Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Doa Yang Dibaca Dalam Shalat

Doa Yang Dibaca Dalam ShalatDOA YANG DI-NASH-KAN NABI UNTUK DIBACA DALAM SHALAT

771) Ubaid ibn Qa'qa ra, berkata:

رَمَقَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّى فَجَعَلُ يَقُوْلُ فِي صَلَاتِهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي ذنْبِي وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي وَبَارِكْ لِي فِيْمَا رَزَقْتَنِي

"Seorang laki-laki melihat Rasulullah sewaktu sedang shalat, beliau membaca dalam shalatnya: "Allahummaghfir li dzanbi wa wassi' li fi dari wa barik li fi må razaqtani,"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, luaskanlah rumahku, dan berikanlah keberkahan dalam apa yang Engkau rezekikan kepadaku."." (HR. Ahmad; Al-Muntaqa 1: 458)

772) Syaddad ibn 'Aus ra. menerangkan:

اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يَقُوْلُ فِي صَلَاتِهِ : اَلَّلهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا وَلِسَانًا صَادِقًا، وأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَاسْتغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ

"Rasulullah saw. membaca dalam shalatnya: "Allahumma inni as'alukats tsabáta fil amri, wal 'azimata 'alar-rusydi, wa as-aluka syukra ni'matika wa husna "ibadatika, wa as-aluka qalban saliman wa lisänan shadigan wa as-aluka min khairi må ta'lamu wa a'údzubika min syarri må ta'lamu wa astaghfiruka limâ ta'lamu, Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keketapan dalam urusanku, keteguhan terhadap petunjuk, aku memohon kemampuan bersyukur terhadap nikmat-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Berilah aku jiwa yang sehat, lisan yang benar dan aku memohon kepada-Mu kebaikan dari apa-apa yang Engkau ketahui dan aku bertindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang Engkau ketahui dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa (dosa) yang Engkau ketahui."(HR. An-Nasa'y; Al-Muntaqa 1: 458)

773) Abi Milaz menerangkan

إِن عَمَّارَ بْنَ يَابِسٍ صَلَّى صَلَاةٌ فَأَوْجَرَ فِيهَا فَانكَرُوْا ذلكَ فَقَالَ: أَلَمْ أُتِمَّ الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ؟ قَالُوْا: بَلَى، قَالَ: أَمَّا إِنِّي دَعَوْتُ فِيهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُوبِهِ: اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًالِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا. أَسْأَلُكَ خَشْيَتِكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَيْبِ وَالرِّضَا وَالْقَصْدَ فِي الْقَبْرِ وَالْغِنَى وَلَذَةَ النَظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَمِنْ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اَللَّهُمَّ رَيِّنَّا بِزِنَةِ الْأَيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ 

"Ammar ibn Yasir pernah shalat dengan cara meringkasnya. Maka para sahabat menyalahkan perbuatannya, karena itu Ammar menjawab: "Apakah saya tidak menyempumakan rukuk dan sujud?" Mereka menyahut: "Memang." Sesudah itu, Ammar berkata: "Saya telah berdoa dalam shalat dengan doa yang dibaca Nabi, yaitu: "Allahumma bi'ilmikal ghaiba wa qudratika 'alal khalqi ahyini ma alimtal-hayata khairan li, wa tawaffani idzâ kânatil-wafâtu khairan li, as-aluka khasyyataka fil-ghaibi wasy-syahadati wa kalimatal haqqi fil-ghadabi war-ridhâ wal-qashda fil-faqri wal-ghina, wa ladzdzatan-nazhari ila wajhika wasy-syauqa ila ligaika wa a'údzubika min dharra'a mudhirratin wa min fitnatin mudhillatin. Allahumma, zayyinna bizinatil imâni waj'alná hudâtan muhtadina, "Ya Allah dengan ilmu-Mu yang melingkupi segala yang gaib, dan dengan kekuasaan-Mu terhadap penciptaan (makhluk), hidupkanlah aku dengan kehidupan yang baik menurut yang Engkau ketahui, dan matikanlah aku dengan kematian yang baik menurut yang Engkau ketahui. Berilah aku rasa takut kepada-Mu, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang dan berilah aku kalimat (kemampuan berkata) yang benar dalam keadaan marah maupun nidha, dan berilah kesiapan untuk hidup miskin maupun kaya, berilah kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemudaratan yang memudaratkan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah diri kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami panutan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk."." (HR. Ahmad dan An-Nasa'y; Al-Muntaqa 1: 459)

774) Abu Hurairah ra, berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ .
"Rasulullah membaca di dalam sujudnya: Allahummaghfir li dzanbi kullahu, diqqahu wajillahu, wa awwalahu, wa akhirahu, wa'alaniyatahu, wasirrahu, "Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, besar dan kecil, dari awal sampai akhir dan yang terang-terangan maupun yang tersembunyi." (HR. Muslim dan Abu Daud; Al-Muntaqa 1: 459)

775) Mu'adz ibn Jabal ra. berkata:

قَالَ: لَقِيَنِي النَّبِيُّ فَقَالَ: إِنِّي أُوْصِيْكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُوْلُ هُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ : اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Rasul saw. menjumpai aku dan berkata: "Aku pesan kepadamu beberapa kalimat yang kamu baca di dalam tiap-tiap shalat, yaitu: Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika, Ya Allah, berilah aku pertolongan agar dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu." (HR. Ahmad, An-Nasa'y dan Abu Daud; Al-Muntaga 1: 459)

776) Shalih ibn Sa'id menerangkan:

اِنَّ عَائِشَةَ فَقَدَتِ النَّبِيُّ مِنْ مَضْجَعِهَا فَلَمَسَتْهُ بِيَدِهَا فَوَقَعَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ويَقُولُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ نَفْسِى تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرٌ مَنْ زَكَّاهَا، أَنتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Pada suatu malam, 'Aisyah tidak mendapati Nabi di tempat tidurnya, lalu mencarinya. Maka terpeganglah Nabi dengan tangannya dan rebahlah 'Aisyah di atas Nabi. Nabi pada kala itu sedang bersujud, lagi membaca: Allahumma a'thi nafsi taqwaha zakkihá anta khairuman zakkâhâ, anta waliyyuha wa maulâhâ, Ya Allah berilah kepada jiwaku ketakwaan, sucikanlah jiwaku, karena Engkaulah sebaik-baik Zat yang dapat mensucikannya. Engkau-lah wali dan penolongnya." (HR. Ahmad; Al-Muntaqa 1:460)

777) Ibnu Abbas ra. menerangkan:

اِنَّ النَّبِيَّ فَجَعَلَ يَقُوْلُ فِي صَلَاتِهِ أَوْ فِي سُجُوْدِهِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُوْرًاً وَفِي بَصَرِى نُوْرًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ شِمَالِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَقَوْفِي نُورًا وَتَحْيِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا، أَوْ قَالَ: وَاجْعَلْنِي نُورًا.
"Nabi sedang shalat lalu beliau membaca dalam shalatnya atau dalam sujudnya: Allahummaj'al fi qalbi nuran wa fi sam'i núran, wa fi bashari núran, wa 'an yamini naran, wa 'an syimali naran, wa amami naran wa khalfi niran: wa fauqi núran, wa tahti núran, waj'al li nuran atau Nabi baca: wajalni núran, Ya Allah, jadikanlah untukku cahaya dalam hatiku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, cahaya di atas diriku, cahaya di bawahku, jadikanlah untukku cahaya-atau Nabi mengatakan-jadikanlah aku cahaya." (HR. Muslim; Al-Muntaqa 1:460)

SYARAH HADITS

Hadits (771) diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubaid ibn Qa'qa. Ubaid ibn Qa'qa ini tidak dikenal ulama-ulama hadits. Yang meriwayatkan darinya, yaitu Abu Mas'ud Al-Hariri pun tidak mengetahui keadaannya. Ibnu Hajar mengatakan dalam Al-Manfa'ah: "Hadits ini mempunyai saksi, dari hadits Abu Musa yang di- riwayatkan Ath-Thabrany dalam bab doa. Abu Mas'ud Al-Hariri ini, namanya Sa'id ibn Ilyas, seorang terpercaya. Sebagian ulama hadits menerima riwayatnya."

Menyatakan bahwa kita dituntut membaca doa ini dalam shalat, dengan tidak ditentukan tempatnya. Maka boleh di dalam sujud dan boleh di dalam duduk.

Hadits (772) ini, perawi-perawinya terpercaya. At-Turmudzy menyebut hadits ini dalam doa istikharah dan di penghujungnya, beliau menambahkan: "innaka anta 'allamul ghuyüb." Menyatakan tentang salah satu lafazh doa yang patut kita baca di dalam shalat, di dalam sujud, atau di dalam duduk tasyahhud.

Hadits (773) perawi-perawinya kepercayaan. Hadits ini menyatakan tentang salah satu lafazh doa yang Nabi ucapkan di dalam sujud.

Hadits (774) menyatakan bahwa kita disuruh berdoa dengan doa yang tersebut dalam hadits ini.

Hadits (775) ini kata Al-Hafizh: "Sanad-nya kuat." Hadits ini menyatakan bahwa di antara doa yang seharusnya kita ucapkan di dalam duduk tasyahhud akhir ialah doa yang tersebut ini.

Hadits (776) Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dengan lafazh: "Saya (Aisyah) tidak mendapati Rasulullah, pada suatu malam, di tempat tidur, lalu saya mencarinya ke dalam masjid. Tiba-tiba saya mendapatinya, sedang bersujud. Dua telapak kakinya ditegakkan. Ketika itu saya mendengar beliau membacakan: "Allahumma inní a údzubika biridhaka min sakhatika wa a'údzu bi mu'afatika min 'uqibati- ha, wa audzubika minka la uhshi tsana'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsika." (Artinya: aku berlindung diri dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan perlindungan dari siksa-Mu, dengan diri-Mu dari-Mu. Saya tidak dapat menghitung pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau memuji untuk diri-Mu. Menurut riwayat Malik dalam kitab Al-Muwaththa":

أَنَّ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ كُنْتُ نَائِمَةً إِلَى جَنْبِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ فَفَقَدْتُهُ مِنْ اللَّيلِ فَلَمَستْهُ بِيَدِي فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَى قَدَمَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُوْلُ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ وَبِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءٌ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
'Aisyah Ummu al-Mu'minin berkata: "Saya tidur di samping Rasulullah. Pada suatu malam saya mencarinya. Saya meraba-raba dengan tanganku. Aku memegang kaki Rasulullah yang saat itu beliau sedang sujud, berkata (dalam sujudnya): Aku berlindung diri dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan perlindungan dari siksa-Mu, dengan diri-Mu dari-Mu. Saya tidak dapat menghitung pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau memuji untuk diri-Mu."

Mengingatkan bunyi ini jauh berbeda dari bunyi riwayat Ahmad, maka mungkin riwayat Ahmad itu berdiri sendiri. Dalam pada itu, mungkin juga, salah satu dari lafazh-lafazh yang disebut dalam hadits ini. Hadits ini menyatakan bahwa berdoa di dalam sujud sangat disukai.

Hadits (777) diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya, dengan lafazh yang panjang dan dengan lafazh yang pendek dari beberapa jalan. Dalam suatu riwayat doa tersebut dibaca Nabi dalam shalat malam, bahkan ada riwayat yang me nerangkan bahwa Nabi membaca doa ini ketika beliau keluar dari rumah pergi ke masjid. Menyatakan tentang salah satu lafazh doa yang sebaiknya kita baca juga dalam sujud sesudah bertasbih.

Seluruh fuqaha menyukai kita membaca dzikir (doa-doa) ini di dalam shalat, yakni di dalam duduk tasyahhud, kita baca doa-doa yang tegas Nabi membacanya di dalam tasyahhud. Di dalam tasyahhud dan sujud, kita baca doa-doa yang diterangkan, bahwa Nabi membacanya di dalam shalat tanpa ditegaskan tempatnya.

Sungguh banyak sekali lafazh-lafazh doa yang diterima dari Rasul dengan riwayat yang shahih, atau riwayat-riwayat yang hasan: dan banyak pula yang diterima dengan jalan-jalan yang dha'if. Para ahli hadits yang mengumpulkan doa- doa Nabi telah mengumpulkannya dalam beberapa kitab. Sangatlah baiknya kita hafalkan doa-doa itu semuanya lalu kita membacanya berganti-ganti, semoga dengan demikian, masuklah kita ke dalam golongan mereka yang mengikuti sunnah dengan sesempurna-sesempurnanya. Di dalam buku kami Pedoman Dzikir dan Doa, telah kami kumpulkan aneka rupa doa yang Nabi baca, atau Nabi ajarkan pada para sahabat.

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy  Dalam Buku Koleksi Hadits-hadits Hukum-1 Bab Sifat-sifat Shalat Nabi Masalah Doa Doa Yang Dibaca Dalam Shalat