Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hadits Larangan Menyiksa Budak Dan Binatang

Hadits Larangan Menyiksa Budak Dan Binatang
LARANGAN MENYIKSA BUDAK DAN BINATANG

Allah SWT. Berfirman,

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

“Dan berbuat baiklah kepda kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang somobong dan membangga-banggakan diri.” (Qs. An Nisaa(4) : 36)

1608- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهٍِْ  ، قَالَ : عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْها حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ ، لاَ هِيَ أَطْعَمْتُهَا وَسَقَتْهَا ، إذَ حَبَسَتْهَا ، وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

1608. Dari Abdullah bin Umar RA., “Rasulullah SAW. bersabda, ‘Ada seorang perempuan yang masuk neraka disebabkan karena kucing, dia mengurungnya sampai kucing itu mati, ia tidak memberi makan dan minum kepada kucing itu, padahal ia mengekangnya, dan ia tidak mau melepaskan kucing itu agar dapat mencari makan (yang berupa) seranggga atau binatang-binatang kecil lainnya di bumi ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

1608- وَعَنْهُ : أنَّهُ مَرَّ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ ، وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلِّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ ، فَلَمَّا رَأَوْا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا ، فَقالَ ابْنُ عُمَرَ : مَنْ فَعَلَ هَذَا ؟ لَعَنَ اللهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  ، لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوْحُ غَرَضًا, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

1608. Dari Abdullah bin Umar RA., “Ia bertemu dengan pemuda-pemuda Quraisy yang memasang burung sebagai sasaran memanah, tetapi masing-masing dari anak panahnya tidak ada yang tepat mengenai sasarannya. Ketika mereka melihat Abdullah bin Umar, mereka kemudian berpencar. Kemudian Abdullah berkata, ‘Siapa yang berbuat ini? Allah mengutuk orang yang berbuat seperti ini. Sesungguhnya Rasulullah SAW. mengutuk orang yang mempergunakan sesuatu yang bernyawa untuk dijadikan sasaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

1609- وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللهِ  أن تُصْبَرَ الْبَهَائِمُ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1609. Dari Anas RA., ia berkata, “Rasulullah SAW. melarang menganiaya binatang yang akan dibunuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

1610- وَعَنْ أَبِي عَلِيِّ سُوَيْد بْنِ مُقَرَّنٍ رَضيَ الله عَنْهُ قَالَ : لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَابِعَ سَبْعَةٍ مِنْ بَنِي مُقَرَّنٍ مَا لَنَا خَادِمٌ إلاَّ وَاحِدَةٌ لَطَمَهَا أصْغَرُنَا فَأَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ  أنْ نُعْتِقَهَا.

1610. Dari Abu Ali, Suwaid bin Muqarrin RA, ia berkata, “Sebagaimana diketahui, kami adalah tujuh bersaudara dari putera Muqarrin. Kami hanya mempunyai seorang pelayan (budak). Suatu ketika adik kami yang terkecil [1]menampar budak itu, kemudian Rasulullah SAW menyuruh kami untuk memerdekakannya.” (HR. Muslim)

1611- وَعَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ البَدْرِيّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالض : كُنْتُ أَضْرِبُ غُلاَمًا لِي بالسُّوطِ ، فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي : (( اعْلَمُ أبَا مَسْعُودٍ )) فَلَمْ أفْهَمِ الصَّوْتَ مِنَ الغَضَبِ ، فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إذَا هُوَ رِسُوْلُ اللهِ  ، فَإذا هُوَ يَقُولُ : (( اعْلَمُ أبَا مَسْعُودٍ أنَّ اللهَ أقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هذَا الغُلامِ )) . فَقُلْتُ : لا أضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

1611. Dari Abu Mas’ud Al Badriy RA., ia berkata, “Aku pernah memukul budakku dengan cambuk, lalu aku mendengar suara dari belakang, ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud.’ Aku tidak mengetahui suara itu, karena diliputi kemarahan. Tatkala semakin dekat kepadaku, ternyata ia adalah Rasulullah SAW. Ketika itu beliau bersabda, ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud ! Sungguh, Allah lebih kuasa atas dirimu, daripada kamu atas budak ini.” Aku (Abu Mas’ud) berkata, “Aku tidak akan memukul budak lagi setelah kejadian ini.’”

وَ فِي رِوَايَةٍ : فَقُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ هُوَ حُرُّ لِوَجْهِ اللهِ تَعَالَي , فَقاَل َ: أَماَ لَوْ لَمْ تَفْعَلْ , لَلَفَحَتْكَ النَّارُ , أَوْ لَلَمَسَّتْكَ النَّارُ , رَوَاهُ مُسْلِم

Dalam riwayat lain, “Wahai Rasulullah, di (budak yang dipukulnya) merdeka, karena (aku) mengharapkan ridha Allah.” Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, seandainya engkau tidak melakukan itu (memerdekakan budak), niscaya api neraka akan membakarmu.’” (HR. Muslim)

1612- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ النَّبيَّ  ، قاَلَ : مَنْ ضَرَبَ غُلاَمًا لَهُ حَدّا لَمْ يَأْتِهِ ، أو لَطمَهُ ، فَإنَّ كَفَّارَتَهُ أنْ يُعْتِقَهُ , رَوَاهُ مُسْلِمُ .

1612. Dari Abdullah bin Umar RA., “Nabi SAW. bersabda, ‘Barangsiapa yang memukul budaknya sebagai hukuman apa yang tidak diperbuatnya, atau menamparnya, maka kafaratnya (dendanya) adalah memerdekakan budak itu.” (HR. Muslim)

1613- وَعَنْ هِشَامِ بْنِ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أنَّهُ مَرَّ بِالشَّامِ عَلىَ أُنَاسٍ مِنَ الأَنْبَاطِ ، وَقَدْ أُقِيمُوا فيِ الشَّمْسِ ، وَصُبَّ عَلَى رُؤُوسِهِمُ الزَّيْتَ ! فَقَالَ : مَا هذَا ؟ قِيلَ : يُعَذَّبُونَ في الْخَرَاجِ،
وَ فيِ رِوَايَةٍ : حُبِسُوْا فِي الْجِزْيَةِ . فَقَالَ هِشَامُ : أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُوْلَ الله ِ  يَقُوْلُ : إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِيْنَ يُعَذِّبُوْنَ النَّاسَ فيِ الدُّنْيَا , فَدَخَلَ عَليَ اْلأَمِيْرِ , فَحَدَّثَهُ فَأَمَرَ بِهِمْ فَخُلُّوْا , رَوَاهُ مُسْلِم.

1613. Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam RA., “Ketika ia berjalan di Syam, ia melihat ada beberapa petani yang dijemur di bawah terik matahari dan dituangkan minyak di atas kepala mereka. Kemudian Hisyam berkata, ‘Kenapa mereka diperlakukan seperti itu?’ Ada seseorang yang menjawab, ‘Mereka disiksa karena tidak mau membayar pajak.’
Dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka ditawan karena tidak mau membayar pajak.” Hisyam berkata, “Saya bersaksi, bahwa saya sungguh-sungguh mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa sesama manusia di dunia.” Hisyam lantas masuk ke rumah gubernur dan membicarakan apa yang terjadi serta memerintahkan agar mereka segera dilepaskan. Maka mereka pun dilepaskan.” (HR. Muslim)

1614- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهَا قَالَ: رَأَى رَسُوْلُ الله  ، حِمَارًا مَوْسُومَ الْوَجْهِ، فَأَنْكَرَ ذلِكَ ؟, فَقَالَ: ((واللهِ لا أسِمُهُ إلاَّ أقْصَ شَيْءٍ مِنَ الْوَجْهِ)) وَأمَرَ بِحِمَارِهِ فَكُوِيَ فِي جَاعِرَتَيْهِ، فَهُوَ أوَّلُ مَنْ كَوَى الجَاعِرَتَيْنِ، رَوَاهُ مُسْلِمُ.

1614. Dari Abdullah bin Abbas RA., ia berkata, “Rasulullah SAW. melihat seekor himar (keledai) yang diberi tanda (dicap dengan besi panas) di bagian mukanya. Rasulullah mencela hal itu, dan beliau bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak akan menandai himar, kecuali di tempat paling jauh dari mukanya.’ Dan beliau menyuruh membawa keledai beliau, lalu menandainya pada kedua pangkal pahanya. Maka beliau adalah orang yang pertama menandai pada kedua pangkal pahanya.’” (HR. Muslim)

1615- وَعَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ  : مَرَّ عَلَيْهِ حِمَارٌ قَدْ وُسِمَ في وَجْهِهِ فَقَالَ: لَعَنَ اللهُ الَّذي وَسَمَهُ, رَوَاهُ مُسْلِمُ.

1615. Dari Abdullah bin Abbas RA., “Suatu ketika ada seekor himar (keledai) yang dicap di mukanya lewat di hadapan Nabi SAW. Beliau pun bersabda, ‘Allah akan melaknati orang yang memberinya tanda (dengan besi panas).’”[2] (HR. Muslim)

[1] Dalam riwayat lain dikatakan ‘adik saya yang ketujuh’.
[2] Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan, “Rasulullah SAW. melarang memukul pada muka (wajah) dan memberi tanda dengan besi panas pada muka.”