasa yang mendahului itu menuntut yang mendahului lagi. Kalau rentetan ini dianggap keabadian materi, tidak memberi keterangan mengenai ketidakempurnaan alam. 

Baca juga: Hakikat Kehidupan Manusia

Oleh sebab itu tidak dianggap tidak sempurna. maka mereka menganggap ia bukanlah wujud itu sendiri. mereka mengemukakan alasan bahwa kalau ia wujud sendiri, maka alam akan berubah sempurna dalam wujudnya. 

Alam itu wujud, yang diwujudkan judkan, karena wujudnya merupakan sebab dan dasar serta mula dari segala wujud yang tidak sempuma itu. Memang wujud ini mencakup segala wujud, dan yang lainnya itu ikut-serta dengan wujud-sempurma itu. 

Dengan kata lain, wujud alam itu muncul dari dan diikut-sertakan oleh dan dengan wujud-sempurna itu. Wujud sempurna itu kita namakan Tuhan. Jadi Tuhan itu haruslah dinamakan pewujud dari segala wujud tidak sempurna, jadi bukan alam saja, melainkan apa saja. kelihatan atau tidak, asal bukan Tuhan, wujudnya diikutsertakan dengan dan oleh Tuhan dengan wujud-ilahi. Memberi wujud, mengikut-sertakan dengan wujud ini dari pihak Tuhan, kita namakan menciptakan. 

Dengan istilah Islamnya, Tuhan adalah khaliq sedang selainnya adalah makhluq, seperti dalam hal Tuhan menciptakan langit dan bumi. Dengan demikian, walaupun Tuhan mencakup segala yang wujud, namun ciptaannya itu lainlah dari Tuhan sendiri. Makhluk, bagaimana kewujudannya, dalam intinya selalu merupakan wujud-berian, wujud dari yang lain, bukan wujud sendiri, ini ketidak sempurnaannya. Sedang Tuhan ialah wujud yang sempurna, la mengatasi segala wujud yang bukan Tuhan, jadi Tuhan adalah transendes (mengatasi segala-galanya). 

Olch karena Tuhan merupakan prinsip dari wujud makhluk, maka makhluk, supaya tetap wujud, harus didukung oleh Tuhan, seluruh makhluk itu merupakan wujud yang tergantung dari Tu- han. Tuhan menyelenggarakan seluruh alam dengan segala isinya. Walaupun Tuhan ada pada ciptaannya sebagai pewujud yang terus-menerus sebagai penyelenggara-Ilahi, tetapi oleh karena Tuhan tetap lain dari makhluk, maka dengan sendirinya makhluk itu tetap harus berhubungan dengan Tuhan sebagai hamba, makhluk harus memper-Tuhankan penciptanya. 

Dalam hubungan khalik dan makhluk ini, pandangan Islam adalah: Tiada Tuhan kecuali Allah, yang bermakna realitas ada dua: realitas (kenyataan) yang sempurna yaitu Tuhan atau khalik dan realitas yang tidak sempurna yaitu alam jagat atau makhluk.

Tulisan ini adalah berasal dari Buku Hasan langgulung yang berjudul Manusia Dan Pendidikan