Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Menjadikan Tempat Ibadah Orang Kafir Sebagai Masjid

Hukum Menjadikan Tempat Ibadah Orang Kafir Sebagai Masjid

MEMPERGUNAKAN TEMPAT IBADAH ORANG KAFIR, KUBURAN YANG TELAH DIBONGKAR UNTUK TEMPAT MENDIRIKAN MASJID

575) Muhammad ibn 'Abdullah ibn Iyadh menerangkan:

 اِنَّ النَّبِيَّ أَمَرَ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي العَاصِ أنْ يَجْعَلَ مَسْجِدَ الطَّائِفِ حَيْثُ كَانَ طَوَاغِيْتُهُمْ

"Bahwasanya Nabi saw. menyuruh Utsman ibn Abil Ash supaya tempat-tempat yang tadinya dipergunakan untuk menyembah berhala dijadikan masjid-masjid." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, Al-Muntaqa 1: 327)

576) Anas ibn Malik ra. menerangkan:

إِنَّ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يُصَلِّي حَيْثُ أَدْرَكَهُ الصَّلَاةُ وَيُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ، وَأَنَّهُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَأَرْسَلَ إِلَى مَلَاءٍ مِنْ بَنِي النَجَّارِ، فَقَالَ: يَابَنِي النَجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا؟ قَالُوا: لَا، وَاللهِ لَا نْطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ، فَقَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ لَكُم قُبُوْرَ المُشْرِكِيْنَ وَفِيْهِ خَرِبٌ وَفِيْهِ نَخْلٌ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَنُبِشَتْ ثُمَّ بِالخَرِبِ فَسُوِّيَتْ وَبِالنَّخْلِ فَقُطِعَ فَصَغُّوْا النَّخْلَةَ قِبْلَةَ الْمَسْجِدِ وَجَعَلُوا عَضَادَنَيْهِ الْحِجَارَةَ وجَعَلُوْا يَنْقُلُوْنَ الصَّخْرَ وَهُمْ يَرْتَجِرُوْنَ وَ النَّبِيُّ مَعَهُمْ وَهُوَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ لَا خَيْرَ اِلاَّ خَيْرُ الْآخِرَةِ فَاغْفِرُ لِلِْأنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةِ

"Bahwasanya ketika masuk waktu shalat, Nabi saw. suka shalat dimana saja beliau berada. Beliau pernah shalat di tempat-tempat kambing berteduh. Beliau menyuruh kami mendirikan masjid lalu beliau mengirimkan orang kepada Bani Najjar. Beliau berkata: Hai Bani Najjar, berilah harga kepada kebunmu ini. Mereka menjawab: Tidak, demi Allah kami hanya mengharap harganya dari Allah. Anas berkata: Bahwasanya di tempat itu terdapat kuburan orang musyrikin, runtuhan rumah dan pohon-pohon korma. Maka Nabi menyuruh membongkar kuburan orang musyrikin dan menyingkirkan runtuhan-runtuhan rumah, kemudian menyuruh memotong pohon-pohon korma. Pohon korma itu setelah dipotong disusun di sebelah kiblat masjid. Para Sahabat membuat kedua samping bendol masjid (pintu masjid) dari batu. Para Sahabat mengangkat batu sambil bersy'ir dan Nabi mengawai mereka seraya mengatakan: Allahumma La Khaira illa Khairul akhirah faghfir lil anshari wal muhajirin Wahai Tuhanku! Tak ada kebajikan selain dari kebajikan akhirat. Maka ampunilah akan segala dosa para Anshar dan para Muhajirin." (HR. Al-Bukhary, Muslim, Al-Muntaqa 1: 329)

SYARAH HADITS

Hadits (575) isnadnya baik. Nabi menyuruh Utsman ketika beliau mengangkatnya menjadi pemimpin di Tha'if. Hadits ini menyatakan kebolehan merombak tempat-tempat menyembah berhala menjadi masjid.

Hadits (576), menyatakan bahwa kita boleh mempergunakan tanah kuburan yang kita peroleh dengan jalan beli, atau hibah untuk menjadi tempat masjid. Hadits ini juga menyatakan kebolehan menggali kubur yang telah hilang bekasnya, kalau kubur tersebut bukan kubur yang dihormati. Juga menyatakan kebolehan shalat di kuburan orang musyrik yang telah digali dan dikeluarkan isinya, sebagaimana dibolehkan kita mendirikan masjid di atasnya. Juga menerangkan, kebolehan memotong pohon-pohon kayu yang berbuah jika ada keperluan.

Ibnu Hazm mengatakan, "Boleh shalat di dalam gereja, tempat ibadah orang Majusi, rumah tempat patung dan berhala, asal di dalamnya tidak ada lagi yang harus dijauhkan, umpamanya seperti arak." 

Al-Baihaqi mengatakan, "Ibnu Abbas pernah shalat di dalam rumah ibadah orang Nasrani. Shalat di rumah ibadah orang Nasrani boleh kalau tidak ada patung di dalamnya. Kalau di dalamnya ada patung tidak boleh." 

An-Nawawy mengatakan, "Shalat dalam gereja dan candi, tidak disukai oleh 'Umar, Ibnu Abbas dan Malik. Tetapi dibolehkan oleh Abu Musa, Al- Hasan, Asy-Sya'bi, An-Nakha'y, 'Umar ibn Abdul Aziz, Al-Auza'i dan Said ibn Abdul Aziz."

Menurut pendapat sebagian ulama, pohon-pohon kayu yang sedang berbuah, tidak boleh dipotong, harus ditunggu masa habis buahnya. Banyak sahabat Nabi saw. ketika telah mengalahkan beberapa negeri, menjadikan tempat-tempat ibadah nasrani untuk tempat shalat. Tempat-tempat tersebut boleh kita jadikan tempat shalat asal patung-patung yang ada di dalamnya kita keluarkan dan kita hilangkan semua atribut yang menjadi tanda bagi kekristenan atau keyahudian.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, ketika datang ke Syam, 'Umar diundang makan oleh seorang pemuka Nasrani. Pemuka itu mengatakan, "Saya harap tuan memu- liakan saya dengan memperkenankan undangan saya." Permintaan itu dijawab 'Umar: "Kami tidak dapat masuk dalam gereja tuan, karena di dalamnya ada berhala."


Berdasarkan Buku Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy Yang Berjudul Koleksi Hadits-hadits Hukum-1 Bab Tempat Shalat dan Keharusan Menjauhkan Diri dari Najis Masalah Mempergunakan Tempat Ibadah Orang Kafir, Kuburan Yang Telah Dibongkar Untuk Tempat Mendirikan Masjid