Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Mustafa Abu Sulayman Al-Nadwi.

Kisah Mustafa Abu Sulayman Al-Nadwi.



Ada seseorang yang lahir sekitar 68 tahun di silam, di tengah semilir angin malam yang berhembus dari pesisir Sungai Nil, Tepatnya di sebuah kampung sederhana di Provinsi Manshurah yang tak jauh dari lidahnya daratan Mesir (Lisanul Barr). Ia lahir di sebuah rumah yang dipenuhi hembusan nafas-nafas Al-Quran dan Sunnah Nabi ﷺ, di waktu malam yang penuh berkah tanggal 27 Ramadhan 1374 Hijriah. Beliau adalah Maulana Al-Muhaddits Al-Musnid Al-Allamah Prof. Dr. Mustafa Abu Sulayman Al-Nadwi.

Ayahnya yang bernama Syekh Sayyid Al-Badawi adalah seorang Syekh karismatik yang sangat dihormati di daerahnya. Dari trah Ahlul Bait dengan nasab terhenti pada Imam Husain bin Ali Radhiyallah’anhuma. Ahli dalam bidang Qiroat. Sepanjang siang dan malamnya ia hidupkan bersama Al-Quran.

Baca juga: Biografi Abdul Fattah Barakah

Aktifitas keseharian Syekh Sayyid Al-Badawi, mulai dari fajar sampai Zuhur menerima murid-murid Kuttab yang sorogan hafalan. Mengajarkan dan menghafalkan kepada murid-muridnya ayat-ayat dalam kitab suci. Setelah rehat sejenak pada interval Zuhur dan Asar, ia kembali membuka pintunya untuk para murid dan muhibbin yang bergabung dalam Thariqah Al-Qaqwajiyah Al-Syadziliyah. Membacakan untuk mereka kitab-kitab ilmu seperti Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali, Qūt Al-Qulūb Imam Abu Thalib Al-Makki, Nuzhatu Al-Majlis, Bahjatu Al-Nufūs Imam Ibnu Abi Jamrah, Riyādh Al-Shālihīn Imam Al-Nawawi, Thabaqāt Al-Awliya dan lain-lain. Sedangkan malam harinya ia habiskan untuk mengkatamkan bacaan Alqurannya.

Sebagai anak bungsu, Abdul Karim adalah putra yang paling dekat dan selalu membersamai aktifitas sehari-hari sang ayahanda. Kendati begitu Abdul Karim mengaku, “Tidak pernah dalam suatu haripun saya melihat ayah tidur”. Yang dia lihat dari ayahnya adalah kedisiplinan dan penghormatannya terhadap sunnah walaupun itu terlihat sepele, misalnya sunnah bersiwak. Dia rela harus menempuh perjalanan jauh untuk membeli kayu siswak baru apabila yang lama sudah mulai lusuh. Tidak pernah mentolerir diri dan murid-muridnya untuk meliburkan diri dalam sunnah majelis zikir mingguan di rumahnya.

Sang ayah adalah murid daripada Syekh Syamsuddin Al-Qowuqji. Syaikh Syamsuddin yang tinggal di Syam memiliki jadwal kunjungan tahunan ke kampung ini, dalam rangka memperingati Maulid Nabi yang diketuai oleh sang ayah.


Masa-masa kedatangan ulama besar itu adalah kenangan terindah yang diingat oleh Abdul Karim. Syaikh Syamsuddin yang penuh wibawa dengan imamah tebal melilit di kepala. Abdul Karim kecil senang memainkan jari-jemarinya pada janggut lebat sang Syekh, sembari mendengarkan syarh mendalam tentang suatu hadits. Dia juga ingat betul penafsiran luar biasa Syekh Syamsuddin pada Surat al-Tahrim dan menjelaskan maqam mulia Nabi SAW. Keilmuan dan keteledanan itulah yang memberi pengaruh besar kepada ayahanda untuk berkomitmen menjaga sunnah Nabi SAW baik dari penampilan maupun bathin. Ayahanda selalu menaruh keyakinan baik pada semua gurunya. Dia selalu menjadi pelayan dengan tangannya sendiri untuk guru-gurunya.

“Kunjungan terakhir Syekh Syamsuddin ke kampung kami pada Rabiul Awwal 1391 H. Pada ziarah ini, beliau mengijazahkan ayahanda sebagai khalifah tertinggti Thariqah al-Qawuqjiyah al-Syadziliyah di seluruh Mesir setelah sebelumnya menjadi khalifah tertinggi di Markaz Aja Provinsi Daqahlia. Pada tahun itu juga, beliau mengabarkan kepada ayahanda sebuah bisyrayat yang terwujud pada beberapa tahun selanjutnya.”

Syekh Mustafa Al-Nadwi semenjak kecil terlihat ketekunan dan kecerdasannya, dimulai dengan hafalan Alquran lalu melahap hafalan matan-matan dengan bantuan ayah dan abangnya, seperti:
  • Tuhfatu Al-Athfal, Al-Muqaddimah Al-Jazariah (Tajwid)
  • Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, Lamiyatul Af’al (Nahwu-Sharf)
  • Jauharatu Al-Tawhid
  • Qashidah Banat Su’ad, Al-Burdah, Al-Hamziyah
  • Matn Abu Syuja’ (Fiqh Syafi’i)
Di samping itu, ia mahir dalam ilmu matematika dan Bahasa Inggris. Tak ketinggalan mempelajari ilmu kimia, fisika, biologi dan ilmu-ilmu umum lainnya. Dia lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai tinggi, sehingga mengantarkannya masuk Fakultas Kedokteran di salah satu universitas modern. Kendatipun menjadi mahasiswa unggul di fakultas kedokteran, di luar pembelajaran di kampus, dia tetap mengikuti pengajian-pengajian ayahnya dengan kitab-kitab yang telah disebutkan di atas. Begitupun secara privat ia mengaji Fiqh Syafi’i kepada abangnya.

Hingga tiba saatnya ketika lulus dari fakultas kedokteran, dengan nilainya yang cemerlang, ia mendapatkan tiket untuk melanjutkan studinya menuju Tanah Britania. Lalu apa yang terjadi?

Allah menunjukkan langkahnya untuk mendalami ilmu agama menuju India, “Setelah wafatnya ayahanda, enam tahun Allah Ta’âla memuliakanku dengan merantau ke Markaz Dakwah di Kampung Nizhamuddin yang masuk bagian Kota Delhi ibu kota Negara India. Ketika sampai di sana, mataku pertama kali tertuju pada seorang wali qutb zaman ini, Maulana Syekh Muhammad In’am Hasan, kepala dari para pendakwah. Aku melihat wajahnya yang bersinar dengan cahaya zikir yang tidak pernah putus ia untaikan. Imamah yang penuh karisma dan janggut putih bersih yang menjuntai. Seketika aku teringat ayahanda dan Syekh al-Qawuqji, sambil membatin: Tasawuf ini satu di setiap waktu dan tempat. Dengan syari’ah dan thariqah melekat yang tidak bisa dipisahkan.”

Universitas Nadwatul Ulama yang tua ini merupakan perpanjangan tangan al-Azhar al-Syarif dan sebagai potret lembaga pendidikan Islam terbaik di dunia, yang membawa manhaj al-Azhar dan lulus dari sana alumni-alumni dengan gelar ilmiah setara dengan al-Azhar al-Syarif. Para pelajar di sana menyerap dari guru-gurunya ilmu dan akhlak, sangat menekankan aspek tazkiyah dan tarbiyah di bawah perhatian para guru dan masyaikh mereka, terutama al-´Allâmah Abul Hasan al-Nadwi.

Tak ayal, fakta para masyaikh, pendakwah dan ahlu tasawuf di India pada saat itu sangat erat hubungannya dengan al-Azhar al-Syarif beserta para masyaikh dan manhajnya. Bahkan mereka berusaha dengan serius untuk menghidupkan manhaj yang dianut al-Azhar sepanjang masa, terutama pada masa saat ini yang mana urgensinya semakin dibutuhkan untuk membawa umat pada kebangkitan.