Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BERDOA KETIKA AYAT RAHMAT DAN AYAT AZAB

cara nabi tadabur ayat saat shalat
BERDOA KETIKA MELALUI AYAT RAHMAT DAN AYAT AZAB

834) Abdurrahman ibn Abi Laila dari ayahnya berkata:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ، لَيْسَ فَرِيضَةً، فَمَرَّ بِذِكْرِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَقَالَ: أَعُودُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ، وَيْلُ لَأَهْلِ النَّارِ.

"Saya dengar Rasulullah membaca (surat) dalam shalat (yang bukan fardhu) lalu beliau melalui ayat yang di dalamnya disebut-sebut tentang surga dan neraka, maka beliau membaca: "a'ūdzu billāhi minan når, wailun li ahlin når" (saya berlindung kepada Allah dari neraka, kecelakaan itu bagi isi neraka)." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah; Al-Muntaqa 1: 484)

835) Aisyah ra. berkata:

كُنتُ أَقُومُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ لَيْلَةَ التَّمَامِ، كَانَ يَقْرَأُ سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءِ وَلا يَمُرُّ بِآيَةٍ فِيهَا تَخْوِيْفٌ اِلَّا دَعَا اللهَ عَزَّ وَجَلٌ وَاسْتَعَاذَهُ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةٍ فِيهَا اسْتِبْشَارُ إِلَّا دَعَا اللَّهَ عَزَّوَجَلٌ وَرَغَبَ إِلَيْهِ
"Aku shalat beserta Rasulullah pada suatu malam purnama penuh. Beliau mem- baca surat Al Baqarah, surat 'Ali-Imran, dan surat An-Nisa'. Beliau tidaklah melalui ayat takhwif (ayat yang menakutkan), melainkan beliau berdoa kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dan tidaklah melalui ayat istibsyar (ayat yang berisi kabar gembira) melainkan memohon kepada Allah dan mengharap benar akan memperoleh perlindungan-Nya." (HR. Ahmad; Al-Muntaqa 1: 484)

836) Musa ibn Abi Aisyah berkata:

كَانَ رَجُلٌ يُصَلَّى فَوْقَ بَيْتِهِ. فَكَانَ إِذَا قَرَأَ : أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى؟ قَالَ: سُبْحَانَكَ فَبَلَى ، فَسْأَلُوهُ عَنْ ذَلكَ ، فَقَالَ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

"Seorang laki-laki shalat di atas atap rumahnya. Apabila ia membaca ayat "alaisa dzālika biqadirin 'alå an yuhyihal mauta" (apakah Tuhan tidak sanggup menghidupkan orang yang telah mati?) ia bacakan "sub-hanaka fa bala" (aku mengaku kesucian Engkau, benar Engkau-yakni: sanggup menghidupkan orang-orang mati) Orang bertanya kepadanya tentang sebab ia bacakan itu. la menjawab: "Saya dengar demikian dari Rasulullah." (HR. Abu Daud; Al-Muntaqa 1: 485)

837) Auf ibn Malik ra. berkata:

قُمْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ بِالْبَقَرَةِ، لَا يَمُرُّ بِآيَةٍ رَحْمَةِ إِلَّا وَقَفَ فَسْأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَة عَذَابِ اِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدَرِ قِيَامِهِ يَقُوْلُ فِي رُجُوْعِهِ: سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَالْمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ، ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْر رُكُوعِهِ يَقُوْلُ فِي سُجُوْدِهِ: سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتَ وَالْمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ، ثُمَّ قَرَأَ آلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ سُوْرَةً سُوْرَةً، ثُمَّ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

"Saya shalat beserta Nabi. Beliau mula-mula bersugi, lalu berwudhu. Sesudah itu beliau berdiri dan shalat. Beliau membaca surat Al-Baqarah. Beliau tidak melalui sesuatu ayat rahmat, melainkan berhenti lalu memohon rahmat, dan beliau tidak melalui sesuatu ayat 'azab, melainkan beliau berhenti dan memohon perlindungan kepada-Nya. Kemudian beliau rukuk, beliau berhenti dalam rukuk sekedar lama berdiri. Di dalam rukuk beliau mengucapkan: sub-hâna dzil jabarūti wal malakūti wal kibriya-i wa 'azhamah. Kemudian beliau bersujud sekedar lama rukuknya. Di dalamnya beliau baca: sub-hâna dzil jabarūti wal malakūti wal kibriya-i wa 'azhamah. Kemudian (dalam rakaat yang kedua) beliau baca surat 'Ali Imran dan surat demi surat lainnya. Kemudian beliau lakukan seperti yang demikian." (HR. Abu Daud dan An-Nasa'y; Al-Muntaqa 1: 485)

SYARAH HADITS

Hadits (834) diriwayatkan oleh Ahmad. Ibnu Majah meriwayatkan hadits yang semakna dengan ini. Al-Baihaqy meriwayatkan juga dari jalan Abdurrahman yang menerima dari ayahnya Abu Laila. Menurut penerangan Al-Mundziry (ketika membicarakan hadits ini dalam Mukhtashar Sunan Abi Daud, di dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang bernama Muhammad ibn Abdurrahman. Dia ini, dha'if. Dalam sanad riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, tidak terdapat orang yang lemah.

Hadits ini menyatakan bahwa kita disyariatkan memohon rahmat ketika me- lalui ayat-ayat rahmat dan meminta perlindungan ketika melalui ayat azab, dan bertasbih ketika melalui ayat-ayat tasbih. Bahkan dengan tegas menyuruh me- mohon perlindungan dari api neraka, ketika melalui ayat yang menyebutkan tentang neraka. Para perawi hadits ini mengaitkan hadits ini dengan shalat sunnat.

Hadits (835) ini dikuatkan kebenarannya oleh beberapa hadits yang lain, di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah dan dari Auf. Hadits ini menyatakan bahwa kita disyariatkan memohon perlindungan ketika melalui ayat takhwif dan memohon hajat ketika melalui ayat-ayat yang menggembirakan.

Hadits (836) diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al-Mundziry tidak mencacat hadits ini. Hadits ini menyatakan, kebolehan shalat di atas atap rumah dan atap masjid, baik fardhu maupun sunnat. Hadits ini menyatakan pula, bahwa kita disukai membaca ucapan "sub-hanaka fa bala" (saya mensucikan Engkau wahai Tuhanku dari segala kekurangan, benarlah Engkau), ketika melalui ayat ""alaisa dzālika biga- dirin 'ala an yuhyiyal mauta" (apakah Tuhan tidak kuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati?)

Hadits (837) diriwayatkan oleh An-Nasa'y dan Abu Daud. Namun Abu Daud, tidak menyebut tentang hal berwudhu dan bersugi (menggosok gigi). 

Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Turmudzy. Perawi-perawinya dapat dipercaya. Hadits ini menyatakan bahwa segala urusan tersebut disukai dalam segala bacaan Al-Qur'an, baik dalam shalat fardhu maupun sunnat, baik imam, makmum, secara berjamaah maupun munfarid.

Ibnu Ruslan berkata: "Mungkin sekali dimaksudkan dengan "kemudian mem- baca surat-surat" ialah membaca surat An-Nisa', kemudian membaca surat Al- Maidah. Asy-Syaukany berkata: "Yang dikehendaki dengan perkataan "kemudian Nabi berbuat yang seperti itu", ialah rukuk dan sujud, seperti yang beliau perbuat dalam rakaat pertama dan kedua."

Abu Daud mengatakan bahwa Ahmad berkata: "Saya suka membaca doa dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur'an di dalam shalat fardhu."

Pengarang Aunul Ma'bud berkata bahwa Al-Baihaqy mengatakan dalam Al-Ma'rifah (dalam bab berhenti di ayat rahmat dan ayat azab), bahwa Asy-Syafi'y dalam Madzhab Qadim-nya menyatakan: "Saya suka apabila imam membaca ayat rahmat, berhenti sejenak dan memohon, juga para makmum turut memohon.

Apabila imam membaca ayat azab, saya suka berhenti sejenak: lalu memohon perlindungan. Menurut riwayat-riwayat yang sampai kepada kami dari Nabi, bahwa beliau mengerjakan seperti ini di dalam shalatnya. Diriwayatkan apabila beliau mendengar ayat: "sabbihisma rabbikal a'la", maka beliau pun membaca "sub-hāna rabbiyal a'la."

Asy-Syafi'y berkata: "Ulama-Ulama yang lain memakruhkan yang demikian sedang kami menyukainya."

Diriwayatkan dari Sa'id ibn Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi apabila membaca "sabbihisma rabbikal a'la", membaca pula "sub-hâna rabbiyal a'la." Menurut riwayat Abu Hurairah dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa membaca surat "Wat-tini waz-zaituni" hingga akhir surat, hendaklah di akhir surat ia bacakan "wa ana 'alā dzālika minasy syahidin" (= dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu-Ed.) Dan barangsiapa membaca "lā uqsimu biyaumil qiyâmati, hingga sampai..... 'alaisa dzālika biqadirin 'alâ an yuhyiyal mauta" hendaklah membaca "bala", dan barangsiapa membaca "wal mursalāti", hendaklah dia se- sudah membaca "fa bi ayyi hadītsin ba'dahû yu'minûna", ia bacakan "âmanna bihi" = kami beriman kepada Al-Qur'an. Ibnu Qudamah berkata: "Madzhab Ahmad menyunnatkan yang demikian, namun beliau tidak menyukai kita men-jahar-kannya."

An-Nawawy berkata: "Kebanyakan orang 'awam, apabila mendengar pembacaan imam "iyyāka na budu wa iyyāka nas ta inu", membaca pula "iyyaka na budu wa iyyāka nas ta'inu" Hal ini adalah bid'ah, harus dilarang. Pengarang Al-Bayan berkata: pembacaan tersebut membatalkan shalat, terkecuali kalau dimaksudkan sebagai doa dan qira'ah."

Membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan maksud memberi ingat kepada seseorang, seperti membaca "udkhulüha bi salâm" (masuklah dengan selamat/ sejahtera-Ed.) dengan maksud memberi izin masuk kepada orang yang meminta izin masuk, maka menurut pendapat Ahmad dalarn salah satu riwayatnya, membatalkan shalat. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Abu Hanifah. Menurut Madzhab Asy-Syafi'y, kalau dimaksudkan dengan ucapan itu, memberi ingat dan membaca Al-Qur'an, tidaklah membatalkan.

Nyata dan jelas, hadits-hadits ini menyuruh kita berdoa ketika melalui ayat- ayat rahmat dan memohon perlindungan ketika melalui ayat-ayat azab. Maka dengan sendirinya, dituntutlah yang demikian itu. Paham-paham yang memakruhkannya tertolak. 

Dalam masalah membaca ayat Al-Qur'an untuk memberi ingat kepada seseorang, kami tidak mengutamakannya, karena melepaskan diri dari khilaf dalam masalah yang serupa ini, lebih utama. Apabila tidak ada riwayat dari Nabi, bahwa beliau pernah membaca sesuat ayat dengan maksud memberi ingat kepada seseorang dalam shalat beliau.

Referensi Berdasarkan Tulisan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy Bab Pekerjaan yang Membatalkan Shalat, yang Makruh, dan yang Dibolehkan Masalah Berdoa Ketika Melalui Ayat Rahmat Dan Ayat Azab Dalam Buku Koleksi Hadits-hadits Hukum-2