Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Jitu Mengatasi Keropos Tulang

Cara Jitu Mengatasi Keropos Tulang

Upaya penyembuhan osteoporosis secara paripurna dilakukan dengan terapi kombinasi yaitu terapi farmakologik dengan menggunakan obat-obatan bersamaan dengan terapi fisik (phisiotherapy) yaitu latihan fisik atau olahraga; disamping itu disertai pula dengan terapi nutrisi atau pengaturan makanan.

Terapi Farmakologi

Penggunaan obat-obatan bertujuan pertama: untuk membantu pembentukan tulang dan kedua : untuk mengurangi perombakan tulang. Yang membantu pembentukan tulang adalah hormon steroid anabolik dan fluorida. Yang mengurangi perombakan tulang adalah kalsium karbonat, kalsitonin dan difosfonat. Kalsitonin tersedia dalam kemasan injeksi dan semprotan hidung. Difosfonat mempunyai efek mencegan perombakan tulang. Derivat difosfonat yaitu etidronat ditambah suple- mentasi kalsium karbonat sangat efektif untuk pengobatan osteoporosis pasca menopause (Kroll &Dawson Hughes, 1994). Salah satu cara pengobatan yang lain adalah dengan terapi sum hormon. Terapi Sulih Hormon atau TSH adalah terjemahan dari Hormone Replacement Therapy (HRT) yang menggunakan hormon estrogen dan hormon progesteron.

Baca Juga: Penyebab Penyakit Keropos Tulang

Pengaturan Makanan untuk Beberapa Penyakit Sampai tahun 2002, TSH disertai suplementasi kalsium masih merupakan pengobatan utama dalam osteoporosis pasca menopause. Bahkan TSH diberikan juga kepada wanita menjelang menopause sebagai pengobatan sindroma klimaktenum yang berupa kulit mengering, semburan panas, banyak berkeringat, sakit kepala, mudah lupa dan kadang-kadang gangguan emosional; juga sebagai upaya pencegahan osteoporosis.

Disamping itu TSH bermanfaat pula dalam berbagai penyakit lain misalnya penyakit jantung koroner (PJK). Prevalensi PJK pada wanita usia reproduksi sangat rendah dibandingkan dengan pria. Tetapi setelah meno- pause, kejadian PJK pada wanita jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pria usia yang sama. Hormon estrogen memang dikenal bersifat melin- dungi jantung dan pembuluh darah serta memiliki juga efek antioksidan.

Tahun 2002 Journal of American Medical Association (JAMA) me- laporkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Women Health Initiative (WHI) dengan responden sejumlah 16500, usia 50 - 79 tahun membukti- kan bahwa : "risiko efek samping TSH lebih besar dari pada manfaat yang diperoleh". Atas dasar laporan hasil penelitian WHI itu, maka timbullah pro dan kontra penggunaan TSH. Apakah penggunaan TSH harus dihentikan? Padahal manfaatnya juga banyak. Untuk menyatukan persepsi mengenai masalah TSH ini, Per- himpunan Menopause Indonesia pada tahun 2002 menyelenggarakan simposium dengan topik "TSH, manfaat dan kontroversinya".

Pembicaranya meliputi para pakar Kedokteran dari semua cabang ilmu yang terkait dengan masalah itu. Kesimpulannya antara lain sebagai berikut: TSH tidak dibenarkan untuk digunakan sebagai upaya pencegahan. TSH digunakan semata-mata hanya untuk pengobatan dengan syarat: efek samping harus diusahakan untuk dihilangkan atau dielimi- nasi sejauh mungkin.

Agar masyarakat pada umumnya dan khususnya para penderita osteoporosis tidak ragu-ragu, tidak bingung dan tidak takut dalam men- jalani TSH, maka pasien harus memperoleh penjelasan yang lengkap tentang maksud dan tujuan TSH, lamanya pengobatan dan efek samping yang mungkin terjadi yakni gangguan haid, retensi air, kegemukan, nyeri payudara, kanker payudara dan kanker endometrium.

Dengan informasi tersebut pasien menyadari serta memahami tujuan pengobatan dan dengan demikian memperkuat harapan kesembuhan- nya, sehingga dia patuh dalam menjalani pengobatannya. Dengan adanya saling pengertian antara pasien dan dokternya, terjalin pula kerja sama yang baik.

Kepada dokter yang hendak memberi pengobatan TSH, ada beberapa tips: Dokter harus selalu memegang teguh kaidah pengobatan yang lazim berlaku selama ini yakni pemeriksaan serta seleksi awal yang teliti meliputi pemeriksaan-pemeriksaan: medis, laboratorik, kandungan & ginekologik dasar dan pemeriksaan payudara. Pengawasan cermat dan teratur selama pengobatan dengan TSH. Penilaian pada 3 bulan pertama terhadap kondisi umum pasien, pola haid, efek samping dan ketidak-nyamanan lainnya. Selanjutnya setiap 6 - 12 bulan dilakukan pemeriksaan ulangan.

Bila perlu dilakukan pemeriksaan payudara dengan mammografy atau UG. Apabila tips ini dilakukan dengan konsekuen, maka efek samping yang merugikan itu dapat dieliminasi sejauh mungkin, sehingga pemberian TSH dapat berlangsung aman, nyaman dan efektif. (C.M. Achadiat, 2002). Fito estrogen atau herbal estrogen adalah hormon estrogen yang dihasilkan oleh tanaman. Hasil penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Hidayat dan timnya mengungkapkan bahwa kacang tunggak mengandung fito estrogen yang mempunyai khasiat seperti hormon estrogen. 

Bahan makanan lain yang mengandung fito estrogen adalah kacang kedele dan bangkuang dengan kadar yang lebih sedikit. Dengan ditemukannya fitoestrogen dalam beberapa bahan makanan, maka hal ini merupakan harapan baru dalam pengobatan osteoporosis pasca menopause. Walaupun penggunaannya masih harus melalui serangkaian uji klinis untuk lebih meyakinkan manfaatnya serta menyingkirkan risikonya sejauh mungkin. Umumnya zat-zat yang berasal dari bahan makanan asal tumbuhan mempunyai efek samping yang jauh lebih rendah dari pada yang berasal hewani atau zat-zat kimia.

Terapi Fisik Olahraga

Aktivitas fisik merangsang osteoblas untuk membentuk tulang. Adapun aktivitas fisik yang paling praktis dan bermanfaat adalah pekerjaan rumah sehari-hari seperti menyapu, menyeterika, berkebun, berjalan ke pasar berbelanja, memasak dan pekerjaan lainnya. Jenis olahraga yang dianjurkan adalah yang bersifat mendukung beban (weight bearing) misalnya jalan kaki, jalan cepat, jogging yang berarti tungkai dan kaki menyangga beban berat tubuh. Latihan beban untuk lengan dan tangan dilakukan dengan mengangkat barbel yang ringan dengan jumlah ulangan berkali-kali. Jalan kaki atau jalan cepat sebaiknya dilakukan di bawah sinar matahan pagi agar membantu pembentukan vitamin D.

Pengaturan Makanan

Pengaturan makanan pada penderita osteoporosis merupakan upaya penyembuhan bersama-sama dengan pengobatan dan olahraga. Prinsip pengaturan makanannya ialah memberikan menu yang sesuai dengan kecukupan kalori yang dibutuhkan dan mempercepat penyem- buhan osteoporosisnya. Tujuannya adalah uuk menghambat perombakan tulang dan meningkat- kan pembentukan tulang sehingga tulang menjadi lebih padat dan lebih kuat. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah: cukup kalori, cukup karbo- hidrat, protein, lemak, tinggi vitamin D, tinggi kalsium dan tanpa rokok.

a. Cukup Kalori, Sesuai dengan Kebutuhan. Jumlah kalori harus sesuai dengan berat badan ideal, aktivitas jasmani dan umur penderita. Jumlah kalori total tersebut berasal dari karbohidrat, protein dan lemak dengan perbandingan sesuai menu sehat & seimbang yaitu:
        karbohidrat : 65 - 70%
        protein : 10 – 15 %
        lemak : 20%

b. Tinggi Vitamin D
Vitamin D merangsang penyerapan kalsium dari usus masuk ke darah, membantu metabolisme kalsium dan fosfor, serta mening- katkan pembentukan tulang. Sebagian vitamin D diperoleh dari masukan makanan sedangkan sebagian lainnya dibentuk oleh tubuh dalam bentuk provitamin D. Bahan makanan yang banyak mengandung vitamin D adalah: hati, kuning telur, minyak ikan, ragi, susu dan hasil olahannya. Tubuh dapat membentuk provitamin D yang dapat berubah menjadi vitamin D dengan pertolongan sinar matahari. Atas dasar itu, para penderita osteoporosis dianjurkan untuk berjemur dan berolah- raga di bawah sinar matahari pagi atau sore selama 5-30 menit, sesuai dengan kepekaan kulit masing-masing agar kebutuhan vitamin D terpenuhi.

c. Tinggi Kalsium atau Zat Kapur. Kalsium merupakan salah satu zat pembangun tulang yang sangat penting. Bersama-sama dengan protein, fosfor dan beberapa mineral lainnya, kalsium membentuk tulang dan gigi dengan bantuan vitamin D. Kekurangan kalsium mengakibatkan osteoporosis.

Bahan makanan nabati dengan kandungan kalsium yang tinggi adalah: sayuran berwarna hijau, biji-bijian, kacang-kacangan dan hasil olahannya, Yang berasal dari hewan adalah: ikan teri, rebon dan ikan kecil- kecil yang dapat dimakan dengan tulangnya, kuning telur, susu dan hasil olahannya. Satu gelas susu sapi mengandung sekitar 320 mg kalsium.

Susu skim merupakan sumber kalsium terbaik, karena di samping kandungan kalsiumnya tinggi, ketersediaan biologiknya juga tinggi. Derajat keasaman mempengaruhi secara positif keter- sediaan biologik kalsium. Sebaliknya dalam suasana basa, kalsium dan fosfor membentuk kalsium fosfat yang tidak larut dalam air sehingga sukar diserap oleh sistem pencernaan. Dewasa ini di pasar diperdagangkan susu bubuk skim yang diperkaya dengan kalsium; 25 gram dari susu bubuk ini yang dilarut- kan menjadi satu gelas mengandung sekitar 600 mg kalsium. Angka Kecukupan Gizi zat kapur yang dianjurkan adalah 800 mg untuk orang dewasa. Jumlah masukan kalsium dari makanan mempunyai hubungan langsung dan positif dengan kepadatan tulang.

Masukan kalsium dari makanan yang ditingkatkan dari 900 mg menjadi 1500 mg mencegah perombakan tulang dan meningkatkan kepadatan tulang. Bagan grafik 10.2. memperlihatkan dampak positif pemberian susu dan hasil olahannya selama 36 bulan, terhadap kepadatan tulang, pada wanita pramenopause.

d. Tanpa Rokok. Nikotin dari rokok menghambat penyerapan kalsium dari usus untuk masuk ke darah, sehingga tubuh kekurangan kalsium. Sebagai- mana kita ketahui kalsium adalah salah satu zat pembangun tulang, tapi karena kekurangan kalsium maka pembentukan tulang tidak sempuma sehingga mengakibatkan osteoporosis.







Sumber:

Buku Makanan Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Ilmu Gizi oleh Dr. Hj. Tien Ch. Tirtawinata Sp.GK