Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menghormati Orang Yang Berbuat Keburukan, Perlukah???

Menghormati Orang Lain, Perlukah???
Di antara faktor kesuksesan dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam meraih simpati mereka serta menghindari kegagalan bersama mereka adalah tidak menghina kebodohan mereka serta tidak berbantah-bantahan dengan mereka. 

Allah Ta'ala berfirman, " Dan hamba hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu ( ialah ) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang jahil ( bodoh ) menyapa mereka, mereka mengucapkan kata kata yang mengandung keselamatan. " (QS. An-Nisa' ayat 86)

Baca juga:

Selain itu, hendaknya juga bersikap lembut kepada laki-laki yang jahat dan suka berbuat keji, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita bahwasanya ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika beliau melihatnya beliau bersabda, " Kecelakaan bagi orang dari kabilah ini dan kecelakaan bagi orang dari kabilah ini. " 

Namun setelah orang itu duduk, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap menampilkan wajah ceria dan mukanya berseri-seri. Setelah orang itu pergi, Aisyah berkata kepada beliau, " Wahai Rasulullah, ketika engkau melihatnya, engkau katakan kepadanya begini dan begini, kemudian engkau tampilkan wajah ceria dan berseri-seri kepadanya. " Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, " Wahai Aisyah, kapan engkau menilaiku keji ? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kejahatannya. 

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa Aisyah berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, " Wahai Rasulullah, engkau telah katakan apa yang engkau sampaikan tadi, tetapi kemudian engkau berkata-kata lembut kepadanya. " Beliau bersabda, " Wahai Aisyah, sesungguhnya sejahat-jahat orang adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut kejahatannya. " 

Demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dari keburukan dan kejahatan orang tersebut. Namun dengan kemulian dan akhlak baik yang dimilikinya, beliau tampilkan wajah yang berseri seri dan tidak menghadapinya dengan sesuatu yang tidak disukai. Hal itu dilakukan agar umatnya mengikuti cara beliau dalam menghindari kejahatan orang ini dan dalam bersikap lembut kepadanya sehingga mereka selamat dari kejahatan dan kekejiannya.

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat tetap memberikan senyum kepada beberapa orang yang tidak mereka sukai dan tertawa dengan mereka, meskipun hatinya melaknat mereka. Yang demikian itu sebagai bentuk sikap lembut terhadap mereka sekaligus untuk menghindari kejahatan dan kekejian mereka. 

Demikian itulah faktor-faktor dan sebab-sebab yang jika ditempuh oleh seorang laki-laki dan dipegang teguh, maka dia akan meraih kesuksesan dalam menjalin hubungan dengan berbagai kelompok orang dan memperoleh cinta dan hormat dari mereka, sedangkan orang yang mengerjakan hal-hal yang berbeda dengan itu, berarti dia telah menempuh jalan kegagalan bersama orang lain dan menyebabkan kebencian mereka terhadapnya, dan dia tidak akan memperoleh dari semuanya itu kecuali kerugian, sekalipun dia mengerjakan shalat, puasa, dan zakat. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjelaskan nilai tersebut kepada orang yang mengerjakan hal itu seraya bersabda, " Apakah kalian tahu siapakah muflis itu ? " Mereka menjawab, " Muflis di antara kita adalah orang yang tidak memiliki dirham dan juga makanan. " Beliau bersabda, " Orang muflis di antara umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat kelak dengan membawa shalat, puasa, dan zakat sedang dia datang dalam keadaan telah menghina ini, menuduh ini, dan mamakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, memukul orang ini, lalu kebaikannya diambil untuk orang ini, dan ini juga diambilkan dari kebaikannya. Dan jika kebaikannya sudah habis sebelum terpenuhi semuanya, maka akan diambilkan dari kesalahan mereka untuk kemudian dicampakkan ke dalam neraka. " (HR. Muslim)