Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Panglima Tibang

Kisah Panglima Tibang
Kalau kita lihat dari latar belakang Panglima Tibang, maka kita dapat mengetahui bahwa nama aslinya adalah Ramasamy. Beliau berasal dari Madras India yang datang bersama Rombongan ke Aceh diundang ke Istana Aceh. 

Panglima Tibang diangkat menjadi anak angkat oleh Sultan karena pandai melawak dan menghibur. Pada saat itu permaisuri Sultan anaknya baru saja wafat setelah lahir dan setiap hari bersedih dan tidak mau makan. Ketika melihat ramasamy panglima tibang maka senanglah hatinya permaisuri melihat anak kecil berumur 5 tahun yang pandai melawak. Makanya Panglima Tibang diangkat anak oleh Sultan Aceh. 

Baca juga:

Setelah dewasa karirnya berjalan lancar diangkat menjadi Admiral angkatan laut kesultanan sampai kemudian menjadi Syahbandar seluruh Aceh Darusallam. 

Panglima Tibang sangat tegas mengumpulkan dana bea cukai dari seluruh negeri makanya para Ulebalang banyak yang tidak suka pada panglima tibang. Pada masa Panglima Tibang menjadi Syahbandar penghasilan Aceh mencapai 500 juta dolar Spanyol. satu dolar sama dengan empat dirham Aceh. Satu dirham Aceh setara 2 gram emas 22 karat. Sultan Mansyur Syah amat senang dengan Panglima Tibang. 

Namun ketika Sultan Mahmud Syah naik tahta 1873 Panglima Tibang dilantik jadi ahli diplomasi makanya Panglima Tibang berhasil di ajak Belanda menjual Aceh karena panglima tibang tidak tahu menahu diplomasi jadi berhasil ditipu di Singapura. Dalam beberapa hikayat panglima tibang diajak main judi dan kalah kemudian dipaksa menjual Aceh kepada Belanda. 

Sumber lain mengatakan Belanda marah sekali Panglima Tibang langsung menghubungi Amerika untuk menyerahkan pulau Sabang ke Amerika syaratnya Armada Amerika melindungi Aceh. Apapun kisahnya yang jelas faktor inilah yang menimbulkan perang Aceh pada tahun 1873. Padahal ahli diplomasi adalah habib Abdurrahman Az Zahir yang saat itu berada di Istanbul Turki. 

Panglima Tibang menyerah kepada Belanda 1878 karena Habib Abdurrahman kembali Aceh melawan Belanda dan hampir mengalahkan belanda dan berhasil merebut Pante Pirak. Panglima Tibang yang amat bermusuhan dengan Habib Abdurrahman Az Zahir memilih menyerah kepada Belanda akhirnya membantu Belanda menghancurkan kekuatan Habib Abdurrahman Az Zahir dan akibatnya Belanda dapat menguasai Aceh Besar dan Ibukota Kesultanan Indrapuri berhasil dikuasai Belanda. 

Akibatnya makian kepada Pangtibang meluas di Aceh sebagai orang yang tidak tahu balas Budi demikian besar jasa Sultan Aceh masih saja berkhianat kepada Aceh.