Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HADITS BATAS DALAM BERIBADAH

HADITS BATAS DALAM BERIBADAH
Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ الله تَعَالى : {طه, مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى}

“Thaahaa, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Qs. Thaaha(20) :1-2)

يُرِيْدُ الله ُ بِكُمُ اليُْسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. Al-Baqarah(2) : 185)

146- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ r دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِْندَهَا أْمَرَأةٌ قَالَ : ((مَنْ هَذِهِ)) ؟ قَالَتْ : هذِهِ فُلاََنَةُ ُتَذْكُرُ مِنْ صَلاتِهَا قَالَ : ((مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيْقُونَ, فَواللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حَتىَّ تَمَلُّوا)) وَكَانَ اَحَبُّ الدِّينِ إلَيْهِ مَا دَوَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ, متفقٌ عليه.

146. Dari Aisyah RA., ia berkata, “Sesungguhnya Nabi masuk ke rumah Aisyah. Ketika itu ada seorang wanita di dalamnya, dan beliau bertanya, ‘Siapa dia?’. Aisyah menjawab, ‘Ini adalah fulanah yang terkenal shalatnya.’ Nabi bersabda, ‘Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak akan jemu untuk menerima amalmu, sehingga kamu sendiri yang merasa jemu untuk menerima amalmu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan terus menerus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

147- وَعَنْ انََسٍ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ قاَلَ : جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إلَى بُيُوتِ اَزْوَاجِ النَّبيَّ r يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النبيَّ  فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا وَقالُوا : أيْنَ نَحْنُ مِنَ النبيِّ  وَقَدْ غُفِرَ لَهُ ما تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخَّرَ. قَالَ أحدُهُم : أمَّا أَنَا فَأُصَلِّي اللَّيْلَ أبدًا. وَ قَالَ الآخَرُ : وَاناَ أصُومُ الدَّهْرَ أَبَدًا وَلاَ أُفْطِرُ, وَقاَلَ الآخَرُ : وَأَناَ أَعْتَزِِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أتَزَوَّجُ أبَدًا, فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ  إِلَيْهِمْ فَقَالَ : ((أنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذاَ وَكَذَا ؟ أَماَ وَاللهِ إنِّي لأَخْشَاكُمْ ِللهِ وَأتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأرْقُدُ وُأتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي)), مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

147. Dari Anas RA., ia berkata, “Tiga orang datang ke rumah istri Rasulullah SAW. Mereka bertanya tentang ibadah Nabi SAW. Setelah diberi tahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi hanya sedikit dan mereka bertanya, ‘Dimanakah tempat kami dibanding Nabi SAW., padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang?’. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Saya selalu shalat sepanjang malam.’ Yang lain berkata, ‘Saya berpuasa sepanjang hari (setiap hari)’. Yang lain lagi berkata, ‘Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan menikah selama-lamanya.’ Kemudian Rasulullah SAW. datang dan bersabda kepada mereka, ‘Kalian tadi yang berbicara begini dan begitu?. Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tapi aku tetap berpuasa dan berbuka, Aku shalat dan tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (itulah sunnahku) siapa saja yang benci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

148- وَعَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, أَنّ النَّبِيَّ r قَالَ : ((هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ)) قَالَهَا ثََلاَثاً, رَوَاهُ مُسْلِمُ.

148. Dari Abdullah bin Mas’ud RA., ia berkata, “Nabi SAW. bersabda, ‘Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan.’ Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Bersedang-sedanglah, dan dekatkan dirimu di waktu pagi, sore dan sedikit waktu malam. Bersahajalah, niscaya kamu akan sampai tujuan.”

149- وَعَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَِّبِّي r قَالَ : ((إنَّ الدِّينَ يُسْرُ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ إلا غَلَبَهُ, فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأبْشِرُوا, وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ)), رواه البخاري.
كَثْرَةِ طُرُقِهِ. وَ((الْغَدْوَةُ)) : سَيْرُ أَوَّلِ النَّهَارِ. وَ((الرَّوْحَةُ)) آخِرُ النَّهَارِ. وَ((الدُّلْجَةَ)) آخِرُ اللَّيْلِ.
وَهَذَا اسْتِعَارَةٌ وَتَمْثِيْلٌ، وَمَعْنَاهُ: آسْتَعِينُوا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالأَعْمَالِ فيِ وَقْتِ نَشَاطِكُمْ وَفَرَاغِ قُلُوبِكُمْ بِحَيْثُ تَسْتَلِذُّونَ الْعِبَادَةَ ولا تَسْأَمُونَ وَتَبْلُغُونَ مَقْصُودَكُمْ، كَمَا أنَّ الْمُسَافِرَ الحَاذِقَ يَسيرُ في هذِهِ الأوْقَاتِ وَيَسْتَرِيْحُ هُوَ وَدَابَّتُهُ في غَيْرِهَا فَيَصِلُ الْمَقْصُودَ بِغَيْرِ تَعَبٍ، واللهُ أَعْلَمُ.

149. Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah dan siapa saja yang mempersulitnya maka ia akan kalah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, Dekatkan diri kalian kepada Allah, dan bersukahatilah kalian serta pergunakan waktu pagi, sore dan sedikit waktu malam (untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (HR. Bukhari)

وَفيِ رِوَايَةٍ لَهُ : ((سَدِّدُوا وَقاَرِبُوا وَاغْدُوا وَرُوْحُوا, وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ, الْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا))

Dalam riwayat lain yang juga dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Permudahlah, mendekatkan dirilah kepada Allah, Lakukanlah perjalanan pagi, siang, dan (menjelang akhir malam)[1]

150- وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ قَالَ: دَخَلَ النبيُّ r الْمَسْجِدَ فَإذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فَقَالَ: ((مَا هذَا الْحَبْلُ))؟ قَالُوْا: هذَا حَبْلٌ، لِزَيْنَبَ فَإذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ بِهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ  : ((حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ)), مُتَّفَقٌ عَليْهِ.

150. Dari Anas RA., ia berkata, “Nabi SAW. masuk ke dalam masjid dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang, lantas beliau bertanya, ‘Tali apakah ini?’. Sahabat menjawab, ‘Zainab yang memasangnya, dan dipergunakan sebagai pegangan apabila telah letih dalam shalat. Nabi SAW. bersabda, ‘Lepaskan tali itu, jika di antara kalian shalat dalam keadaan segar, jika merasa capai, tidurlah.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

151- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِي َالله ُعَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قاَلَ: ((إذَا نَعَسَ أحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فإنَّهُ إذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لايَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ)), مُتَّفَقٌ عَلَيْه.

151. Dari Aisyah RA., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda, ‘Jika salah seorang di antara kalian mengantuk dalam shalat hendaknya ia tidur, sampai hilang rasa kantuknya. Karena apabila salah seorang di antara kalian shalat sedangkan ia mengantuk, maka ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud minta ampun, namun malahan mencela dirinya sendiri.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

152- وَعَنْ أَبيِ عَبْدِ اللهِ جَاِبِر بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ أصَلِّي مَعَ النَّبِي r الصَّلَوَاتِ فَكَانَتْ صَلاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا, رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

152. Dari Abu Abdullah Jabir bin Samurah RA., ia berkata, “Seringkali saya shalat bersama Nabi SAW., tapi dalam shalat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek.” (HR. Muslim)

153- وَعَنء أبي جُحَيْفَةَ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ الله عَنْهُ قَال: آخَي النَّبيُّ r بَيْنَ سَلْمَانَ وَأبي الدَّرْداءِ فَزَارَ سَلْمَانُ أبَا الدَّرْداءِ فَرَأى أُمَّ الدَّرْداءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ: ماشَأْنُكِ؟ قاَلَتْ: أخُوكَ أبُو الدَّرْدَاءِ ليَسْ ِلَهُ حَاجَةٌ في الدُّنْيَا فَجَاءَ أبُوا الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ لَهُ: كُلْ فَإنِّي صَائِمٌ، قَالَ: مَا أَناَ بِآكِلِ حَتَّى تَأْكُلَ، فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ فقالَ لَهُ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ لَهُ: نَمْ. فَلَمَّا كَانَ آخِرُ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ: قُمِ الآنَ، فَصَلَّيَا جَمِيعاً فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ: إنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ حَقًّا، فَاعْطِ كُلَّ ذِِيْ حَقَّ حَقَّهُ، فَإتَى النبيَّ r فَذَكَرَ ذِلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبيُّ  ((صَدَقَ سَلْمَاُن)), رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

153. Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah RA., ia berkata, “Nabi SAW mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia mendapatkan Ummu Darda’ (Istri Abu Darda’) Sedang mengenakan pakaian kerja, lantas Salman bertanya, ‘Mengapa kamu tidak berhias?’ Ummu Darda’ menjawab, “Saudaramu, Abu Darda’ sudah tidak memperhatikan kepentingan duniawi lagi...’ Kemudian Abu Darda’ datang dan disuguhkan makanan, berkata kepada Salman, ‘Silahkan makan saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau makan.’ Maka Abu Darda-pun makan. Di malam harinya Abu Darda bangun untuk mengerjakan shalat malam, lalu Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah!’ kemudian di akhir malam Salman berkata, ‘Bangunlah!’ kita shalat bersama-sama.’ Dan Salman berkata pula kepadanya, ‘Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu ada juga hak, maka penuhilah semuanya.’ Kemudian Nabi SAW. datang dan menceritakan apa yang baru saja terjadi, maka beliau memutuskan Salman benar.’” (HR. Bukhari)

154- وَعَنْ أَبيِ مُحَمَّدً عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعاَصِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: أُخْبِرَ النَِّبيُّ r أنِّي أَقُولُ: وَاللهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ، وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ. فَقَالَ رَسُوْلُ الله ِr : ((أنْتَ الَّذي تَقُولُ ذَلِكَ)). فَقُلْتُ لَهُ: قَدْ قُلْتُهُ بِأَبيِ أَنْْتَ وَ أُمِّي ياَ رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: ((فَإنَّكَ لاَتَسْتَطِيعُ ذَلِكَ فَصُمْ وَأْفْطِر، وَنَمْ وَقُمْ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أياَّمِ فإنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أْمْثَالِهَا وَذلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ)) قُلْتُ: فَإنِّي أُطِيْقُ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ قاَلَ: ((فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ)) قُلْتُ: فَإنِّي أُطِْيقُ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ قاَلَ: فَصُمْ يَوْمًا وَأفْطِرْ يَوْمًا فَذلِكَ صِيَامُ دَاوُد r، وَهُوَ أعْدَلُ الصيَّامِ)).

154. Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash RA., ia berkata, “Nabi SAW. diberitahu tentang ucapanku, yaitu, ‘Demi Allah, sungguh saya akan selalu berpuasa pada siang hari dan bangun sepanjang malam untuk mengerjakan shalat seumur hidupku.’ Kemudian Rasulullah SAW. bertanya, ‘Kamu yang mengucapkan ucapan seperti itu?’ Kemudian saya menjawab, ‘Benar, saya mengucapkannya.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup untuk berbuat demikian, maka berpuasa dan berbukalah, tidur dan bangunlah untuk shalat serta berpuasalah tiga hari setiap bulannya, karena pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali. Jadi, jika setiap bulan kamu berpuasa tiga hari, maka itu seperti berpuasa sepanjang masa.” Ia berkata: “Sesungguhnya saya mampu untuk berpuasa melebihi tiga hari setiap bulan.” Beliau menjawab, (kalau begitu) berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.’ Itulah cara puasa Nabi Daud AS., dan itu adalah puasa yang paling utama.”

وَفيِ رِوَايَةٍ: ((هُوَ أفْضَلُ الصِّيَامِ)) فَقُلْتُ: فَإنِّي أُطِيْقُ أفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُوْلُ الله r : ((لاَ أَفْضَُلَ مِنْ ذلِكَ)) وَلأِنْ أَكُونَ قَبِلْتُ الثَّلاَثَةَ الأياّمِ الَّتيِ قَالَ رَسُوْلُ الله ِr ، أَحَبُّ إليَّ مِنْ أَهْلي وَمَالي.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Itu adalah puasa yang paling utama.’ Saya berkata lagi, ‘Sessungguhnya saya sanggup untuk berpuasa lebih dari itu.’ Sungguh tidak ada melebihi keutamaan puasa Nabi Dawud AS. Kemudian Abu Muhammad berkata, ‘Seandainya dulu saya menerima anjuran Nabi SAW. berupa puasa tiga hari tiap bulanya, maka itu lebih saya sukai daripada keluarga dan harta benda.’”

وَفيِ رِوَايَةٍ: ((أَلَمْ أُخْبَرْ أنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ))؟ قُلْتث: بَلَى ياَ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ((فَلاَ تَفْعَلْ: صُمْ وَأفْطِرْ، وَنَمْ وَقُمْ فإنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإنَّ لِعَيْنَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أيَّامٍ، فإنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أمْثَالِهَا، فَإنَّ ذلِكَ صِيَامُ الدَّهْر)) فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنِّى أجِدُ قُوَّةً قاَلَ: ((صُمْ صِيَامَ نَبيِّ الله ِ دَاوُدَ وَلاَ تَزِدْ عَلَيْهِ)) قُلْتُ: وَمَا كَانَ صِيَامُ دَاوُد؟ قَالَ: ((نِصْفَ الدَّهْرِ)) فَكَانَ عَبْدُ الله يَقُوْلُ بَعْدَماَ كَبِرَ: ياَ لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ رَسُوْلِ الله ِ صَلىَّ الله ُعَلَيْه ِ وَسَلَّمَ

Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah SAW. bersabda, ‘Saya mendengar bahwa kamu berpuasa sepanjang hari dan bangun sepanjang malam untuk shalat malam?’. Saya menjawab, ‘Benar wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Jangan berbuat demikian. Berpuasa dan berbukalah, tidur dan bangunlah untuk mengerjakan shalat!, Karena sesungguhnya tubuhmu, kedua matamu, istri dan tamumu mempunyai hak. Cukuplah kamu berpuasa tiga hari setiap bulannya, kerena setiap satu kebaikan itu dilipat gandakan balasannya dengan sepuluh kali lipat. Jika kamu berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berarti kamu bagaikan berpuasa sepanjang masa.” Maka saya memperberatnya sehingga aku diperberat. Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, saya merasa masih kuat, Nabi menjawab, ‘Berpuasalah seperti puasa Nabi Dawud AS. jangan lebih dari itu!’. Saya bertanya, ‘Bagaimana puasanya Nabi Daud?, Beliau menjawab, ‘Setengah masa.’ Ketika Abdullah sudah tua ia berkata, ‘Aduh menyesal sekali, seandainya dulu saya menerima keinginan yang diberikan Nabi SAW niscaya akan lebih baik bagiku.”

وَفيِ رِوَاَيةٍ: ((ألَمْ أُخْبَرْ أنَّكَ تَصُومُ الدَّهْرَ، وَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ كُلَّ لَيْلَة))؟ فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلَمْ أُرِدْ بِذلِكَ إِلاَّ الْخَيْرَ قَالَ: ((فَصُمْ صَوْمَ نَبيِّ اللهِ دَاوُد، فإنَّهُ كَانَ أعْبَدَ النَّاسِ، وَأقْرَإِ الْقُرآنَ فيِ كُلِّ شَهْرٍ)) قُلْتُ: ياَنَبيَّ اللهِ أنِّي أُطِيقُ أفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قاَلَ: ((فَاقْرَأْهُ فيِ كُلِّ عِشْرِيْنَ)) قُلْتُ: ياَنَبِي r إِنِّي أُطِيْقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَالِكَ؟ قَالَ: ((فَاقْرَأهُ في ِكُلِّ عَشْر)) قُلْتُ: يَا نَِبيَّ اللهِ إنِّي أُطِيقُ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ؟ قاَلَ: ((فَاقْرَأْهُ في كُلِّ سَبْعٍ وَلاَتَزِدْ عَلَى ذلِكَ)) فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ وَقاَلَ لِي النَّبِي ُّr : ((إنَّكَ لاَتَدْرِي لَعَلَّكَ يَطُولُ بِكَ عُمُرٌ)) قَالَ: فَصِرْتٌ إلى الَّذِي قاَلَ لي النَّبيُّ r. فَلَمَّا كَبِرْتُ وَدِدْتُ أنِّي كُنْتُ قَبِلْتُ رُخْصَةَ نَبيِّ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Saya mendengar bahwa kamu berpuasa sepanjang masa dan membaca Al-Qur’an sepanjang malam, benarkah demikian?’. Saya menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah, dan saya berbuat demikian tiada lain yang kuharapkan adalah kebaikan.’ Beliau bersabda, ‘Berpuasalah sebagaimana puasa Nabi Dawud AS., karena dialah yang paling banyak ibadahnya di antara manusia. Dan hatamkan al-Qur’an sebulan sekali.” Saya menyatakan, ‘Wahai Nabi Allah, saya kuat melebihi itu.’ Beliau bersabda, ‘Hatamkanlah Al-Qur’an setiap Dua puluh hari sekali.’ Ia tetap berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya saya mampu untuk berbuat lebih dari itu.’ Beliau bersabda, ‘Hatamkanlah AL-Qur’an setiap seminggu sekali dan jangan lebih dari itu.’ Saya merasa sangat kuat dan minta diberi tambahan, Kemudian Nabi SAW. bersabda, ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu, mungkin kamu dipanjangkan umurmu.” Abdullah berkata, ‘Maka benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW. kepadaku. Ketika sudah tua, saya menyesal kenapa dulu tidak mau menerima tawaran yang diberikan Rasulullah SAW.’”

وَفيِ رِوَايَةٍ: ((وَإنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا))

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya anakmu mempeunyai hak yang harus kau tunaikan.”

وَفيِ رِوَايَةٍ: ((لاَصِياَمَ مَنْ صَامَ الأَبَدِ)), ثَلاثًا

Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW. bersabda, “Tidak dinamakan puasa orang yang berpuasa sepanjang masa.’ Beliau mengulanginya tiga kali.

وَفيِ رِوَايَة:ٍ ((أََحَبُّ الصِِّيَامِ إِلَى اللهِ تَعاَلىَ صِياَمُ ُداَوُدَ، وَأَحَبَّ الصَلاةِ إِلَى اللهِ تَعاَلى صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَناَمُ نِصْفَ اللَّيل،ِ وَيَقُرْمُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكاَنَ يَصُوْمُ يَوْماً وَيُفْطِرُ يَوْماً، وَلاَيَفِرُّ إذَا لاقَي)).

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW. bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Nabi Dawud, Shalat yang paling disukai Allah adalah cara shalat Nabi Dawud, dimana beliau tidur sampai tengah malam dan bangun sepertiganya kemudian tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Beliau berpuasa sehari, berbuka sehari, dan tidak pernah lari ketika bertemu dengan musuh.

وَفيِ رِوَايَةِ: أنْكَحَنِي أَبيِ آمرَأةً ذَاتَ حَسَبٍ وَكَانَ يَتَعَاهَدُ كِنَّتَهُ – أَيْ: امْرَأَةَ وَلِدِهِ-فَيِسْأَلُهَا عَنْ بِعْلِهَا. فَتَقُولُ لَهُ: نِعْمَ الرَّجُلُ مِنْ رَجُلٍ لَمْ يَطَأْلَنَا فِرَاشًا وَلَمْ يُفَتِّشْ لَنَا كَنَفًا مُنْذُ أتَيْنَاهُ. فَلَمَّا طَالَ ذلِكَ عَلَيْه ذَكَرَ للنَّبيِّ r فقالَ: ((ألْقِنِي بِهِ)) فَلَّقَيْتُهُ بَعْدُ فَقَالَ: ((كَيْفَ تَصُومُ)) ؟ قُلْتُ: كُلَّ يَوْمٍ، قالَ: ((وَكَيْفَ تَخْتِمُ))؟ قُلْتُ: كُلَّ لَيْلَةٍ، وَذَكَر نَحْوَ مَا سَبَقَ، وَكَانَ يَقْرَأُ عَلَى بَعْضِ أهْلِهِ السُّبُعَ الَّذِي يَقْرَؤُهُ يَعْرِضُهُ مِنَ النَّهَارِ ليَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ باللَّيْلِ وَإذَا أرَادَ أنْ يَتَقَوَّى أفْطَرَ أيَّامًا وَأحْصَى وَصَامَ مِثْلَهُنَّ كرَاهِيَةَ أنْ يَتْرُكَ شَيْئًا فَارَقَ عَلَيْهِ النَّبيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dalam riwayat lain dikatakan, “Abdullah berkata, ‘Ayahku telah mengawinkanku dengan wanita bangsawan, dan ayahku selalu mendatangi istriku menanyakan keadaanku, kemudian istriku menjawab, ‘Suamiku adalah sebaik-baiknya laki-laki, hanya saja tidak pernah tidur bersama dan juga tidak begitu memperhatikan keadaan istrinya sejak saya di sini.’ Setelah hal itu berjalan lama, kemudian ayahku memberitakan perkara ini kepada Rasulullah SAW., maka beliau bersabda, ‘Hadapkan dia padaku!’ Saya lalu menghadap, lalu beliau bertanya, ‘Bagaimanakah cara kamu berpuasa?’ Saya menjawab, ‘Setiap hari.’ Beliau bertanya, ‘Bagaimana kamu menghatamkan Al-Quran?’ Saya menjawab, ‘Setiap malam.’ Kemudian Abdullah melanjutkan hadisnya sebagaimana di atas.[2] Semua riwayat hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

155- وَعَنْ أَبيِ رِبْعِي حَنْظَلَةَ بْنِ الرَّبِيعِ الأُسَيْدِيِّ الْكَاتِبِ أَحَدَ كِتَابِ رَسُوْلِ اللهِ r قَالَ: لَقِيَنِي أبُوُ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: كَيْفَ أنْتَ ياَحَنْظَلَةُ؟ قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ! قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُولُ؟! قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسًوْل ِالله r يُذَكِّرُنَا بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ كأنَّا رَأْيَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُوْلِ اللهِ r عَافَسْنَا الأزْوَاجَ والأوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا، قَالََ أبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ: فَوَاللهِ إناَّ لَنَلْقَى مِثْلَ هذَا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وأبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللِه r . فقُلْتُ: ناَفَقَ حَنْظَلَةُ ياَ رَسُوْلَ اللهِِ ! فَقاَل َرَسُوْلُ الله r : ((وَمَا ذَاكَ))؟ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِانَّارِ وَالجَنَّةِ كَأَنَّا رَأْيَ العَيْنِ، فَإذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأَوْلادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  : ((وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنْ لَو ْتَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الملائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفي طُرُقِكُمْ، لَكِنْ يَاحَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً)) ثَلاَثَ مَرَات، رَوَاهُ مُسْلِم.

155. Dari Abu Ribi’ Hanzhalah bin Ribi’ al-Usayyidiy, -salah seorang juru tulis Rasulullah SAW.,- ia berkata, “Saya bertemu dengan Abu Bakar RA, kemudian ia bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?’ Saya menjawab, ‘Hanzhalah kini telah munafik.’ Abu Bakar berseru ‘Subhaanallaah, Apa yang kamu katakan?’. Saya menjelaskan, ‘Kalau kami di hadapan Rasulullah SAW., kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka, maka seakan–akan kami melihat dengan mata kepala, tapi bila kami pergi dan beliau bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai urusan maka kami sering lupa.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, kami juga begitu.’ Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah SAW., lalu sayapun berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah munafik.’ Rasulullah SAW. bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apabila kami berada di hadapanmu kemudian engkau menceritakan tentang neraka dan surga, kami merasa seolah-olah melihat dengan mata-kepala sendiri, namun setelah kami keluar dan berbaur dengan Istri dan anak-anak(keluarga), serta mengurusi berbagai macam persoalan, maka kami sering lupa.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, apabila kamu tetap dalam keadaanmu ketika di hadapanku dan mengingat-ingatnya niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu dan di jalan. Tetapi, hai Hanzhalah sesaat dan sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali.’” (HR. Muslim)

156- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ r يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بَِرجُلٍ قَائِمٍ فَسَأَلَ عَنْهُ فَقَالُوْا: أبُو إسْرَائِيلَ نَذَرَ أنْ بَقُومَ فيِ الشَّمْسِ وَلاَ يَقْعُدَ، وَلاَيَسْتَظِلَّ وَلاَ يَتَكَلَّمَ، وَيَصُومَ، فَقَالَ النَّبِيُّ : ((مُرُوهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ)), رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

156. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Tatkala Nabi SAW berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri, kemudian beliau menanyakannya. Para Sahabat menjawab, “Dia adalah Abu Israil, ia bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk, juga tidak akan berteduh dan berbicara sedangkan ia sedang berpuasa.’ Kemudian Nabi SAW. bersabda, ‘Perintahkanlah dia supaya berbicara, berteduh, duduk, dan perintahkan juga agar dia menyempurnakan puasanya!’” (HR. Muslim)

[1] Ungkapan Nabi ini adalah konotasi dari : “Minta tolonglah untuk senantiasa taat kepada Allah pada waktu kerjamu, masa.”

[2] Semua Riwayat ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, kecuali beberapa saja yang diriwayatkan oleh salah satu di antara keduanya.