Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Perkembangan Ilmu Tafsir

Sejarah Perkembangan Ilmu Tafsir

Dalam materi ini dikaji tentang beberapa pokok bahasan penting yaitu tentang Tafsir dimasa Nabi dan dimasa Shahabat. Kemudian Tafsir Klasik dan Tafsir Tafsir pada Era Kontemporer


A. Tafsir di Masa Nabi dan Masa Sahabat

Para Sahabat Mengetahui Tafsir Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab menurut uslub-uslub-nya. Seluruh lafad Al-Qur'an adalah bahasa Arab asli terkecuali beberapa kata yang berasal dari bahasa lain yang telah menjadi bahasa Arab serta dipakai menurut uslub bahasa Arab sendiri.

Lafad-lafad itu ada yang dikehendaki hakikatnya, ada yang dike hendaki majaz-nya, ada pula yang dikehendaki kinayah-nya.

Rasulullah saw. setiap menerima ayat Al-Qur'an langsung menyampai kan kepada para sahabat serta menafsirkan mana yang perlu ditafsirkan. Penafsiran Rasulullah itu adakalanya dengan sunnah qauliyah, adakalanya dengan sunnah fi'liyah dan adakalanya dengan sunnah taqririyyah. Dalam pada itu tafsir yang diterima dari Nabi sendiri sedikit sekali. Aisyah ra berkata:”Nabi menafsirkan hanya beberapa ayat saja, menurut petunjuk-petunjuk yang diberi Jibril.”

Oleh karena mengetahui tafsir adalah hal yang sangat penting, maka para sahabat bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur'an, yakni me mahaminya dan menghayati maknanya. Abd ar-Rahman as-Salamy berkata:

حدثنا الذين كانوا يقرؤننا القران كعثمان ابن عفان ، وعبد الله بن مسعود وغيرهما أنهم كانوا إذا تعلموا من التي عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها. قالوا: فنقلنا القرآن والعلم والعمل

”Orang-orang yang mengajarkan kami Al-Qur'an, seperti Utsman ibn Affan, Abdulah ibn Mas'ud dan lain-lain menerangkan kepada kami bahwasanya apabila mereka mempelajari dari Nabi sepuluh ayat Al-Qur'an, mereka tidak mempelajari ayat ayat yang lain dahulu sebelum mereka mempelajari ayat-ayat yang sepuluh itu. Mereka berkata:”Kami nukilkan dari Rasulullah Al-Qur'an, ilmu dan amal.”

Memang apabila mereka tidak mengetahui makna sesuatu lafad Al-Qur'an atau sesuatu maksud ayat, segeralah mereka bertanya kepada Rasul sendiri atau kepada sesama sahabat yang dipandang dapat men jelaskannya. Isya ibn Mu'awiyah berkata:

مثل الذين يقرون القرآن وهم لايعلمون تفسيره كمثل قوم جاءهم كتاب ملكهم ليلا وليس عندهم مصباح فتداخلتهم روعة ولايدرون ما الكتاب. ومثل الذين يعرفون تفسيره كمثل رجل جاءهم بمصباح فقرؤ ما في الكتاب.

”Orang-orang yang membaca Al-Qur'an sedang mereka tidak mengetahui tafsir nya adalah seumpama orang-orang yang datang kepadanya sebuah surat dari raja pada malam hari, sedang mereka tidak mempunyai pelita. Mereka dipengaruhi ketakutan dan mereka tidak mengetahui isi kitab itu. Orang-orang yang menge tahui tafsirnya adalah seumpama seorang yang dibawa kepadanya sebuah lampu, lalu mereka dapat membaca apa yang tertulis dalam surat itu.”

Mempelajari tafsir tidak sukar bagi para sahabat karena mereka menerima Al-Qur'an langsung dari Shahib ar-Risalah dan mempelajari tafsir Al-Qur'an pun dari beliau sendiri. Mereka mudah mengetahui tafsir Al-Qur'an dan mudah memahaminya karena Al-Qur'an itu dalam bahasa mereka dan karena suasana-suasana dan peristiwa-peristiwa turun ayat dapat mereka saksikan. Pernah para sahabat bertanya kepada Rasul tentang tafsir “dhulm” dalam ayat:

”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adulkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. Al-An'am [ 6 ]: 82)

Rasulullah saw. menerangkan kepada mereka bahwa dikehendaki dengan “dhulm” dalam ayat ini ialah syirik. Beliau menguatkan tafsirnya dengan firman Allah:”Bahwasanya syirik itu adalah zhulm (aniaya) yang besar.”(QS. Luqman [ 31 ]: 13) Ali berkata:”Aku bertanya kepada Nabi tentang makna yaum al-hajji al-akbar. Maka Nabi menjawab:”Yaum an-nahri (hari menyembelih kurban).”Maka aku pun menafsirkan yauom al-hajji al-akbar dengan tafsir yang diberikan oleh Nabi kepadaku itu.”

Dan memang tidak sedikit di dalam Al-Qur'an ayat-ayat yang tidak dapat kita mengetahui maksudnya dengan hanya mempergunakan ke mampuan tenaga bahasa saja. Umpamanya, apakah yang dikehendaki dengan Lailah al-Qadar ? Dalam pada itu tiadalah semua sahabat sederajat dalam mema hami Al-Qur'an dan dalam mengetahui makna mufradat dan tarakib-nya.

Ada di antara mereka yang memahaminya secara ijmal dan ada yang me ngetahuinya secara tafshil. Kami berkata demikian, walaupun Ibnu Khaldun menandaskan bahwa semua sahabat memahami Al-Qur'an, mengetahui makna mufra dat dan tarakib-nya adalah karena menurut kenyataan, tidaklah semua anggota sesuatu masyarakat mengetahui dengan sempurna seluruh kata-kata dari bahasa yang dipergunakan masyarakat itu.

Para sahabat dalam memahami Al-Qur'an dan mengetahui tafsir Al-Qur'an berlebih kurang pemahamannya dan penafsirannya adalah karena mereka tidak semuanya mempunyai alat yang cukup untuk me mahami Al-Qur'an. Ada di antara mereka yang luas ilmunya tentang kesusasteraan Jahiliyah, ada yang tidak. Ada yang terus menerus menyertai Rasul dapat mempersaksikan sebab nuzul, ada yang tidak. Ada di antara mereka yang mengetahui dengan sempurna adat istiadat bangsa Arab dalam pemakaian bahasa, ada yang tidak. Ada yang mengetahui dengan baik tindak tanduk bangsa Yahudi, ada yang tidak.

Para sahabat pada umumnya tidak menulis tafsir (hadits-hadits tafsir) sebagaimana mereka tidak menulis dan tidak mendewankan umum hadits Jelasnya, sebagaimana mereka tidak menulis hadits-hadits tasyri”(hadits hukum), hadits-hadits targhib dan tarhib, hadits tadzkir, begitu juga mereka tidak menulis hadits-hadits tafsir. Sebab dan illat-nya pun sama. Yakni, mereka tidak suka menulisnya adalah karena takut tercampurnya Al-Qur'an dengan tafsir yang ditulis itu.

Sumber-sumber Tafsir di Masa Sahabat dan Perselisihan Mereka tentang Menafsirkan Al-Qur'an Berdasarkan Ijtihad

Penjelasan-penjelasan (tafsir-tafsir) yang dinukilkan dari Rasul saw. itulah pokok-pokok pertama bagi penafsiran Al-Qur'an. Seluruh para sahabat sepakat menetapkan pokok ini, yakni penafsiran dengan dasar (nukilan-nukilan dari Nabi saw.). Mengenai penafsiran dengan kemampuan ijtihad, para sahabat ber selisih. Sebagian sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an hanya berpedoman kepada riwayat semata, tidak mau mempergunakan ijtihad. Sebagian yang lain di samping menafsirkan ayat dengan hadits-hadits yang diteri manya dari Nabi atau dari sesamanya, mereka menafsirkan juga dengan ijtihad. Tegasnya, di samping mereka menafsirkan dengan atsar, mereka juga menafsirkan Al-Qur'an dengan berpegangan kepada kekuatan bahasa Arab dan asbab an-nuzul. Karena itu, dasar tafsir yang kedua adalah ijtihad. Di antara sahabat yang tidak membenarkan penafsiran dengan ijtihad ialah Abu Bakar ra. dan Umar ra. Abu Bakar ra. berkata:

اي ارض تقلنى وأي سماء تظلني اذا قلت في كتاب الله ما لا أعلم.

”Bumi manakah yang menampung aku dan langit manakah yang menaungi aku, apabila aku mengatakan mengenai kitab Allah sesuatu yang tidak aku ketahui.”

Beliau mengatakan yang demikian itu di waktu orang bertanya tentang makna Abban. Diriwayatkan oleh Anas bahwa Umar pernah bertanya tentang makna abban, tetapi sebelum orang menjawab beliau mencabut pertanyaan itu seraya berkata:”Inilah suatu takalluf, tidak keberatan kita tidak menge tahuinya.”

Di antara sahabat yang menafsirkan Al-Qur'an dengan ijtihad di samping riwayat ialah Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas. Kedua beliau ini berusaha mengumpulkan sunnah yang mengenai tafsir dan keduanya terkenal mahir dalam bidang takwil atau istinbath. Karena itu, banyaklah pendapat yang beliau ketengahkan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an.

Sebagian sahabat dan kebanyakan tabi'in menetapkan bahwa Ibnu Abbas itu adalah Turjuman al-Qur'an (penafsir Al-Qur'an). Ijtihad itu telah menyebabkan perbedaan pendapat antara para sa habat yang berijtihad itu dalam menafsirkan lafad dan ayat, seperti yang dapat kita rasakan apabila kita mempelajari tafsir Ibnu Jarir ath-Thabary.

Ringkasnya, adab-adab jahily (kesusasteraan zaman Jahiliyah), baik sya'ir maupun natsar, sebab nuzul dan adat-adat kebiasaan orang Arab dalam mempergunakan tutur kata, menjadi sumber tafsir bagi golongan yang kedua ini. Selain dari itu, para sahabat menjadikan pula kisah kisah dan penjelasan-penjelasannya, dasar bagi tafsir.

Umpamanya, apabila mereka mendengar kisah anjing pemuda-pe muda gua, mereka berkata:”Bagaimana rupa dan warnanya.”Di waktu mereka membaca kisah Khidhir beserta Musa, mereka bertanya pula:”Siapakah nama anak yang dibunuh Khidhir itu ?”Penjelasan-penjelasan ini banyak terdapat dalam kitab Taurat dan dalam tambahan-tambahannya. Isi Taurat dan tambahan-tambahannya diterima para sahabat dari orang orang Yahudi yang telah masuk Islam seperti Ka'ab al-Ahbar dan Wahab ibn Munabbih. Ibnu Abbas banyak menemani Ka'ab al-Ahbar.

Jelasnya, apabila para sahabat ingin mengetahui berita-berita umat dahulu yang ada hubungannya dengan ayat-ayat yang ditafsirkan atau mereka merasa perlu mengetahui pendapat ulama-ulama Yahudi dan Nasara pada beberapa masalah yang sedang mereka bicarakan, sedang riwayat yang shahih dari Nabi tidak diperoleh, maka mereka bertanya kepada orang Nasrani atau Yahudi yang telah masuk Islam yang ke banyakan berdiam di padang-padang gurun. Mereka menerima riwayat riwayat dahulu itu dari hikayat-hikayat dan kisah-kisah yang diceritakan orang tua mereka.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya berkata:”Apabila orang Arab ingin mengetahui tentang permulaan kejadian alam dan rahasia-rahasianya, mereka bertanya kepada Ahl al-Kitab (ahli Taurat dan ahli Injil), seperti Ka'ab al-Ahbar, Wahab ibn Munabbih dan Abdullah ibn Salam. Keba nyakan mereka adalah orang-orang yang berdiam di padang-padang gurun.”

Dengan demikian, masuklah penjelasan-penjelasan kisah yang di terangkan orang-orang Yahudi ke dalam bidang-bidang tafsir, dalam hal hal yang tidak berpautan dengan hukum. Memang para sahabat banyak yang sengaja bertanya kepada Ahl al Kitab tentang kisah-kisah itu walaupun Nabi saw. tidak membenarkan para sahabat mempercayai kisah-kisah itu. Maka dengan tidak disadari kisah-kisah itu menjadi bahan tafsir.

Para sahabat, seperti Ali, Abdullah ibn Abbas, Ibnu Mas'ud, Ubay ibn Ka'ab menyampaikan dan menerangkan tafsir-tafsir yang mereka terima dari Rasul dan riwayat-riwayat yang mereka terima dari orang Israil kepada tabi'in. Mereka menerangkan tafsir Al-Qur'an, baik dengan jalan dirayah maupun dengan jalan riwayah, serta sebab-sebab nuzul dan tentang orang yang karena mereka diturunkan ayat kepada tabi'in. 

Para tabi'in meriwayatkan segala apa yang diterangkan sahabat kepada tabi'it-tabi'in Kemudian datang pula thabagat yang mengiringi mereka, kemudian meriwayatkan apa yang diterima dari tabi'in itu. Demikianlah terus menerus berangsur-angsur dari thabaqat ke thabagat dan tiap-tiap thabagat itu tetap menghubungi orang Nasrani yang masuk Islam.

Para sahabat menghubungi orang-orang seperti Wahab, Ka'ab dan Abdullah ibn Salam. Para tabi'in menghubungi seperti Ibnu Juraij. Permulaan masuknya Israiliyah masuk ke dalam tafsir adalah ketika para sahabat ingin berijtihad dengan keterangan-keterangan orang Yahudi dan Nasrani yang menunjuk kepada kebenaran Nabi.

Pada mulanya para sahabat, seperti Abdullah ibn Umar meriwayatkan isi kitab Taurat semata mata untuk menguatkan keterangan dalam menantang orang-orang Yahudi dan Nasrani, bukan untuk menambah atau mengubah isi Al-Qur'an. Akan tetapi yang sangat kita sesali ialah sesudah beberapa lama masa berlalu, berpindahlah fungsi Israiliyah dari fungi ijtihad kepada fungsi takwil, takhrij dan tafsir yang memalingkan maksud Al-Qur'an kepada maksud yang sesuai dengan ayat sendiri, atau dengan hadits, atau dengan pendapat para sahabat.

Sahabat menafsirkan Al-Qur'an umumnya menurut penerangan riwayat semata, yakni menurut hadits yang mereka terima. Menafsirkan Al-Qur'an dengan berpegang pada kaidah-kaidah bahasa dan kekuatan ijtihad pada masa sahabat, belum umum dilakukan.

Sahabat-sahabat yang Terkemuka dalam Bidang Ilmu Tafsir

As-Sayuthy dalam Al-Itqan mengatakan bahwa sahabat yang terkemuka dalam bidang ilmu tafsir ada 10 orang yaitu:
  1. Abu Bakar ash-Shiddiq.
  2. Umar al-Faruq.
  3. Utsman Dzun Nurain,
  4. Ali ibn Abi Thalib.
  5. Abdullah ibn Mas'ud.
  6. Abdullah ibn Abbas.
  7. Ubay ibn Ka'ab.
  8. Zaid ibn Tsabit.
  9. Abu Musa al-Asy'ary.
  10. Abdullah ibn Zubair.
Yang paling banyak diterima tafsimnya dari kalangan khulafa ialah Ali ibn Abi Thalib. Sedangkan yang paling banyak diterima tafsirnya dari kalangan bukan khulafa ialah Ibnu Abbas, Abdullah ibn Mas'ud dan Ubay ibn Ka'ab.

Keempat mufassir shahaby ini mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas dalam bahasa Arab. Mereka selalu menemani Rasul saw. yang memungkinkan mereka mengetahui kejadian-kejadian dan peristiwa peristiwa nuzul al-Qur'an dan tidak pula merasa ragu menafsirkan Al Qur'an dengan ijtihad. Ibnu Abbas banyak pengetahuannya dalam hal tafsir, karena dapat bergaul lama dengan sahabat-sahabat besar, walaupun beliau tidak lama dapat bergaul dengan Rasulullah saw.

Para Tabi'in yang Terkenal dalam Bidang Tafsir

Sesudah berlalu zaman sahabat, tersebarlah dalam kalangan tabi'in menerima riwayat-riwayat dari sahabat itu. ulama-ulama y yang Tabi'in yang terkenal ialah murid-murid Ibnu Abbas dan murid murid Ibnu Mas'ud. Yang meriwayatkan tafsir dari Ibnu Abbas ialah Mujahid ibn Jabr, Atha ' ibn Abi Rahah dan Ikrimah maula Ibnu Abbas.

Semua beliau ini dari ulama Makkah dari golongan Mawali. Yang paling banyak meriwayatkan dari Ibnu Abbas adalah Ikrimah dan yang paling sedikit ialah Mujahid. Semasyhur-masyhur tabi'in yang meriwayatkan hadits tafsir dari Ibnu Mas'ud ialah Alqamah an-Nakha'y, Masruq ibn Al-Ajda ' al-Hamdany, Ubaidah ibn Amr as-Silmany dan Al-Aswad ibn Yazid an-Nakha'y.

Ibnu Taimiyah berkata:”Sepandai-pandai ulama tabi'in dalam urusan tafsir ialah sahabat-sahabat Ibnu Abbas dan sahabat-sahabat Ibnu Mas'ud dan ulama-ulama Madinah seperti Zaid ibn Aslam dan Malik ibn Anas.”

Yang paling terkenal di antara para tabi'in ialah Mujahid dan Sa'id ibn Jubair. Ibnu Taimiyah berkata:”Oleh karena Mujahid dipandang se orang mufassir tabi'in yang besar, berpeganglah Asy-Syafi'y dan Al-Bukhary kepadanya.”An-Nawawy berkata:”Apabila kamu telah mengetahui tafsir Mujahid, cukuplah bagimu tafsirnya itu.”Dalam pada itu sebagian ulama tidak menerima tafsir Mujahid, dengan alasan bahwa beliau banyak bertanya kepada ahli kitab. ' Sufyan ats-Tsaury berkata:”Ambillah tafsir Al-Qur'an dari empat ulama besar yaitu Sa'id ibn Jubair, Mujahid, Ikrimah dan Dhahak ibn Muzahim.

Qatadah berkata:”Ulama tabi'in yang paling ahli dalam urusan ibadah adalah Atha ' Abi Rabah, dalam urusan tafsir adalah Sa'id ibn Jubair, dalam urusan sejarah (Sirah Nabawiyah) adalah Ikrimah dan yang paling ahli dalam urusan halal-haram atau fiqih ialah Al-Hasan al-Bishry.”Dan masuk pula ke dalam golongan ini Abd al-Aliyah dan Qatadah. (Dalam pada itu, Malik ibn Anas tidak menerima riwayat Qatadah ini). Dan beberapa ulama tabi'in lagi.

Tafsir dalam Abad Kedua Hijrah (Masa Pembukuan Tafsir)

Sudah jelas bahwa sejak zaman Nabi, zaman sahabat dan zaman tabi'in, tafsir-tafsir itu dipindahkan dari seseorang kepada seseorang atau diriwayatkan sebagai umum hadits yang lain dari mulut ke mulut dan belum dibukukan.

Pada permulaan abad Hijrah, yaitu ketika sudah banyak pemeluk Islam yang bukan dari bangsa Arab dan ketika bahasa Arab dipengaruhi bahasa Ajam, barulah para ulama merasa perlu untuk membukukan tafsir agar dapat diketahui maknanya oleh mereka yang tidak mempunyai saliqah bahasa Arab lagi. Pada permulaan zaman Abbasiyah, barulah ulama-ulama mengum pulkan hadits-hadits tafsir yang diterima dari sahabat dan tabi'in.

Mereka menyusun tafsir dengan cara menyebut sesuatu ayat, kemudian menyebut nukilan-nukilan yang mengenai tafsir ayat itu dari sahabat dan tabi'in. Dalam pada itu, tafsir juga belum mempunyai bentuk yang ter tentu dan belum tertib mushhaf. Hadits-hadits tafsir itu diriwayatkan secara berserak-serak untuk tafsir bagi ayat-ayat yang terpisah-pisah dan masih bercampur dengan hadits-hadits lain yakni hadits-hadits muamalah, hadits munakahah dan sebagainya. Demikian keadaan tafsir pada tingkat pertama.

Hadits-hadits Tafsir dan Pemisahannya dengan Hadits hadits yang Lain

Berulang kali sudah kami kemukakan bahwa tafsir sejak dari zaman Nabi hingga kepada masa Abbasiyah adalah berbentuk hadits bahkan merupakan bagian dari hadits.

Seseorang perawi terkadang meriwayatkan sesuatu hadits me ngenai tafsir, terkadang mengenai fiqih, terkadang mengenai ghazwah, dan terkadang mengenai sesuatu urusan masyarakat. Maka pada per mulaan masa Abbasiyah timbullah usaha untuk mengumpulkan hadits hadits yang sama obyeknya dan memisahkannya dari yang lain serta menertibkan babnya seperti yang dilakukan oleh Malik ibn Anas dalam Al-Muwaththa '. Beliau mengumpulkan hadits-hadits hukum. Dan seperti yang dilakukan oleh Muhammad ibn Ishak. Beliau mengumpulkan hadits-hadits sirah serta tambahan-tambahan yang diambil dari sya'ir dan cerita-cerita zaman dahulu.

Kedudukan hadits terhadap ilmu-ilmu syari'ah sama dengan ke dudukan falsafah terhadap ilmu akal. Kemudian barulah ilmu jiwa, ilmu tabi'ah, ilmu masyarakat (sosiologi) dipisahkan dari ilmu falsafah. Ilmu-ilmu syari'ah pun satu demi satu terpisah dari ilmu hadits. Akan tetapi ulama-ulama hadits itu tetap memandang hadits sebagai suatu pokok atau dasar yang mencakup segala cabang ilmu. Di antara nya ialah hadits tafsir.

Karena itulah kita mendapatkan bab tafsir dalam Shahih Bukhary dan Shahih Muslim. Teranglah bahwa tafsir itu suatu bagian dari hadits. Diriwayatkan dari Nabi hal-hal yang mengenai Al-Qur'an, mengenai keutamaannya dan mengenai tafsir sebagian ayatnya.

Sebagaimana umum hadits ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dha'if, begitu juga hadits-hadits tafsir. Imam Ahmad berkata:”Hadits yang marfu ' mengenai tafsir adalah sedikit sekali yang shahih. Kebanyakan pemalsuan adalah mengenai riwayat riwayat dari Ali dan Ibnu Abbas.

Usaha Mengumpulkan Hadits-hadits Tafsir

Untuk memisahkan hadits-hadits tafsir dari umum hadits, segolongan ulama hadits berusaha mengumpulkan hadits-hadits marfu ' dan hadits hadits mauquf yang mengenai tafsir saja. Penuntut-penuntut hadits di Makkah mengumpulkan hadits-hadits tafsir yang didapatkan pada ulama-ulamanya. Ulama-ulama Makkah seperti Mujahid, Ikrimah dan Sa'id ibn Jubair meriwayatkan tafsir y yang diterima dari Ibnu Abbas. Ulama-ulama Kufah seperti Alqamah, Al Aswad ibn Jazid, Ibrahim an-Nakha'y dan Asy-Sya'by meriwayatkan hadits-hadits tafsir yang diterima dari Ibnu Mas'ud. 

Sesudah itu datang thabagat yang mengumpulkan segala pendapat sahabat dan tabi'in dari berbagai kota. Walhasil, mula-mulanya penduduk sesuatu kota mengumpulkan hadits yang ada di kota mereka sendiri. Kemudian mereka melawat ke berbagai-bagai kota yang lain untuk mengumpulkan hadits tafsir.

Maka di antara tokoh-tokoh yang berusaha mengumpulkan hadits hadits dari berbagai daerah itu ialah:
  1. Sufyan ibn Uyainah (198 H.).
  2. Waki ' ibn al-Jarrah (196 H.).
  3. Syu'ban ibn al-Hajjaj (160H).
  4. Ishaq ibn Rahawaih (238 H.).
Semua beliau-beliau ini adalah dari ulama hadits. Karenanya usaha mereka adalah mengumpulkan sesuatu bab hadits.

Tafsir Mempunyai Bentuk yang Tertentu

Dalam tingkatan yang ketiga barulah terpisah benar-benar hadits tafsir, mula-mula ayat-ayat itu tidak ditafsirkan menurut tertib mushhaf dan barulah dibuat tafsir untuk tiap-tiap ayat menurut tertib mushhaf.

Sepanjang pemeriksaan Ibnu An-Nadim, hanya Al-Farra ' yang mula mula mentafsirkan ayat demi ayat menurut tertib mushhaf yang dilaku kan atas permintaan Umar ibn Bakir. Al-Farra ' mendiktekan tafsirnya kepada murid-muridnya dalam masjid pada tiap-tiap Jum'at. Walhasil, pada akhir abad yang kedua barulah hadits-hadits tafsir dipisahkan dari umum hadits dan disusun tafsir menurut tertib Al-Qur'an.


                                                     

Referensi:
Dari Buku "Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qurán dan Tafsir" oleh TM. Hasbi Ash-Shiddieqy