Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembagian Ilmu Dalam Perspektif Al-Ghazali

Pembagian Ilmu Dalam Perspektif Al-Ghazali

Ilmu Sebagai Proses

Kembali kita kepada pembahasan ilmu sebagai proses tadi. Seperti telah dikatakan, al-Ghazali mengakui adanya hakikat, tetapi ia tidak sanggup sampai ke hakikat itu tanpa memper- soalkan apa dia ilmu itu, Di sini muncullah ilmu deria ke depan, sebab ia adalah ilmu yang secara langsung. 

Tetapi ilmu langsung dan nampak mudah ini, kemudian menunjukkan kepalsuannya jika ditilik dari dekat. Sebab pengalaman menunjukkan bahwa ilmu deria itu tunduk kepada angan-angan dan kesesatan. Al-Ghazali dalam salah satu bukunya, ketika membincangkan ten- tang masalah ilmu tentang tipuan deria, di mana beliau membawakan berbagai contoh, bahwa mata kita melihat matahari nampak kecil sekali, bintang-bintang di langit seakan-akan matauang- matauang yang bertebaran di atas permadani biru, sedang akal berkata bahwa matahari itu lebih besar dari bumi, sedang bintang-bintang itu jauh lebih besar dari apa yang nampak pada kita itu. 

Artikel Terkait:

  1. Konsep Ilmu Dalam Perspektif Al-Ghazali
  2. Manusia Dalam Perspektif Hasan Langgulung
  3. Falsafah Pendidikan Dalam Perspektif Ibnu Sina
  4. Manusia dan Pendidikan Dalam Perspektif Ibnu Khaldun

Dalam kitabnya al-Munqiz, Al-Ghazali menambahkan bahwa tipuan daya yang menyebabkan beliau ragu kepada semua pengetahuan manusia. Oleh sebab itu, kata al- Ghazali, deria itu menipu kita dan karena itu pengetahuan deria itu semuanya tidak dapat diyakini, dan bukanlah ilmu hakiki. Tentang ilmu atau pengetahuan akal al-Ghazali menyebutkan misal tentang bagaimana orang bisa meragukan tentang hakikat matematik dan logika yang mengatakan bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga dan bahwa suatu itu tidak mungkin mempunyai dua sifat yang bertentangan dalam waktu yang sama atau berada dalam dua tempat yang berlainan dalam waktu yang sama". 

Dalam salah satu bukunya al-Ghazali membandingkan akal itu dengan mata, dan ditegaskannya bahwa akal itu meng- atasi mata dalam hal kesanggupannya memperoleh ilmu yang mey akinkan. Di situ disebutnya tujuh hal yang menunjukkan kelebihan akal daripada mata dalam menanggapi hakikat. Di sini timbullah persoalan, kalau demikian halnya kenapakah orang-orang berakal berbuat salah dalam pandangan dan pemikirannya. Dijawab al-Ghazali, kesalahan bukanlah sebab akal itu, tetapi disebabkan khayalan dan angan-angan dicampurkan dengan akal, sedang akal yang bersih tidak mungkin berbuat salah dan sanggun menanggapi hakikat. 

Tetapi al-Ghazali mengakui bahwa terdapat kesulitan yang menghalangi penjernihan dan abstraksi akal ini. Sehingga beliau menjelaskan bahwa hampir mustahil memberlakukan penjernihan hati itu sebelum mati. Perselisihan faham yang berterusan antara akal dan angan-angan yang menghambat pengetahuan akal yang sempurma, menurut al Ghazali, dari sebab jiwa semenjak dari awal kejadiannya selalu menghadapi serangan deria dan angan-angan, sedang akal datang kemudian sehingga ia tidaklah mudah menguasai jiwa kecuali dengan susah payah. Hubungan antara akal dan deria ini ada dua seginya. 

Baca juga: Perioderisasi Perkembangan Pendidikan Islam

Ilmu  khusus untuk Nabi-Nabi dan wali-wali yang masuk dalam hati tanpa perantara dari Allah, seperti firman Allah S.W.T. "Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari Kami" (Q. 18:66). Dalam bahasa Arab disebut ilmu ladunni dan biasa juga disebut ilham. Dan cara sufiahlah dilalui untuk mencapai ilmu ini, dan syaratnya adalah pengalaman langsung atau zauq. 

Orang-orang yang tidak mengerti cara sufiah ini mengingkarinya sama sekali. Al- Ghazali mengakui bahwa cara sufiah ini memang tidak mudah, namun al-Ghazali mendalami dan mengamalkannya, dan pada akhirnya sufiah itulah memberinya jawaban satu-satunya yang memuaskannya tentang yang dicarinya dalam kehidupan keaga maan yang hakiki. Itulah yang diamalkan al-Ghazali dalam perta paannya selama lebih sepuluh tahun sampai beliau wafat. 

Sebab didapatinya bahwa pengetahuan teori tentang sufiah ini tidak cukup, tetapi haruslah ditam bahkan amal pada teori itu. Amal ini adalah transformasi moral dan pengalaman langsung. Pengalaman sufiah tak dapat diceritakan hanya dirasakan, dengan jalan itulah, katanya, beliau mengetahui kesempurnaan cara sufiah, begitu juga mengetahui ciri-ciri khas kenabian dan hakikatnya'. 

Al-Ghazali juga menegaskan bahwa cara sufiah itu mempunyai syarat-syarat, yang pertama adalah kesucian hati yang tertumpu kepada Allah semata. Caranya ialah dengan "hati tenggelam dalam zikir kepada Allah dengan penuh syahdu" yang berakhir dengan "sirna dalam keesaan Allah S.W.T." 

Sikap manusia kepada Allah dengan cara ini menuntut agar manusia telah mengenal Allah sebelum itu. Al-Ghazali sampai kepada pengetahuan kepada Allah ini dengan melalui falsafah sebelum melalui cara sufiah. Peranan akal dalam cara sufiah ini berlaku dalam dua perkara pokok: 

Pertama: untuk sampai kepada ilmu sufiah melalui akal haruslah dipenuhi syarat-syarat berikut. Satu: mempelajari sebanyak mungkin ilmu yang boleh, dua: riyadah yang betul, tiga: berfikir, sebab jiwa yang télah belajar dan bersenam dengan ilmu sambil berfikir tentang ilmu-ilmu itu tentulah akan membukakan pintu yang gaib. 

Kedua: peranan akal yang kedua adalah mengeritik pengalaman-pengalaman sufiah dan menilainya dengan betul, sebab sifat mabuk di kalangan sufi mudah membawa sesat dan kata-kata yang tidak dimengerti, seperti katanya sendiri: "Orang-orang sufi berkata-kata menurut kehendak sendiri, oleh sebab itu jawaban-jawabannya berbeda-beda, ... sebab me- reka memperkatakan hanya tentang diri mereka saja". 

Di tempat lain beliau berkata: "tetapi mabuk mereka sudah reda dan akalnya sudah mulai bicara, yang mana akal itulah timbangan Allah di atas bumi ini, sadarlah mereka bahwa itu bukanlah nakikat kesatuan (ittihad) tetapi hanya semacam kesatuan (ittihad Ilmu sufiah, seperti juga ilmu akliah, menghendaki seseorang melepaskan diri dari dunia deria dan tenggelam dalam batin manusia yang lepas dari deria. 

Ilmu sufiah, menurut al Ghazali tidak lebih dari pendalaman amalan fikiran untuk mencapai ilmu-ilmu yang jernih dan bersih dari campuran alam deria. 

Ilmu Sebagai Objek

Yang kita maksudkan ilmu sebagai objek ialah yang dimak- sud dalam bahasa 'Arab m'alum, maknanya apa atau sesuatu yang diketahui kalau kita ibaratkan ada tiga hal yang berkait- an satu sama lain, yaitu yang tahu ('alim), proses tahu (ilm) dan yang diketahui (m'alum) maka yang dimaksudkan adalah yang terakhir ini. 

Orang-orang Yunani mempunyai objek-objek pengetahuan berlainan dari orang Mesir yang selanjutnya berlainan dengan tanggapan orang-orang Persi dan begitulah seterusnya. Perbedaan itu terletak pada pandangan mereka kepada apa yang penting, apa yang kurang penting diketahui, yang tidak penting, dan yang tidak patut atau tak perlu diketahui. Aristoteles, misalnya, menjeniskan ilmu kepada dua golongan besar, yaitu teoritis dan praktis. Ilmu teoritis terbagi pula kepada ilmu tabi'i, matematik dan metafisika. 

Sedang ilmu praktis terbagi pula kepada akhlak, pengurusan rumahtangga dan pengurusan negara atau politik. Penggolongan serupa ini juga dibuat oleh al-Kindi, dengan sedikit perubahan. Ibn Sina juga membuat penggolongan (classification) dengan perubahan dan perkembangan terhadap perincian ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya. 

Ibn Khaldunmenggolongkan ilmu kepada naqli dan 'aqli, yang masing-masing dibagi lagi kepada berbagai jenis. Usaha al-Ghazali sebagai objek ini merupakan suatu fenomena yang unik, sebab beliau bukan hanya membuat suatu macam, tetapi ada tiga macam. 

Yang pertama dibuat sebelum mengalami kerisis yang menyebabkan memilih jalan tasawuf. Pada periode pertama ini Al-Ghazali lebih dekat kepada para filosof. Contohnya adalah seperti kita lihat pada al-Kindi dan Ibn Sina. 

Sedang pada periode terakhir, sesudah memilih tasawuf, penjenisan ilmu itu mencerminkan pengaruh tasawuf di dalamnya, di mana dimasukkan ilmu mukasyafah yang tidak melalui deria dan akal. Uraian panjang lebar sebelum ini. Cuma perlu juga disebut di sini tentang perbandingan yang dibuat berkenaan dengan ilmu mukasyafah ini, di mana ia dibandingkan dengan sebuah sumur. 

Sumur itu bisa mendapatkan air dari lima anak sungai yang mengalir kepadanya Lima anak sungai diserupakan lima panca indera manusia yang menjadi saluran tempat masuknya pengetahuan ke akal manusia. Tetapi, kata al Ghazali selanjutnya, sumur itupun bisa mendapat air dari sumber lain, bukan dari lima anak sungai itu. 

Begitu jugalah manusia bisa memperoleh pengetahuan yang tidak melalui panca indera tetapi langsung dari hati yang terbuka kepada sumber ilmù yang sebenarnya Diumpamakannya hati ini dengan cermin, selama ia bersih maka ia dapat memantulkan segala benda yang melintas di depannya. Begitu jugalah hati, dapat menangkap segala ilmu selama ia bersih. 

Jadi tugas utama manusia adalah untuk menyucikan jiwa. Itulah fungsi ibadat formal dalam Islam. Kalau kita ambil sebagai misal, sembahyang ia harus didahului dengan kebersihan (taharah) dari hadas besar dan hadas kecil. Harus bersih pakaian dan tempat. Harus bersih niat, tidak bercampur riya dan nifaq. Sebenarnya al-Ghazali sampai kepada pilihannya kepada tasawuf ini bukan dengan sekejap mata, bukan satu dua bulan, satu dua tahun, tetapi berpuluh talhun dengan kerja keras, mengkaji segala macam ilmu yang ada di zamannya. 

Mula-mula ia mempelajari ilmu kalam dengan mendalam, segala yang telah ditulis orang dalam bidang itu dibacanya, malah beliau sendiri mengarang dalam bidang itu. Tetapi kesimpulannya adalah ilmu ka- lam tidak dapat menjawab keraguan yang timbul di hatinya, wa- laupun mungkin memuaskan segolongan tertentu di kalangan ma- nusia, tetapi terang tidak dapat meyakinkan golongan ahli-ahli falsafah. 

Oleh sebab itu ia mengkaji falsa fah secara mendalam dan da. pat pula beliau menerangkan titik-titik kelemahan falsafah itu, terutama sebab ulama-ulama Islam tidak berhasil menangkis alasan. alasan falsafah yang bertentangan dengan agama. Diuraikannya juga ilmu yang terdapat pada golongan falsafah ini, yaitu ilmu matematika, logika, alam, dan teologi. 

Tentang ilmu matematik atau sains dan tehnologi dan astronomi itu semuanya tidak dapat diragukan. Jadi tidaklah patut kita cegah orang mempelajarinya. Terutama sebab di situ tidak ada tanda-tanda yang memungkiri atau mengiakan agama. Kalau kita larang orang mempelajarinya niscaya mereka menyangka bahwa agama bertentangan dengan akal. Tetapi kita harus hati-hati agar jangan orang menyangka karena benarnya ilmu-ilmu ini maka umumnya pendapat filosof itu benar belaka. 

Begitu juga ada hubungan esensial antara logika dan agama. Sebab ilmu ini mengkaji jenis-jenis hujjah dan syarat-syaratnya, sedang ini perlu untuk menerangkan akidah. Ahli-ahli kalam juga telah menggunakan hujjah-hujjah yang menyerupai hujjah-hujjah ahli-ahli logika. Jadi mengkaji logika itu penting. Tetapi kita harus hati-hati supaya jangan orang menyangka bahwa semua pendapat filosof itu benar belaka. 

Tentang ilmu-ilmu alam yang mengkaji tentang langit, bintang-bintang, unsur-unsur kimia benda-benda organik, sebab yang menyebabkan persenyawaan unsur-unsur ini, dan perubahan ben- da-benda itu, semuanya adalah ilmu yang berguna untuk menge- tahui bahwa alam ini ciptaan Allah. Tetapi pendapat mereka tentang masalah-masalah ketuhanan inilah yang banyak salahnya, dan paling banyak mereka berselisih faham tentangnya. 

Filosof-filosof Islam telah berusaha memadukan pendapat Aristoteles dan akidah Islam, tetapi mereka gagal. Ini yang menyebabkan al-Ghazali mengkafirkannya. Al-Ghazali mengeritik mereka sebab mereka pura-pura menerima pendapat golongan tasawuf untuk menipu orang tentang keadaan mereka sebenarnya. Begitulah serba sedikit corak pandangan al-Ghazali ditinjau dari sergi falsafah dan tasawuf. 

IImu Dan Pendidikan Mutakhir

Seperti telah disebutkan di awal kertas ini bahwa ilmu ini dibahas dalam tiga disiplin teoritis di dalam pendidikan, yaitu falsafah pendidikan, sosiologi pendidikan, dan psikologi pendidikan. Tetapi sebelum kita membahas hal ini secara mendalam, ada baiknya kita kembali menengok sejenak kepada suatu peristiwa yang dianggap orang sebagai batu tonggak permulaan berpisahnya disiplin-disiplin sains dari induknya yang bernama falsafah. 

Peristiwa itu ialah waktu Descartes (1596-1650) menemukan bahwa dia itu wujud dengan ucapannya yang terkenal: "Cogito Ergo Sum" (Aku ragu karena itu aku wujud). Kita harus ingat bahwa al Ghazali pun mengalami ragu, malah ragunya itu membawa kerisis sampai enam bulan lamanya sebelum menemukan jalan yang akan dipilihnya. 

Tetapi Descartes ragu untuk tidak meragukan wujudnya, jadi ragu yang membawa yakin. Tetapi begitu ia nyatakan keyakinan wujud itu begitu timbul persoalan baru, bagaimana kita menentukan objek pengamatan itu? Apakah ia bebas di luar orang yang mengamati seperti kata John Locke, ataukah ia bergantung kepada ide pengamat tentang benda itu, seperti kata Immanuel Kant? 

Inilah dua mazhab yang ekstrim terhadap pengetahuan dalam sejarah falsafah Barat, yaitu mazhab realisme menurut John Locke dan mazhab idealisme menurut Kant. Antara kedua-dua kutub ini nanti terdapat berbagai-bagai mazhab yang mencampur ini dan itu, ada yang miring ke kiri dan ada yang ke kanan, seperti empiricisme, saintisme, eksperimentalisme, instru- mentalisme, relativisme dan lain-lain. 

Kalau kita membuat pembahagian ilmu seperti yang kita buat ketika menyoroti ilmu menurut al-Ghazali. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu itu sebagai proses dan ilmu sebagai objek. Maka akan kita dapati bahwa ilmu sebagai proses ditangani dalam psikologi dan sosiologi sedang ilmu sebagai objek dita ngani oleh sosiologi dan falsafah. 

Dalam psikologi sendiri sudah terdapat sekurang-kurangnya tiga mazhab tentang ilmu. Dalam mazhab Gestalt ilmu dianggap perkaitan antara konfigurasi alam sekitar dan gerakbalas. Sedang dalam teori kognitif ilmu adalah tindak-balas benda hidup (manusia) terhadap alam sekitar melalui skema dalam tahap perkembangan tertentu. Ini menunjukkan bahwa proses berlakunya pengetahuan pada tahap individu itu sendiri memang kompleks, sebab bukan hanya pengamatan saja, tetapi juga di situ skema di mana nilai-nilai, sikap, tujuan dan lain-lain turut memegang peranan. 

Dalam sosiologi, ilmu dibincangkan dari segi kommunitas ahli yang setuju tentang nilai-nilai, tujuan, norma-noma dan lain-lain yang disebut paradigma. Sosiologi juga membincangkan tentang kaitan ideologi dengan ilmu dan tentang kelas-kelas intelektual dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai otak masyarakat itu yang mengatur pergerakan masyarakat tersebut. 

Dalam falsafah biasanya ilmu dibincangkan sebagai objek. Ini dikarenakan bahwa ilmu dijeniskan menurut keutamaan dan peranannya dalam membentuk anggota-anggota masyarakat. 

Ditinjau dari kacamata pendidikan mutakhir maka dapat dikatakan bahwa pandangan al-Ghazali tentang ilmu sebagai proses ada persamaannya dengan pendapat sarjana-sarjana psikologi mutakhir, walaupun yang terakhir ini belum sampai mengkaji tentang ilham atau ilmu ladunni seperti yang dimak sudkan oleh Imam al-Ghazali. 

Dengan kata lain pendidikan mutakhir baru mengkaji ilmu deria dan ilmu akal, lebih dari itu tidak ada. Walaupun al-Ghazali sendiri memang menekankan bahwa orang yang dapat mencapai mukasyafah itu memang sedikit sekali, sedang sebahagian besar manusia sibuk berkelahi di kulit saja, tetapi kita harus ingat bahwa konsep elita dalam pendidikan mutakhirpun wujud, terutama dalam konsep taburan nommal kemampuan-kemampuan manusia. 

Manusia genius kadang-kadang harus dikorbankan untuk kepentingan mayoritas. Tentang ilmu sebagai objek, al-Ghazali membawa suatu pemikiran yang betul unik di kalangan pemikir-pemikir Islam sebelum dan sesudah zamannya. Penggolongan ilmu yang dibawanya betul-betul menceminkan insight yang mendalam setelah mendalami segala macam ilmu pengetahuan di zamannya. 

Penutup 

Kajian ini untuk memberi sorotan tentang ilmu menurut pandangan al-Ghazali ditinjau dengan kacamata pendidikan mutakhir. Ilmu dalam perspektif al Ghazali dapat dilihat dari dua segi. Yaitu ilmu dilihat sebagai sebuah proses dan ilmu sebagai objek

Ilmu sebagai proses melibatkan ilmu deria, ilmu akal, dan ilmu ladunni. Dalam pendidikan mutakhir dua bentuk ilmu yang pertama, yaitu ilmu deria dan ilmu akal memang wujud, sedang ilmu ladunni atau ilmu ilham menurut pengertian al-Ghazali belum ada tanda-tanda la akan menjadi țumpuan kajian pada masa datang. 

Sebagai obyek ilmu menurut pandangan al Ghazali, bukan saja menghindari pengaruh falsafah Yunani di zamannya, tetapi juga penulis-penulis dalam pendidikan pada zaman mutakhir belum dapat menjangkau insight beliau. Agaknya di zaman yang ditandai dengan kemiskinan spiritual dan moral seperti zaman kita sekarang ini idee-idee al Ghazali tentang ilmu dan implikasinya dalam pendidikan sangatlah diharapkan.

Tulisan ini adalah dari Tulisan Hasan langgulung yang berjudul Manusia Dan Pendidikan