Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tafsir Surat Al-Ikhlash

Tafsir Surat Al-Ikhlash

Menurut mayoritas ulama, surah ini Makkiyyah. Ia turun sebagai jawaban atas pertanyaan sementara kaum musyrikin yang ingin mengetahui bagaimana Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw. Ini karena mereka menyangka bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu serupa dengan berhala-berhala mereka. 

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa surah ini turun berkenaan dengan pertanyaan orang-orang Yahudi di Madinah, atau dalam riwayat lain berkenaan dengan datangnya 'Amir Ibn Thufail dan Arbad Ibn Rabi'ah yang bertanya kepada Nabi saw. tentang ajakan beliau. Ketika itu Nabi saw menjawab: “Aku mengajak kepada Allah.” Kalau mereka meminta agar dilukiskan apakah Allah terbuat dari emas atau perak, atau kayu. Peristiwa ini menurut riwayat tersebut terjadi di Madinah. Riwayat ini kalau pun diterima, maka itu tidak menunjukkan bahwa surah ini turun ketika itu, tetapi Nabi saw, ketika itu membacakan setelah jauh sebelumnya di Mekah beliau telah menerimanya. 

Baca juga:

Memang pada wahyu-wahyu pertama yang turun, al-Qur'an menggunakan Rabbuka ( Tuhanmu hai Nabi Muhammad ) untuk menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perhatikan surah-surah Iqra', al-Muzzammil, al-Muddatstsir, dan seterusnya. Kalau demikian wajar jika timbul pertanyaan, baik di kalangan kaum musyrikin maupun orang-orang Yahudi tentang Tuhan yang disembah Nabi Muhammad itu. Bagaimana sifatnya, apa nisbahnya, apakah terbuat dari emas atau perak. Demikian beberapa pertanyaan menurut aneka riwayat itu. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, turun ayat-ayat surah ini. 

Namanya banyak sekali. Pakar tafsir Fakhruddin ar-Rázi menyebut sekitar dua puluh nama, antara lain surah at-Tafrid ( Pengesaan Allah ), surah Tajrid ( Penafian segala sekutu bagi-Nya ), surah an-Naját ( Keselamatan yakni di dunia dan akhirat ), surah al-Wilayah ( Kedekatan kepada Allah ), surah al Ma'rifah ( Pengetahuan tentang Allah ), surah al-Jamal ( Keindahan karena Allah Maha Indah ), surah Qasqasy ( Penyembuhan dan kemusyrikan ). sarah al-Mazakkirah ( Pemberi peringatan ), surah al Shamad, surah al Amin, dan masih banyak lainnya. Tetapi namanya yang paling populer adalah surah al-Ikhlásh. 

Kata Ikhlash terambil dari kata khalish yang berarti suci atau murni setelah sebelumnya memiliki kekeruhan. Ikhläsh adalah keberhasilan mengikis dan menghilangkan kekeruhan itu sehingga sesuatu yang tadinya keruh menjadi murni. 

Tema utamanya adalah pengenalan tentang Tuhan Yang Maha Esa dan yang menjadi andalan dan harapan semua makhluk. 

Tafsir Surat Al-Ikhlash
AYAT 1 

قل هو الله أحد
"Katakanlah ! Dia Allah Yang Maha Esa.” 

Tujuan utama kehadiran al-Qur'an adalah memperkenalkan Allah dan mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta patuh kepada-Nya. 

Kata ( قل ) qull katakanlah membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw menyampaikan segala sesuatu yang diterimanya dari ayat-ayat al Qur'an yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Seandainya ada sesuatu yang disembunyikan atau tidak disampaikannya maka yang paling wajar untuk itu adalah semacam kata qal ini. 

Kata ( هو )  biasa diterjemahkan Dia. Kata ini bila digunakan dalam redaksi semacam bunyi ayat pertama ini, maka ia berfungsi untuk menunjukkan betapa penting kandungan redaksi berikutnya, yakni: Allahu Ahad. Kata ( هو ) di sini, dinamai dhamir asy-syan atau al-qishsbah atau ahad. 

Menurut Mutawalli asy-Sya'rawi, Allah adalah gaib, tetapi kegaiban-Nya itu mencapai tingkat syahadat / nyata melalui ciptaan-Nya. Dengan demikian jika Anda berkata Huwa / Dia, maka ketika itu juga Anda bagaikan berkata bahwa al-Hal ( keadaan ) yang sebenarnya adalah Allah Maha Esa. baik Anda mengesakan-Nya maupun tidak. Karena demikian itulah keadaan-Nya. 

Lebih jauh asy-Sya'rawi menyatakan bahwa kata Huwa menunjuk sesuatu yang tidak hadir di depan Anda dengan kata lain garb Kata Huwa di sini menunjuk Allah yang gaib itu. Dia gaib karena Dia cahaya. Dengan cahaya Anda melihat sesuatu, tetapi dia sendiri tidak dilihat sampai ada cahaya yang melebihi-Nya agar dia dapat terlihat, tetapi karena tidak ada yang melebihi Allah maka wajar jika kita tidak melihat-Nya. 

Memang seandainya Dia terlihat maka hakikat-Nya diketahui dan dengan demikian Dia terjangkau, dan jika Dia terjangkau maka Dia tidak wajar lagi dipertuhan. Pengetahuan merupakan salah satu bentuk jangkauan. Karena itu pengetahuan Anda bahwa Anda tidak tahu, merupakan jangkauan Anda terhadap Allah. 

Di sini pengetahuan orang yang kedua ini lebih dalam dan sesuai dengan hakikat yang sebenarnya dibanding dengan yang pertama. Karena yang pertama mengira bahwa ia tahu tetapi terbukti tidak. 

Di sisi lain, orang yang kedua memiliki pengetahuan lebih tinggi dari yang pertama. Itulah yang dimaksud kesadaran tentang ketidakmampuan meraih sesuatu merupakan pengetahuan tentang sesuatu itu. Demikian jugalah ketika menyatakan bahwa: “Dia yang gaib itu adalah Allah. 

Pakar tafsir al-Qasimi memahami kata ( هو ) sebagai berfungsi menekankan kebenaran dan kepentingan berita itu yakni apa yang disampaikan itu merupakan berita yang benar yang haq dan didukung oleh bukti-bukti yang tidak diragukan. 

Sedang Abû as-Su'ûd, salah seorang pakar tafsir dan tasawwuf menulis dalam tafsirnya: Menempatkan kata Huwa untuk menunjuk kepada Allah, padahal sebelumnya tidak pernah disebut dalam susunan redaksi ayat ini kata yang menunjuk kepada-Nya, adalah untuk memberi kesan bahwa Dia Yang Maha Kuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata, sehingga hadir dalam benak setiap orang dan bahwa kepada Nya selalu tertuju segala isyarat. 

Para pengamal tasawwuf biasa menggunakan kata ( هو ) dengan men-sukun-kan huruf kedua yaitu ( و ) waw sehingga terdengar dan terucap ( هو ) Huw, dan yang mereka maksudkan dengan kata ini adalah Allah.

Dengan berbuat demikian mereka ingin berkata bahwa Allah sedemikian jelas kehadiran-Nya, sehingga walaupun dengan menggunakan kata yang menunjuk persona ketiga tanpa terlebih dahulu menyebut nama tertentu, maka tetap saja dapat diketahui bahwa yang dimaksud adalah Allah. Bukankah jika Anda berkata dia, Anda tidak dapat mengetahui siapa yang dimaksud kecuali jika sebelumnya telah disebut atau ditunjuk persona yang dimaksud ?

Nah bagi Allah, tidak demikian itu halnya. Selama Anda menyebut kata Huwa maka otomatis yang dimaksud adalah Allah, karena Dia selalu hadir dalam benak. 

Kata ( الله ) Allah adalah nama bagi suatu Wujud Mutlak, Yang berhak disembah, Pencipta, Pemelihara dan Pengatur seluruh jagat raya. Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang disembah dan diikuti segala perintah-Nya. 

Para pakar bahasa berbeda pendapat tentang kata ini. Ada yang menyatakan bahwa ia adalah nama yang tidak terambil dari satu akar kata tertentu, dan ada juga yang menyatakan bahwa ia terambil dari kata ( اله ) aliha yang berarti mengherankan, menakjubkan karena setiap perbuatan-Nya menakjubkan, sedang Dzat-Nya sendiri, bila akan dibahas hakikat-Nya akan mengherankan pembahasnya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ilah yang terambil dari akar kata yang berarti ditaati karena Ilah atau Tuhan selalu ditaati. 

Apapun asal katanya yang jelas Allah menunjuk kepada Tuhan yang Wah Wujud-Nya itu, berbeda dengan kata ( الاه ) yang menunjuk kepada siapa saja yang dipertuhan, baik itu Allah maupun selain-Nya, seperti matahari yang disembah oleh umat tertentu, atau hawa nafsu yang diikuti dan diperturutkan kehendaknya oleh para pendurhaka itu ( Baca QS. al Forqan [ 25 ]: 43 ). 

Kata ( أحد ) ahad / esa terambil dari akar kata ( وحدة ) wahdah / kesatuan seperti juga kata ( واحد ) mid yang berarti sata. Kata ( أحد ) ahad bisa berfungsi sebagai nama dan bisa juga sebagai sifat bagi sesuatu. 

Dalam ayat yang ditafsirkan ini, kata ( أحد ) berfungsi sebagai sifat Allah swt., dalam arti bahwa Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Dan segi bahasa kata ahad walaupun berakar sama dengan wahid tetapi masing-masing memiliki makna dan penggunaan tersendiri. Kata ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan, karena itu kata ini-ketika berfunga sebagai safit- tidak termasuk dalam rentetan bilangan, berbeda halaya dengan wahid ( satu ). Anda dapat menambahnya sehingga menjadi dua, tiga dan seterusnya walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya. 

Allah memang disifati juga dengan kata Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya: “Tuhan mu adalah Tuhan yang Wähid, tiada tuhan selain Dia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang " ( QS. al-Baqarah [ 2 ]: 163 ). 

Sementara ulama berpendapat bahwa kata wähid pada ayat al Baqarah itu, menunjuk kepada keesaan Dzat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maha Kuat, Maha Tahu dan sebagainya, sedang kata Ahad seperti dalam surah yang ditafsirkan ini, mengacu kepada keesaan Dzat-Nya saja, tanpa memperhatikan keragaman sifat-sifat tersebut. 

Terlepas dari setuju atau tidak dengan pembedaan terakhir ini, namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa. Keesaan itu mencakup keesaan Dzat, keesaan sifat, keesaan perbuatan, serta keesaan dalam beribadah kepada Nya. Keesaan Dzat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah swt, tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian. 

Benak kita tidak dapat membayangkan Tuhan membutuhkan sesuatu dan al-Qur'an pun menegaskan demikian yakni bahwa: Wahai seluruh manusia, kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Maha haya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha Terpuji " ( QS. Fåthir [ 35 ]. 15 ).

Keesaan sifat antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitas Nya dengan sifat makhluk, walaupun dan segi bahasa kata yang digunakan menunjuk sifat tersebut sama. Sebagai contoh kata Rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat / kasih sayang makhluk. 

Sementara ulama memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam an bahwa Dzat-Nya sendiri merupakan sifat Nya. Demikian mereka memahami keesaan secara amat murni. Mereka menolak adanya " sifat " bagi Allah, walaupun mereka tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lain. 

Lebih jauh penganut paham ini berpendapat bahwa " sifat-Nya " merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan Tauhid Dzat, dinafikan adanya unsur keterbilangan pada Dzat-Nya, betapapun kecilnya unsur itu, maka dengan Tauhid sifat dinafikan segala macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi sifat-sifat Allah. 

Keesaan dalam perbuatan mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujudnya, kesemuanya adalah hasil perbuatan Allah semata.” Apa yang dikehendaki Nya terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, tidak ada daya ( untuk memperoleh manfaat ), tidak pula kekuatan ( untuk menolak mudharat ) kecuali bersumber dari Allah.” 

Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah berlaku sewenang-wenang, atau " bekerja " tanpa sistem. Keesaan perbuatan Nya dikaitkan dengan hukum-hukum, atau takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya. 

Keesaan beribadah secara tulus kepada-Nya yang merupakan keesaan keempat ini merupakan perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu. Ibadah, beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya yang paling jelas adalah amalan tertentu yang ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh Allah atau melalui Rasul-Nya, dan yang secara populer dikenal dengan istilah ibadab mahdhah ( murni ).

Ibadah dalam pengertiannya yang umum, mencakup segala macam aktivitas yang dilakukan demi karena Allah. Nah, mengesakan Tuhan dalam benbadah, menuntur manusia untuk melaksanakan segala sesuatu demi karena Allah, baik sesuatu itu dalam bentuk ibadah maldhah maupun selainnya. Alhasil, keesaan Allah dalam beribadah adalah dengan melaksanakan apa yang tergambar dalam firman-Nya: Katakanlah, sesungguhnya shalatka, ibadahku, hidup dan matiku, kesemuanya di karena Allah, Pemelihara seluruh alam " ( QS. al-An'am [ 6 ]: 162 ). 

AYAT 2 

الله الصمد

"Allah tumpuan harapan.” 

Ayat yang sebelumnya menjelaskan tentang Dzat, sifat dan perbuatan Allah Yang Maha Esa. Sedangkan ayat di atas menjelaskan kebutuhan makhluk kepada Nya. Maksudnya  hanya Allah Yang Maha Esa itu adalah tumpuan harapan yang diruju oleh semua makhluk guna memenuhi segala kebutuhan, permintaan mereka, serta bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 

Kata (  الصمد ) ash-shamad terambil dari kata kerja ( صمد ) shamada yang berarti menuju. Ash-shamad adalah kata jadian yang berarti yang dituju. Bahasa menggunakan kata ini dalam berbagai arti, namun ada dua di antaranya yang sangat populer, yaitu: 

  • Sesuatu yang tidak memiliki rongga. 
  • Sesuatu ( tokoh terpuncak ) yang menjadi tumpuan harapan. 
Satu riwayat yang disandarkan kepada Ibn 'Abbás ra. menyatakan bahwa ash-Shamad berarti, tokoh yang telah sempurna ketokohannya, mulia dan mencapai puncak kemuliaan, yang agung dan mencapai puncak keagungan, yang penyantun dan tiada melebihi santunannya, yang mengetahui lagi sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya.

Ulama-ulama yang memahami kata ash-shamad dalam pengertian " tidak memiliki rongga " mengembangkan arti tersebut agar sesuai dengan kebesaran dan kesucian Allah. Mereka berkata: “Sesuatu yang tidak memiliki rongga mengandung arti bahwa ia sedemikian padat dan atau bahwa ia tidak membutuhkan sesuatu untuk dimasukkan ke dalam dirinya, seperti makanan atau minuman. 

Ada juga yang mengartikan kata tersebut, sebagai menunjuk kepada Allah yang Daat-Nya tidak dapat terbagi. Menurut mereka, kalau kata aba menunjuk kepada Dzat Allah yang tidak tersusun oleh bagian atau unsur apapun, maka kata ash-shamad mengandung arti bahwa dalam keesaan-Nya itu, Dzat tersebut tidak dapat dibagi-bagi.

Mayoritas pakar bahasa dan tafsir memahami arti aih-shamad dalam pengertian kedua yang disebut di atas, yakni bahwa Allah adalah Dzat yang kepada-Nya mengarah semua harapan makhluk, Dia yang didambakan dalam pemenuhan kebutuhan makhluk serta penanggulangan kesulitan mereka. 

Kata ( الصمد ) asb-shamad berbentuk ma'rifah ( definitif ) yakni dihiasi oleh alif dan lam berbeda dengan ahad berbentuk nakirah ( indefinit ). Ini menurut Ibn Taimiyah karena kata ahad tidak digunakan dalam kedudukannya sebagai sijat ( adjektif ) kecuali terhadap Allah. Karena itu tidak perlu dihiasi dengan alif dan lam berbeda dengan kata ash-shamad. Yang digunakan terhadap Allah, manusia, atau apapun. 

Memang, makhluk dapat menjadi tumpuan harapan, tetapi harus disadari bahwa makhluk tersebut pada saat itu atau pada saat yang lain juga membutuhkan tumpuan harapan yang dapat menanggulangi kesulitannya. Ini berarti bahwa substansi dari ash-hamadiyah ( tumpuan harapan ) tidak dimiliki makhluk secara penuh, berbeda dengan Allah swt., yang menjadi harapan semua makhluk secara penuh sedang Dia sendin tidak membutuhkan siapa dan apapun.

Dengan demikian kita dapat berkata bahwa alif dan lam pada kata ini, untuk menunjukkan kesempurnaan dan ketergantungan makhluk terhadap Nya.

Muhammad Abduh menulis bahwa kata Allah yang bersifat ma'rifah ( definitif ) dengan ash Shamad yang sifatnya juga demikian, menjadikan ayat kedua ini dalam bentuk hasbryakni mengandung arti pengkhususan. 'Abduh memberi contoh, misalnya jika lawan bicara Anda menduga bahwa si Zaid seorang alim ( pandai ) tetapi ada orang lain yang seperti dia, maka untuk menghapus dugaan itu sambil menyatakan bahwa Zaid satu-satunya yang alim, Anda harus berkata: Zaid al 'alim. Nah, demikian juga Allahu ash-shamad. Ayat ini menurutnya menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi rumpuan harapan satu satunys. Kebutuhan segala sesuatu dalam wujud tidak tertuju kecuali kepada-Nya dan yang membutuhkan sesuatu tidak boleh mengajukan permohonannya kepada selain-Nya. Segala sebab bemaklur pada-Nya dan segala yang terjadi di alam raya ini merupakan hasil ciptaan-Nya. 

Lebih jauh Abduh menjelaskan bahwa makhluk yang memiliki kemampuan memilih seperti manusia-apabila bermaksud mendapat sesuatu, maka ia berkewajiban untuk mencari cara yang tepat untuk itu, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah, yakni dengan melihat kaitan antara sebab dan akibat. 

Dalam ayat kedua ini, kata Allah diulang sekali lagi, setelah sebelumnya pada ayat pertama telah disebut. Ini untuk memberi isyarat bahwa siapa yang tidak memiliki sifat ash shamadiyah atau dengan kata lain tidak menjadi tumpuan harapan secara penuh, maka ia tidak wajar dipertuhankan. 

AYAT 3 

لم يلد ولم يولد

"Tidak beranak dan tidak diperanakkan.” 

Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya, ayat di atas membantah kepercayaan sementara orang tentang Tuhan dengan menyatakan bahwa Allah Yang Maha Esa itu tidak wajar dan tidak pula pernah beranak dan di samping itu Dia tidak diperanakkan yakni tidak dilahirkan dari bapak atau ibu. 

Dia tidak menciptakan anak, dan juga tidak dilahirkan dan bapak atau ibu. Tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Nya. 

Kata ( يلد ) yalid / beranak dan ( يولد ) yulad / diperanakkan terambid dan kata ( ولد ) walada yang digunakan al-Qur'an untuk menggambarkan hubungan keturunan, sehingga kata ( والد ) misalnya berarti ayah, dan yang dimaksud adalah ayah kandung, ( ولد ) adalah anak kandung. ( والدة ) adalah ibu kandung, demikian seterusnya. Ini berbeda dengan kata ( أب ) yang bisa berarti ayah kandung atau ayah angkat.

Beranak atau diperanakkan menjadikan adanya sesuatu yang keluar darinya, dan ini mengantar kepada terbaginya Dzat Tuhan, bertentangan dengan arti ahad serta bertentangan dengan hakikat safat-sfat Allah. Di sisi lain anak dan ayah merupakan jenis yang sama, sedangkan Allah tiada satu pun yang sepertiNya ( laisa ka mitsihi syaiun ) baik dalam benak maupun dalam kenyataan, sehingga pasti Dia tidak mungkin melahirkan atau dilahirkan. 

Kata ( لم ) digunakan untuk menafikan sesuatu yang telah lalu, kata tersebut digunakan karena selama ini telah beredar kepercayaan bahwa Tuhan beranak dan diperanakkan. 

Yang dinafikan terlebih dahulu adalah lam yalid / tidak beranak baru lan yulad / tidak diperanakkan. Ini agaknya karena banyak sekali yang percaya bahwa Tuhan beranak, sehingga wajar kalau hal tersebut yang terlebih dahulu dinafikan. 

Ayat di atas menafikan segala macam kepercayaan menyangkut adanya anak atau ayah bagi Allah swt., baik yang dianut oleh kaum musyrikin, orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi atau sementara filosof, back anak tersebut berbentuk manusia atau tidak. 

AYAT 4 

ولم يكن له كفوا أحد 

"Tidak ada satupun yang setara dengannya"

Kata ( كفوا ) terambil dan kata ( كفو ) kufu, yakni sama. Sementara ulama memahami kata ini dalam arti istri. Ayat di atas menurut mereka serupa dengan firman-Nya: Dan balasanya Maha Ting kebesaran Tahan kami, Dia tidak beristri dan tidak ( pula ) beranak " ( QS. al-Jinn ( 72 ): 3 ). 

Pendapat di atas tidak didukung oleh banyak ulama walau memang Allah tidak memiliki istri. Banyak ulama memahami ayat di atas sebagai menafikan adanya sesuatu-apapun yang serupa dengan Nya. Sementara kaum percaya bahwa ada penguasa selain Allah, misalnya dengan menyatakan bahwa Allah hanya menciptakan kebaikan, sedang setan menciptakan kejahatan. 

Demikian surah al-Ikhlásh menetapkan keesaan Allah secara murni dan menafikan segala macam kemusyrikan terhadap-Nya. Wajar jika Rasul saw menilai surah ini sebagai: “Sepertiga al-Qur'an " ( HR. Málik, Bukhari dan Muslim ), dalam arti makna yang dikandungnya memuat seperti al Qur'an, karena keseluruhan al-Qu r'an mengandung akidah, syariat dan akhlak, sedang surah ini adalah puncak akidah. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya. Wa Allah Alam.

Referensi Berdasarkan Tafsir Al-Mishbah tulisan dari M.Quraish-Shihab