Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Ruku' Yang Benar Dalam Shalat

#Cara Ruku' Yang Benar Dalam Shalat

CARA RUKUK

710) Abu Humaid As-Sa'id ra. berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ (ثُمَّ حَتَّى) فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوى حَتَّى يَعُوْدَ كُلُّ فِقَارٍ مَكَانَهُ. فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرِ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رَجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ، وَإِذَا جَلَسَ الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلَيْهِ الْيُسْرَى ونصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

"Aku lihat Rasulullah apabila membaca takbir, beliau letakkan kedua telapak tangannya sejajar dua pundaknya, apabila beliau rukuk, beliau tekankan kedua tangannya kepada kedua lututnya. Kemudian beliau meratakan punggungnya dengan tidak merendahkan kepalanya dan tidak pula meninggikannya. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk beliau berdiri tegak lurus, sehingga kembali tulang belakangnya ke tempatnya. Dan apabila beliau bersujud, beliau letakkan kedua tangannya atas tempat sujud dengan tidak menggelarkannya dan tidak pula menggenggamnya serta menghadapkan ujung-ujung jari kakinya ke arah kiblat. Apabila beliau duduk dalam rakaat yang kedua, beliau duduk atas kaki kirinya dan mendirikan kaki kanannya. Apabila beliau duduk dalam rakaat yang akhir, beliau masukkan kaki kirinya ke bawah kaki kanan serta menegakkan kaki kanan; beliau duduk atas pantatnya." (HR. Al-Bukhary; Subulus Salam 1: 222)

SYARAH HADITS

Hadits (710) diriwayatkan oleh Al-Bukhary. Di dalam riwayat yang diberitakan oleh Ahmad, keadaan rukuk adalah begini: "Apabila kamu rukuk, letakkanlah telapak tanganmu atas lutut dan bentangkanlah punggungmu serta kokohkanlah rukuk. Dalam salah satu riwayat lagi terdapat perkataan "dan Nabi merenggangkan jari-jari tangannya" (yang terulur atas lutut ke arah betisnya).

Hadits ini menyatakan kaifiyat (tata cara) rukuk. Yaitu, bertopang dengan ke- dua tangan di atas lutut, membungkuk sehingga punggung sejajar dengan kepala dengan tidak menundukkan kepala atau mengangkatnya; dan pandangan mata tepat ke tempat sujud.

Abu Ishaq asy-Syirazy berkata: "Kaifiyat rukuk yang sempura, ialah: tunduk sehingga tangan dapat memegang lutut. Kalau tidak sampai demikian, tidaklah dinamai rukuk. 

Disukai kita meletakkan tangan di atas lutut dengan merenggang- kan jari-jari mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Humaid as-Sa'dy; dan merenggangkan tangan dari lambung, mengingat hadits dari Abu Humaid juga, yang menegaskan, bahwa Nabi berbuat demikian. Tetapi hal ini tidak disukai bagi para perempuan. Bagi mereka disukai supaya tangan (hastanya) dirapatkan dengan lambungnya.

An-Nawawy berkata: "Sekurang-kurang batas rukuk, ialah: sekadar tangan dapat menggenggam lutut. Akan tetapi kalau yang shalat itu, tidak sanggup melakukan rukuk sebagaimana yang dikehendaki bolehlah dia melakukan sekadar yang sanggup dilakukannya. Adapun rukuk orang yang shalat sambil duduk, sekurang- kurangnya, ialah sekadar mukanya berhadapan dengan tempat yang dibelakang dua lututnya. Dan yang sempurna, dahinya bertepatan dengan tempat sujudnya.

Para ulama Syafi'iyah menetapkan, bahwa rukuk yang diterima ialah yang dimaksudkan (diniatkan) rukuk. Maka kalau dia turun ke sujud lalu di pertengahan menjadikan rukuk, perbuatannya itu tidak dapat dihukum rukuk. Dan sekurang-kurangnya lama rukuk, ialah sekedar tetap semua anggotanya di dalam rukuknya itu. 

Adapun rukuk yang paling sempurna, ialah tunduk sehingga menjadi datar punggungnya dan lehernya, sehingga seakan-akan menjadi selembar papan yang datar. Selain dari itu hendaklah ia tegakkan kakinya, dengan tidak melipatkan lututnya. 

Asy Syafi-i dalam Al-Umm menyatakan: "Dia memanjangkan tulang belakangnya dan lehernya dan jangan dia angkat atau tinggikan." Hendaklah ia benar-benar meratakan punggungnya. Jika dia tinggikan kepalanya, atau tinggikan punggungnya atau ia lengkungkan, niscaya aku tidak sukai. Dalam pada itu, tidak usah dia ulangi. Hendaklah ia letakkan tangannya di atas lututnya dengan merenggangkan jari-jarinya, serta menghadapkannya ke kiblat.

Abu Syaikh dalam At-Tabshirah menyatakan: "Dimaksudkan dengan menghadapkannya ke kiblat, ialah tidak menjuruskan jari tangannya itu ke kiri atau ke kanan betisnya."

Pendapat Asy-Syafi'y bersesuaian dengan pendapat Ats-Tsaury, Malik, dan disetujui pula oleh Ahmad, Daud, dan ulama-ulama Ashabur Ra'yi. Abu Hanifah mencukupkan nukuk sekedar badan telah bungkuk walaupun berlangsung dengan singkat.

Kumpulan hadits yang mengenai rukuk menjelaskan, bahwa cara rukuk adalah sebagai yang ditetapkan oleh Malik, Asy-Syafi'y, Ahmad, dan Daud. Dalam pada itu dibedakan rukuk perempuan dan rukuk laki-laki, adalah berdasarkan ijtihad dan pandangan akal. Dipandang bahwa yang demikian (merapatkan tangan ke lambung) lebih maslahat bagi perempuan. Kata mereka: likaunihi astar lahunna = yang demikian lebih menutup bagi para perempuan.

Hadits yang membedakan cara rukuk perempuan dengan laki-laki, tidak diperoleh secara shahih. Al-Baihaqy meriwayatkan beberapa hadits dalam soal ini, tetapi semuanya dhaif.

Mazhab Abu Hanifah dalam soal ini, lebih-lebih lagi dalam soal tidak mewajibkan thuma'ninah dalam rukuk, berlawanan dengan kehendak hadits. Karena itu, tidak diragukan bahwa mazhab Abu Hanifah dalam soal ini, adalah dha'if, tidak dapat dipegang.

TM. Hasbi Ash-Shiddieqy Dalam Buku Koleksi Hadits-hadits Hukum-1 Bab Sifat-sifat Shalat Nabi Masalah Tata Cara Rukuk