Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Surat Al-Baqarah Ayat 8-10

Surat Al-Baqarah Ayat 8-10



AYAT 8-10 SURAT AL-BAQARAH
Surat Al-Baqarah Ayat 8-10
Surat Al-Baqarah Ayat 8-10

Baca juga:

Penjelasan Ayat

Di antara manusia selain dua kelompok yang disebut sebelum ini, yakni bukan orang bertakwa bukan juga orang kafir, adalah orang-orang munafik. 

Terdapat tiga belas ayat dalam kelompok ayat-ayat pertama surah al Baqarah ini yang membicarakan mereka. Walaupun, jika bertitik tolak dari segi masa turunnya, kita harus berkata bahwa ayat-ayat tersebut melukiskan sebagian anggota masyarakat Madinah belasan abad yang lalu, tetapi pada hakikatnya kita dapat berkata bahwa ayat-ayat tersebut melukiskan keadaan sebagaian anggota masyarakat umat manusia, kapan dan di mana pun. 

Uraian panjang lebar diperlukan karena sebagian sifat-sifat mereka tidak muncul ke permukaan, bahkan mereka sangat lihai menyembunyikan atau mengemasnya dalam kemasan indah. Mereka itulah yang dimaksud dengan firman-Nya, di antara manusia. Allah swt. memulai uraian-Nya tentang gambaran orang-orang munafik dengan berfirman: 

Di antara mereka ada yang mengatakan, "Kami telah beriman kepada Allah dengan iman yang benar dan kami juga telah percaya dengan keniscayaan hari Kemudian" untuk mengelabui orang-orang mukmin.

Pernyataan mereka itu dibantah dengan menggunakan redaksi yang menunjuk pada ketidakmantapan iman mereka. Memang, bisa saja ada sedikit keimanan yang bersemai dalam kalbu mereka, tetapi itu bukanlah iman yang mantap yang menjadikan mereka wajar dinamai orang mukmin. Padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang mukmin yang mantap imannya. Sebagian masih terombang ambing dan sebagian lagi hanya berpura-pura.

Penipuan adalah upaya mengelabui pihak lain untuk menjerumuskannya dalam kesulitan tanpa disadari oleh yang dijerumuskan, atau upaya menampakkan pertolongan padahal di balik itu terdapat kerugian bagi pihak yang lain. 

Orang-orang munafik ketika itu bergaul dengan orang-orang mukmin dengan tujuan mendengar rahasia kaum muslimin untuk kemudian membocorkannya kepada lawan, atau bergaul dengan tujuan menutup nutupi kemunafikan mereka sehingga mereka terhindar dari sanksi yang dapat dijatuhkan kepada mereka. 

Mereka sungguh keliru, padahal sebenarnya mereka tidak menipu kecuali hanya menipu diri mereka sendiri, walau sedang mereka tidak sadar bahwa mereka merugikan diri mereka sendiri, atau bahkan mereka tidak memiliki sedikit kesadaran pun, baik menyangkut bahaya yang dapat menimpa mereka maupun kesadaran menyangkut yang bermanfaat atau berakibat buruk buat mereka.

Walhasil, mereka bukan manusia yang memiliki kesadaran. Ini disebabkan karena dalam hati mereka ada penyakit, seperti membenci Nabi dan iri terhadap beliau, kesesatan, kebodohan, dan lain-lain yang menyebabkan ketidakseimbangan mental, bahkan kematian ruhani. Maka Allah menambah penyebab penyakit itu melalui upaya dan maksud buruk mereka atau menambahnya dengan menurunkan lebih banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menjadi petunjuk sekaligus menunjukkan kesesatan mereka, sehingga dengan demikian bertambahlah kedengkian dan ketidakseimbangan mental mereka. Itu semua menjadikan mereka wajar mendapat siksa yang menyakitkan, setelah itu: Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan karena mereka berdusta Sementara orang yang tidak mengerti, berkata bahwa redaksi ayat di atas yang menyatakan " 

Di antara manusia ada yang mengatakan " adalah redaksi yang mubazzir, karena dari informasinya akan terlihat dengan jelas bahwa pengucapnya adalah manusia. Dugaan mereka sangat keliru. Kehadiran redaksi ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Anda tahu bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik.

Ayat ini mengandung kecaman, kritik yang pedas bahkan boleh jadi dinilai sebagai cacian terhadap mereka. Nah, agar mereka tidak merasa di telanjangi " dan dipermalukan di depan umum-apalagi surah ini adalah salah satu surah pertama yang turun di Madinah di mana kemunafikan baru dikenal maka penggunaan redaksi tersebut dalam situasi semacam itu masih sangat perlu. Ayat ini merupakan sindiran, bukan tudingan kepada orang tertentu dengan harapan, kiranya yang melakukan keburukan itu dapat malu, atau sadar sehingga memperbaiki diri. 

Di sisi lain, didahulukannya kata-kata itu, juga bertujuan menarik perhatian pendengar tentang apa yang akan disampaikan menyangkut mereka. Ayat di atas hanya menyebut dua dari sekian banyak kepercayaan yang wajib, yaitu Kami telah beriman kepada Allah dan bari Kemudian. Ini untuk memperingkas dan merangkum segala sesuatu, karena kepercayaan kepada Allah swt merupakan sumber yang atas dasarnya lahir kepercayaan kepada utusan-Nya. 

Di sisi lain, karena kepercayaan merupakan landasan bagi diterimanya setiap amal. Adapun keimanan pada hari akhir, maka ini merupakan pendorong untuk melakukan amal-amal kebajikan. Boleh jadi juga hanya kedua hal itu yang disebut karena memang hanya kedua hal itu yang selalu diucapkan oleh orang-orang munafik.

Agaknya demikian, karena di samping mereka ingin menampakkan keislaman di hadapan kaum muslimin juga dalam saat yang sama ingin memelihara hubungan baik dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi dengan menyatakan bahwa kami mengakui kedua hal itu tetapi kami tidak mengakui kenabian Muhammmad saw.

Demikian, terlihat ketelitian al Qur'ân menyampaikan atau menggarisbawahi ucapan mereka. Kata ( es ) yakhadi'in terambil dari akar kata khada'a yang merupakan ucapan atau perbuatan yang disertai dengan pengelabuan seakan-akan pelakunya bermakud baik padahal sebaliknya. 

Sang pelaku melakukan itu terkadang untuk mengurungkan niat seseorang untuk melakukan sesuatu, atau mengalihkannya sehingga ia berbuat hal lain yang lebih menguntungkan pelaku. Perlakuan semacam ini tercela dalam keadaan apapun kecuali pada peperangan. 

Dalam konteks ini Nabi bersabda "Peperangan adalah tipu daya" atau " Peperangan adalah kegiatan yang dilakukan oleh yang pandai bertipu daya.” 

Adapun menampakkan diri sebagai tertipu kepada yang menipu, maka-selama sikap ini tidak merugikan-ia terpuji atau paling sedikit dapat ditoleransi. Bahwa orang-orang munafik menipu Allah, tentu saja merupakan hal yang mustahil. Karena itu ada yang memahaminya dalam arti bahwa mereka menipu kaum mukminin. Ini karena penipuan mereka kepada kaum mukminin disebabkan karena kepercayaan kaum mukminin kepada agama Allah dan didorong oleh pengingkaran kaum munafikin terhadap tuntunan Allah, maka penipuan itu bagaikan tertuju kepada Allah swt. 

Dapat juga dikatakan bahwa yang dimaksud menipu Allah adalah menipu rasul-Nya. Itupun bukan dalam arti penipuan telah terjadi dan Rasul saw telah terjerumus dalam penipuan itu, tetapi dalam arti mereka bermaksud menipu, tetapi tujuan mereka tidak tercapai, karena yang terjadi adalah justru mereka yang tertipu. Yang dimaksud dengan " Allah dan kaum mukminin menipu mereka " bukan berarti penipuan dibalas dengan penipuan, karena ini adalah sesuatu yang buruk. 

Tetapi maksudnya adalah kaum mukminin berpura-pura tidak mengetahui ulah mereka dan tetap memperlakukan mereka seperti apa yang mereka tampakkan di permukaan, padahal mereka sebenarnya mengetahui gerak gerik dan tipu daya mereka. Sikap berpura-pura itulah s yang dinamai penipuan ketika dinisbahkan kepada kaum mukminin. 

Apa yang dilakukan oleh Rasul saw. dan kaum mukminin itu mendapat restu Allah swt., sehingga dengan demikian, restu itu dinilai juga sebagai tipu Allah terhadap mereka. Di tempat lain dinyatakan bahwa mereka menipu Allah padahal Dia yang menipu mereka ( QS. an-Nisa ' [ 4 ]: 142 ). Firman-Nya: ( 0 ) la yasy'urin / tidak sadar terambil dari kata sya'ara yang sering diterjemahkan merasa. Rasa adalah salah satu alat pengetahuan, dan karena itu, kata tersebut biasa juga diartikan mengetahui, hanya saja pengetahuan dimaksud menyangkut hal-hal yang teliti, tersembunyi lagi halus. 

Itu sebabnya penyair dinamai sya'ir dia mengetahui makna-makna yang tersembunyi dan menampilkan sajak sajaknya dengan kalimat-kalimat indah tersusun rapi dan menyentuh rasa.

Semua, berdasar kaidah-kaidah yang tidak diketahui oleh sembarang orang Ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut terambil dari kata sy'ar yaitu baju yang dipakai seseorang.

Dari kata tersebut lahir kata yang menunjuk kepada yang dilahirkan oleh indra perasa. Thahir Ibn 'Asyur tidak memahami kata dyasyaran bukan dalam arti tidak memiliki rasa, tetapi dalam arti tidak memiliki kecerdasan berpikir, atau bahwa mereka adalah orang-orang yang dungu. Ini menurutnya lebih buruk daripada menilai mereka tidak memiliki rasa. Karena-tulisnya-mencela dengan sesuatu yang biasa terjadi lebih mantap daripada mencela menyangkut satu sifat yang tidak mungkin terjadi. 

Adanya " rasa " buat mereka diakui oleh semua orang, sehingga menafikannya tidak merisau kan mereka, karena menafikan hal itu dari seorang manusia merupakan suatu yang hampir mustahil. Tetapi menafikan kecerdasan mereka atau dengan kata lain menilai mereka dungy justru sangat menyakitkan mereka. 

Pendapat Ibn ' Asyur di atas, dapat dibenarkan bila yang dimaksud dengan " rasa " adalah produk dari indra perasa. Ini memang hampir-hampir dikatakan mustahil bagi manusia. Tetapi hemat penulis, bukan produk indra perasa itu yang dimaksud dengan perasaan yang dinafikan di sini. Yang dinafikan di sini adalah perasaan yang merupakan sumber iman dan budi pekerti. Ia adalah kepekaan terhadap lingkungan. 

Bisa saja seseorang memiliki indra perasa yang sangat peka tetapi ia tidak memiliki sedikit perasaanpun, dan ketika itu jangan harapkan lahir darinya akhlak baik terhadap Allah, manusia maupun lingkungannya. 

Firman-Nya: fi qulubihim maradhun / dalam hati mereka ada penyakit yakni gangguan yang menjadikan sikap dan tindakan mereka tidak sesuai dengan kewajaran. Ini menjadikan mereka memiliki akhlak yang sangat buruk. Penyakit itulah lahir akibat kemunafikan mereka. 

Firman-Nya: Allah menambah penyakit, dipahami oleh Thahir Ibn 'Asyur dalam arti bahwa sifat-sifat buruk yang melekat pada diri mereka itu dari hari ke hari bertambah, karena demikian itulah sunnatullah terhadap akhlak; ia bertambah sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh pelakunya. 

Bahwa kemunafikan menambah buruk sifat-sifat mereka, karena seorang yang memilikinya selalu berusaha menutupi sifat-sifat buruk itu, sehingga ia tidak pernah mendapat kritik atau nasihat. Ini tidak ubahnya dengan seorang sakit yang menutup-nutupi penyakitnya, enggan ke dokter sehingga penyakitnya bertambah dari saat ke saat. Ayat di atas mengulangi kata ( a ) maradh, dan keduanya dalam bentuk makinah ( indefinite ). Ada kaidah yang menyatakan bahwa apabila dalam satu susunan kata terulang kata yang sama dalam bentuk makinah, maka kandungan makna kata pertama berbeda dengan kandungan kata yang kedua. Ini berarti penyakit yang tadinya diderita oleh orang-orang munafik bertambah akibat kemunafikan mereka sehingga menimbulkan komplikasi dan penyakit penyakit baru. Demikian, satu penyakit melahirkan penyakit yang lain. 

Penyelewengan bermula kecil, kemudian sedikit demi sedikit membesar dan membesar. Demikian itu adalah sunnatullah yakni ketetapan Allah yang berlaku di setiap saat dan dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang rasa, tingkah laku, sampai puncaknya, yang dalam konteks uraian ayat ini adalah siksa yang menyakitkan disebabkan karena mereka berbohong, Seperti Anda baca, penyakit tersebut lahir akibat ulah yang bersangkutan sendiri bukan oleh Allah. 

Namun ayat ini menyatakan bahwa Allah yang menambahnya. Ini karena seperti dikemukakan di atas, Allah yang menetapkan sunattulláh, yakni hukum-hukum sebab dan akibat atau ketetapan-ketetapan yang berlaku umum, sehingga bagaikan Dia yang menambahnya. 

Hal itu sekaligus untuk mengisyaratkan murka Allah kepada kaum munafikin atas aneka penipuan mereka. Sementara ulama memahami kata Maka Allah menambah penyakit buat mereka dalam arti doa semoga Allah menambahnya. 

Pendapat ini kurang tepat bukan saja karena adanya kata maka tetapi juga karena mendoakan agar keburukan seseorang bertambah, tidaklah merupakan sesuatu yang terpuji bahkan bertentangan dengan sikap Rasul saw yang seringkali berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada umatnya yang belum beriman. 

Kutipan dari Tafsir Al-Mishbah Tulisan M. Quraish Syihab