Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HADITS MENAFKAHKAN HARTA YANG DICINTAI

HADITS MENAFKAHKAN HARTA YANG DICINTAI
37- MENAFKAHKAN HARTA YANG DICINTAI DAN YANG BAIK-BAIK

Imam Nawawi menjelaskan tentang Ayat Al-qur'an berkenaan dengan sedekah harta yang paling dicintai, sebagaimana firman Allah:

قاَلَ الله تَعَالَى : ]لَنْ تَنَالُوا البرَّ حَتىَّ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ( ( آل عمران : 92)

Allah SWT. berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna), hingga kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (Qs. Ali imran (03): 92)

sedekah yang paling tinggi pahalanya adalah barang yang disedekahkan terbaik. harta yang diinfakkan adalah harta yang disenangi berdasarkan surah al-baqarah 276:

وقاَلَ تَعَالَى : ] يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ , وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ ( ( البقرة : 276) .

Allah SWT. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi (hasil bumi) untuk kamu nafkahkan dengannya. Dan janganlah kamu memilah-milah yang jelek-jelek kemudian kamu nafkahkan dengannya. (Qs. Al Baqarah (02): 276)

seseorang belum dikatakan sempurna kebaikannya sebelum memberikan harta yang dicintainya

302- وَعَن أَنَسٍ رَ ضِيَ الله عَنْهُ قاَلَ : كَانَ أبُو طَلْحَةَ رَ ضِيَ الله عَنْهُ أكْثَرَ الأَنْصَار بِالْمَدِيْنَةِ مَالاً مِنْ نَخْلٍ , وَكَانَ أحَبُّ أمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرَحَاءُ وَكَانَتْ مُسْتَقْبَلَةَ الْمَسْجِدِ , وَكَانَ رَسُوْلُ الله r , يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيْهَا طَيِّب , قاَلَ أنَسٌ فَلَمَّا نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ : ] لَنْ تَنَالُوا اْلبَرَّحَتىَّ تُنْفِِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ( جَاءَ أبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُوْلُ الله r فَقاَلَ : يارَسُوْلُ الله إنَّ الله َتَعَالَى أنْزَلَ عَلَيْكَ ] لَنْ تَنَالُوا اْلبِرَّ حَتىَّ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ( وَإِنَّ أَحَبَّ مَالِي إِلَيَّ بَيْرَحَاءُ , وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلّهِ تَعَالَى , أرْجُوا بِرَّهَا , وَذُخْرَهَا عِنْدَ الله تَعَالَى , فَضَعْهَا يارَسُوْلُ الله حَيْثُ أرَاكَ الله , فقاَلَ رَسُوْلُ الله r : (( بَخ ذَالِكَ مَالٌ رَابحٌ ذَالِكَ مَالٌ رَابحٌ , وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أرَى أنْ تَجْعَلَهَا في الأَقْرَبِينَ )) فقاَلَ أبُو طَلْحَة : أفْعَلُ يارَسُوْلُ الله : فَقَسَّمَهَا أبُو طَلْحَة في أقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

302. Dari Anas RA., ia berkata: “Abu Thalhah RA. adalah orang yang paling kaya dengan pohon kurmanya di kota Madinah. Di antara Harta (kebun Kurma) yang paling disukainya adalah kebun Kurma Bairuha’ yang terletak dekat masjid Nabawi. Rasulullah SAW. sering masuk ke kebun itu dan minum air tawar yang ada di dalamnya. Anas kemudian berkata: “Ketika turun ayat: “LAN TANAALUL BIRRA HATTAA TUNFIQUU MIMMAA TUHIBBUUN, (Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sampai kamu menafkahkan sebagian dari harta yang paling kamu cintai). Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW. dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah turun ayat kepadamu yang berbunyi: “LAN TANAALUL BIRRA HATTA TUNFIQUU MIMMAA TUHIBBUUN, dan harta yang paling saya sukai adalah kebun Bairuha’, oleh karena itu kebun tersebut saya sedekahkan semata-mata mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala. Saya berharap semoga bisa menjadi kebaktian dan menjadi simpanan (investasi) di sisi Allah SWT. Maka pergunakanlah (kebun ini) sesuai dengan yang ditunjukkan Allah terhadapmu.” Rasulullah SAW. bersabda, “Bagus sekali, itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang memberi keuntungan. Sungguh saya telah mendengar ucapanmu, dan menurutku, baiknya kebun itu engkau bagikan kepada karib kerabatmu. Maka Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah, saya akan melakukan petunjukmu.” Akhirnya Abu Tahlhah pun pergi membagi-bagi kebun itu kepada kerabatnya dan saudara-saudara sepupunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)