Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DALIL TENTANG LAFAZH AZAN

LAFAZH-LAFAZH AZAN

LAFAZH-LAFAZH ADZAN

400) Said ibn Al-Musayyab ra. berkata:

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ: لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضَرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِِ الصَّلاةِ طَافَ بِي وَأَنا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوْسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ: يَا عَبْد اللهِ اَتَبِيْعُ النَّاقُوْسُ؟ قَالَ: وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ فَقُلْتُ: نَدْعُوا بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ؟ فَقُلْتُ: بَلَى قَالَ: فَقَالَ: تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. أَشْهَدُ أَنْ لا اله الا الله، اَشْهَدُ اَنْ لا اله الا الله، أَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّه أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ، عَلَى الصَّلَاةِ. حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ: إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاة تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. اَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ. حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، فَدْقَامَتِ الصَّلَاةُ، فَدْقَامَتِ الصَّلَاةُ. اللَّهُ أكبر الله أكبر، لا اله الا الله , فَلَمَّا أَصْبَحْنَا أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَأَخَبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُهُ، فَقَالَ: إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَقُمْ يَا بِلاَلُ فَالْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَدِّنَ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتاً مِنْكَ! فَقُمْتُ مَعَ بِلَالٍ فَجَعَلْتُ الْقِيْهِ عَلَيْهِ وَيُؤَدِّنُ بِهِ، قَالَ: فَسَمِعَ بِذَالِكَ عُمَرُ بْنُ الْحَطَّابِ الله وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَائَهُ وَيَقُوْلُ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ: وَلِلَّهِ الْحَمْدُ فَكَانَ بِلَالٌ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ يُؤَذِّنُ وَيَدْعُو رَسُوْلَ اللهِ ﷺ إِلَى الصَّلَاةِ. قَالَ: فَجَاءَ فَدَعَاهُ ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى الْفَجْرِ، فَقِيْلَ لَهُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ نَائِمٌ. فَصَرَخَ بِلاَلٌ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ. قَالَ سَعِيْدُ بْنِ الْمُسَيَّبِ : فَاُدْخِلَتْ هَذِهِ الْكَلِمَةُ فِي التَّأْذِيْنِ لِصَلَاةِ الْفَحْرِ.

"Abdullah ibn Zaid ibn Abdi Rabbih berkata, Tatkala Rasulullah saw. hendak menyuruh orang memukul lonceng walaupun beliau kurang merasa senang kepadanya untuk mengumpulkan manusia, saat aku sedang tidur, aku bermimpi didatangi seorang laki-laki, membawa lonceng di tangannya. Maka aku meminta kepadanya supaya loncengnya dijual kepadaku. Maka orang tersebut bertanya: Untuk apa lonceng ini? Aku menjawab: Guna memanggil manusia untuk shalat jamaah. Maka orang tersebut berkata: Apakah tidak lebih baik aku tunjukkan ke- padamu yang lebih bagus dari memukul lonceng? Aku menjawab: Baik sekali. Maka berkatalah ia: Bacakanlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu an la ilaha illallah, Asyhadu an la ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullah, hayya 'alash shalah, hayya 'alash shalah, hayya 'alal falah, hayya 'alal falah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha ilallah. Sesudah dia menyebutkan yang demikian, ia surut ke belakang sedikit. Sesudah itu ia berkata pula. Kemudian ketika hendak didirikan shalat, ucapkanlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu an la ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullah, hayya 'alash shalah, hayya 'alal falah, qad qamatish shalah, qad qamatish shalah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah. Maka di kala pagi, aku menghadap kepada Rasulullah saw. mengabarkan (mimpiku). Maka bersabdalah Nabi: Mimpimu ini, haq insya Allah. Berdirilah kamu hai Bilal, dan sampaikanlah apa yang kamu lihat. Maka beradzanlah dengannya dan serulah dengan suaramu. Maka saya berdiri bersama Bilal dan menyampaikan kepadanya dan Bilal beradzan dengan lafazh itu. Mendengar demikian itu, 'Umar ibnul Khaththab ra. yang sedang berada di rumahnya keluar, menarik serbannya dan berkata: Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran wahai Rasulullah sungguh saya telah melihat seperti yang dilihat. Maka Rasulullah bersabda: Segala puji bagi Allah. Kemudian Nabi menetapkan Bilal, maula Abu Bakar, beradzan dengan lafazh-lafazh itu menyeru Rasulullah kepada shalat. Kata 'Abdullah ibn Zaid: Pada suatu pagi Bilal datang kepada Nabi untuk memberi tahu telah masuk waktu Shubuh. Orang-orang memberitahukan kepadanya, bahwa Nabi masih tidur. Karenanya Bilal berteriak meneriakkan: Ash shalatu khairun minan naum. Said Ibnu Musayyab berkata: Maka dimasukkanlah perkataan ini ke dalam takzin (adzan) shalat fajar." (HR. Ahmad dan Abu Daud, Al-Muntaga 1: 242, Al-Muharrar: 36-37)

401) Anas ibn Malik berkata:

َأُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَيُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلَّا الإِقَامَة

"Bilal disuruh menggenapkan adzan, mengganjilkan iqamat selain dari ucapan qad qaratish shalah, qad qamatish shalah." (HR. Al-Jama'ah, Al-Muntaqa 1: 244) 

402) Abdullah ibn Muhairiz menerangkan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَّمَ أَبَا مَخْذُوْرَةَ هَذَا الْأَذَانَ: الله أكبر الله أكبرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا الله اشْهَدُ أن لا اله الا الله، أشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا َرسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُولُ اللَّهِ ثُمَّ يَعُودُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله، أَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الفلاح، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، (مَرَّتَيْنِ)، الله أكبر الله أكبر، لا اله الا الله
"Bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan adzan ini kepada Abu Mahdzurah, yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu an la ilaha ilallah, asyhadu an la ilaha ilallah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Kemudian kembali ia membaca Asyhadu an la ilaha ilallah dua kali, asyhadu anna Muhammadar rasulullah dua kali. Hayya 'alash shalah dua kali, hayya 'alal falah dua kali, Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha ilallah." (HR. Muslim, Al-Muntaqa 1: 247)

403) Abdullah ibn Muhairiz menerangkan:

إِنَّ رَسُولَ الله عَلَّمَ أَبَا مَخْذُوْرَة الآذَانَ تِسْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً وَالْإِقَامَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً

"Bahwasanya Nabi saw. mengajarkan kepada Abu Mahdzurah adzan yaitu, terdiri dari sembilan belas kalimat dan mengajarkan kepadanya iqamat yaitu terdiri dari tujuh belas kalimat." (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'y, At-Turmudzy dan Ibnu Majah, Al-Muntaga 1: 247)

SYARAH HADITS

Hadits (400), dari Said ibn Musayyab yang menerimanya dari 'Abdullah ibn Zaid ibn Abdi Rabbih. Hadits ini dishahihkan oleh At-Turmudzy dan Ibnu Khuzaimah. Al-Bukhary mengatakan, "Hanya hadits ini yang diketahui diterima dari Abdullah ibn Zaid."

Hadits ini menyatakan, bahwa takbir empat kali di permulaan adzan, dan tidak menyatakan tarji (membaca dua kali kalimat syahadat dengan suara rendah, sebelum membaca dengan keras suara). Menyatakan juga, bahwa lafazh syahadat dua kali, yang lainnya dua kali selain dari kalimat tauhid di penghujungnya.

Hadits (401), menyatakan bahwa adzan dan iqamat wajib dan menyatakan, bahwa adzan adalah dua-dua (selain takbir di awalnya) iqamat itu satu-satu, selain perkataan qad qamatish shalah. 

Hadits (402), juga diriwayatkan oleh Asy-Syafi'y, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dengan empat kali takbir di permulaannya. Ibnu Qaththan mengatakan, "Yang shahih dalam hadits ini, adalah empat kali takbir di awalnya." Hadits ini menyuruh kita mentarji'kan syahadat antara takbir dengan syahadat.

Sesudah itu, baru kita mengeraskan suara membaca kalimah syahadat. Lafazh hadits ini dalam Sunan Abi Daud ditambah, "kemudian engkau membacakan (sesudah membaca takbir) Asyhadu an la ilaha illallah, asyhadu an la ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar rasulullah, asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Engkau rendahkan suaramu. Sesudah itu, baru engkau nyaringkan suaramu waktu membacakan syahadat." 

Hadits (403), At-Turmudzy mengatakan, "Hasan shahih." Hadits ini menun- jukkan bahwa takbir empat kali dan mentarji'kan syahadat (mengulang empat kali syahadat, dua kali dengan suara perlahan, dua kali dengan suara keras). Mendua-duakan hayya 'alal, memaca dua kali takbir dan membaca satu kali kalimah tauhid. Juga menyatakan, bahwa takbir empat kali di awal iqamat, tidak mentarji'kan sya- hadat dan menambah qad gamarish shalah dua kali, sedang lainnya sama dengan adzan

Kandungan adzan 

Al-Qadhi Iyadh mengatakan, "Ketahuilah, bahwa adzan adalah ucapan yang mengumpulkan kesimpulan iman dan melengkapi bagian-bagiannya, baik mengenai urusan akal, maupun yang mengenai urusan naqal." Allahu Akbar, menetapkan Dzat Tuhan dan segala sifat yang wajib pada-Nya, serta mensucikan Tuhan dari sifat-sifat tercela. Asyhadu an la ilaha illallah, menetapkan keesaan Allah dan meniadakan sekutu bagi-Nya. Inilah pokok iman dan tauhid yang harus mendahului semua pekerjaan agama.

Asyhadu anna Muhammadar rasulullah, menetapkan kenabian Muhammad dan kerasulannya. Ini adalah sendi sesudah mengakui keesaan Allah.

Dalam beberapa perkataan ini, terkandung semua urusan yang berkaitan dengan kepercayaan hati. Sesudah selesai urusan kepercayaan (percaya akan Allah dan akan Rasul), Allah menyeru kita untuk shalat.

Hayya 'alash shalah, menyerukan kita supaya bersegera mendatangi tempat jamaah untuk melaksanakan shalat.

Hayya alal falah, menyerukan kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang akan membahagiakan kita di hari nanti.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, mengisbatkan kebesaran Allah dan keesaan-Nya atau mengulangi kembali ingatan kita terhadap kebesaran Allah, sesudah menghujamkan kepercayaan yang pokok.

La ilaha illallah, mengisbatkan keesaan Allah.

Hikmah iqamat dilakukan ketika akan mendirikan shalat, selain memperingatkan bahwa shalat akan didirikan, memperingatkan pula orang-orang yang mengerjakan shalat dengan kebesaran Allah agar orang-orang tersebut masuk ke dalam shalat dengan penuh iman, takut dan takwa kepada Allah."

Abu Hurairah, Asy-Syafi'y, Ahmad dan jumhur ulama menetapkan, bahwa takbir dipermulaan adzan, empat kali. Demikian menurut penegasan An-Nawawy. Penduduk Mekkah membaca empat kali takbir di permulaan adzan.

Malik, Abu Yusuf, Zaid ibn 'Ali, Al-Hadi dan Al-Qasim menetapkan di per- mulaan adzan dua kali takbir saja sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian lafazh hadits. Penduduk Madinah mengumandangkan adzan dengan menduakan takbir saja di permulaannya.

Iqamat

Asy-Syafi'y, Ahmad dan jumhur ulama mengatakan, "Lafazh iqamat, sebelas kalimat. Semuanya, satu-satu selain takbir di permulaan dan di akhir, yaitu dua-dua. Lafazh qad gamatish shalah, dua-dua juga."

Golongan ini berhujjah dengan hadits Abdullah ibn Zaid dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi "Adzan di masa Rasulullah adalah dua kali dua kali, dan iqamat sekali-sekali. Hanya qad qamatish shalah dibacakan dua kali. Apabila kami men- dengar iqamat, kami berwudhu, kemudian keluarlah kami untuk shalat." Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa'y

Malik mengatakan, "Lafazh iqamat adalah sepuluh kalimat. Beliau mencukupi qad gamatish shalah sekali saja."

Abu Hanifah, Ats-Tsauri dan Ibnu Mubarak mengatakan, "Lafazh iqamat adalah tujuh belas kali, sama dengan adzan dan menambah gad qamatish shalah dua kali." Abu Hanifah berhujjah dengan hadits Abu Mahdzurah (No. 403).

Tegasnya, ada yang mengatakan lafazh iqamat dua-dua, selain dari kalimat tauhid di akhir iqamat, ada yang mengatakan satu-satu, selain qad gamatish shalah (dua kali). Di antara yang berpendapat dua-dua untuk adzan, satu-satu untuk iqamat, ialah Said Ibnu Musayyab, Urwah Ibnul Zubair, Az-Zuhri, Malik ibn Anas, Ulama Hijaz, Syria, Mesir, Yaman dan lain-lain. Mensatu-satukan lafazh iqamat selain dari qad qaratish shalah. Malik mensatukan lafazh qad qamatish shalah.

Ibnu Sayyidin Nas mengatakan, "Menurut pendapat 'Umar, Hasan Bishri, Al- Auza-y, Ahmad, Ishak, Daud, Abu Tsaur, Yahya ibn Yahya dan Ibnu Mundzir, lafazh iqamat adalah sebelas kali. Demikian juga penetapan Syafi'y."

Bunyi bacaan takbir adzan

Ibnu Abidin: "Ra dalam lafazh akbar yang pertama menurut sunnah, dimatikan. Jika di-wasal-kan (disambungkan bacaan dengan takbir kedua), hendaklah dibariskan di atas, Allahu Akbar, Allahu Akbar, jangan dibacakan Allahu Akbarullahu Akbar."

Hadits Abu Mahdzurah mengesahkan, bahwa adzan ada sembilan belas kalimat. Maka tidak diragukan lagi, bahwa ujung jumlah (huruf) yang terakhir dari jumlah yang terdiri dari mubtada' (pokok kata) dan khabar (keterangan), boleh disebut dua macam: dimatikan atau dibariskan. Sunnah tidak menentukannya. Menurut lahir perkataan An-Nawawy: "Lebih baik takbir pertama disambung dengan takbir kedua."

Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam Syarah Bafadhal mengatakan, "Yang utama diwaqafkan di tiap-tiap kalimah. Menurut, yang demikian ini berdasarkan riwayat Ibnu Hajar tidak menerangkan sanad riwayatnya."

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan, "Seluruh fuqaha menetapkan bahwa adzan dibaca dengan perlahan tidak cepat, dan iqamat dibaca cepat." Demikian pendapat Ibnu Umar, Ats-Tsauri, Asy-Syafi'y, Ishak, Abu Tsaur, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad dan Ibnu Mundzir. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini."

Abdullah ibn Baththah mengatakan, "Kalimat-kalimat adzan dan iqamat jangan diwasalkan. Hendaklah dimatikan tiap-tiap akhirnya."

Ulama berpegang kepada hadits yang diriwayatkan oleh At-Turmudzy dari Jabir, bahwa Nabi saw. bersabda: "Wahai Bilal, apabila engkau membaca iqamat, hendaklah engkau menyegerakannya (mempercepatkan bacaannya)." Hadits ini sebenarnya dhaif. Juga riwayat yang diberitakan oleh Abu Syaikh yang semakna dengan ini dhaif.

Tarji'

Ahmad ibn Hanbal berpendapat, lafazh adzan adalah lima belas kalimat. Beliau tidak mengadakan tarji'. Malik menetapkan tujuh belas kalimat, yaitu dengan menduakan takbir di permulaannya dan mengadakan tarji". Asy-Syafi'y menetapkan sembilan belas dengan menetapkan empat kali takbir di permulaan dan tarji'. Pendapat Ahmad, sesuai dengan pendapat Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan ahlul qiyas.

An-Nawawy mengatakan, "Sebagian ulama hadits memperbolehkan kita mengadakan tarji', sebagian lagi memperbolehkan kita meninggalkannya." Dalam hadits adzan, kami memilih empat kali takbir di permulaan adzan mengingat dalil-dalil yang lebih kuat. Menurut pentahqiqan kami, iqamat boleh kita baca dua-dua dan boleh kita baca satu-satu. Yakni selain Allahu Akbar di permulaannya. Ini tetap dua kali dalam semua madzhab. Maksud ulama dalam mengatakan iqamat satu-satu tidak mengenai takbir di permulaannya.

Dalam urusan tarji', boleh diambil mana yang disukai. Jika kita ambil adzan Bilal, tidak ada tarji' di dalamnya. Jika kita ambil hadits Abu Mahdzurah terdapat tarji' di dalamnya. Kami menyukai diadakan tarji', karena ini adalah suatu kebajikan, yang sekurang-kurang pahalanya adalah enam puluh kebajikan. Ring- kasnya, apabila seseorang melakukan adzan, baik menurut adzan penduduk Mekkah ataupun Madinah, atau menurut adzan penduduk Kuffah, adzannya sah walaupun keutamaannya lebih kurang.

Menurut pentahqiqan, kita boleh menyambung dan mendepankan baris ra dan boleh kita waqafkan.

Hadits At-takbiru jazmun was salamu jazmun (Takbir itu dimatikan akhirnya dan salam itu dimatikan akhimya), menurut kata Al-Asqalani tidak ada asalnya sama sekali. Ketetapan ini sebenamya pendapat An-Nakha'y. Andai hadits ini shahih, maka ia mengenai takbiratul ihram, bukan takbir adzan."

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam buku Koleksi Hadits-hadits Hukum-1 Bab Adzan dan Iqamat