Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Shahabat Nabi Bersama Panglima Persia

Kisah Shahabat Nabi Bersama Panglima Persia
 

Saad bin Abi Waqash memerintahkan tentaranya untuk mendirikan kemah di Qadisiyah, dekat perbatasan Persia. Mereka tengah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan pecahnya pertempuran tidak lama lagi. Demikian pula panglima angkatan perang Persia, Rustam. Tentaranya sudah disiagakan di kawasan lain, tidak berapa jauh dari lokasi perkemahan pasukan Islam.

Akan tetapi, tampaknya Saad masih memberikan isyarat untuk mengadakan perundingan dengan tentara musuh. Rustam cukup tanggap terhadap isyarat itu. la mengirimkan salah seorang kurirnya untuk menanyakan kehendak Panglima Saad. Oleh sang Panglima diutuslah Zuhrah bin Abdullah, salah seorang komandannya, untuk mewakilinya menemui panglima Persia itu. Setelah berhadap-hadapan, Rustam berkata kepa da Zuhrah,”Kalian adalah tetangga kami. Kembalilah ke negeri kalian, dan kami berjanji akan mengirimkan hadiah perdamaian yang memadai. Dan kami pun bersumpah akan selalu berbuat baik kepada kalian serta akan menjadi pelindung yang setia.

Baca juga: Kisah Juwaibar Menikahi Zulfah

Dengan tenang Zuhrah menjawab,”Maaf, kami tidak mencari dunia dengan melakukan peperangan ini. Yang kami buru adalah kesenangan akhirat. Kami juga tidak membutuhkan perlindungan manusia sebab satu-satunya pelindung kami hanya Allah. Kami ingin menyampaikan seruan bahwa Allah telah mengutus seorang Rasul untuk menyebarkan rahmat keseluruh isi alam, yang mengajak manusia untuk bersaudara sehingga tidak ada bangsa yang menindas bangsa lain dan tidak ada penguasa yang menindas rakyatnya. 

Kami mendapat tugas untuk menghapus perbudakan oleh manusia terhadap sesamanya seperti yang selama ini berlangsung di negeri Tuan. Sebab menurut ajaran agama Islam yang kami anut semua manusia berderajat sama dihadapan Allah Sang Pencipta. Yang paling mulia adalah yang paling berbakti kepada Tuhannya. Oleh karena itu, tidak ada yang membenci agama kami kecuali orang yang rendah akhlaknya. Dan hanya orang yang berpribadi mulia yang bersedia memeluk agama kami.”

“Ceritakan tentang agama kalian,”ucap Rustam.”Sederhana saja agama kami,”jawab Zuhrah.”Tiang pokoknya hanya syahadat, yaitu mempersaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.”“Selain itu ?”“Membebaskan manusia dari mengabdi kepada sesama manusia, untuk hanya mengabdi kepada Allah. Sebab umat manusia seluruhnya keturunan Adam dan Hawa, sedangkan Adam berasal dari tanah. Berarti kita semua sebenarnya bersaudara.”

“Kalau kami bersedia menerima ajakan engkau, apakah kalian akan segera pulang dengan damai ?”“Pasti,”jawab Zuhrah.”Sayang,”ujar Rustam.”Sejak Ardasyir menjadi raja diraja, ia tak kan membiarkan seorang Persia pun untuk tidak mengabdi kepadanya sehingga tidak mungkin ada yang berani mengajak bangsa Persia agar keluar dari kerendahan martabat kemanusiaannya. ".

Akhirnya Zuhrah kembali ke pasukannya tanpa membawa hasil apa-apa. Cuma la terkesan akan keramah tamahan Panglima Rustam. Adapun sepeninggal Zuhrah, Rustam memanggil dan mengumpulkan para komandannya. Diceritakannya kepada mereka segala hal yang telah dikemukakan oleh Zuhrah. Mereka merasa belum puas. Rustam meminta agar menyampaikan kabar bagi panglima tertinggi angkatan perang kaum Muslimin, untuk mengirim utusan yang lainnya. 

Setelah permintaan tersebut dikabulkan oleh Rustam, panglima Saad bin Abi Waqash segera mengutus seorang komandannya yang terkenal gagah berani di medan laga, Rab'i bin Amir. Menjelang kedatangan Rab'i, Rustam memerintahkan anak buahnya untuk menggelar permadani-permadani berhiaskan emas dan mengeluarkan semua perhiasan yang indah-indah. Rustam sendiri duduk di atas singgasana bersulam permata yang gemerlapan.

Dengan menunggang seekor kuda ranggi yang gagah, Rab'i yang belia itu tiba, disambut tatapan matanya yang merasa kagum akan ketampanannya. Dipunggung serdadu itu menggelantung pedangnya, dan sebilah tombak panjang berada dalam genggamannya. Setelah turun dari kudanya, salah seorang komandan Persia memerintahkan untuk meletakkan senjata.”Yang mengundangku kemari Panglima Rustam, bukan engkau. Aku takkan menaruh senjataku kecuali bila Panglima Rustam yang memerintahkannya.”Maka komandan itu segera melapor kepada Rustam akan kedatangan utusan tentara Islam tersebut. Rustam mempersilakan Rab'i menghadap. Sambil menggunakan tombaknya sebagai tongkat, Rab'i melangkah sangat gagah.

Di muka Rustam ia menancapkan tombaknya ke tanah, lalu ia duduk di sebelah tombak itu.”Mengapa engkau duduk di tanah ?”tanya Rustam keheranan,”Silakan duduk di atas kursi emas yang bertatahkan permata itu. ”Aku tidak sudi duduk di atas perhiasan dunia. ". jawab Rabi dengan tegas. Rustam bertanya pula,”Apa yang engkau bawa sebagai hadiah bagi kami ?”“Aku membawa Tuhan yang akan melindungi kalian dan memberi karunia kehidupan bahagia, di dunia dan di akhirat.

Dengan firman-firman-Nya kami akan mengajak seluruh umat manusia untuk melepaskan diri dari ketidakadilan hukum manusia kedalam keadilan hukum Allah.”“Apa sanksinya jika kami menolak ?”“Berarti kalian tidak mau membebaskan umat manusia dari perbudakan hawa nafsu kedalam kemerdekaan yang tuntas. Untuk itu kami akan bersedia kehilangan nyawa dalam perang suci melawan siapa pun !”

“Dapatkah kalian memberi waktu kepada kami untuk berpikir ?”“Ya,”sahut Rab'i.”Kepada musuh, kami berikan tiga pilihan.

Pertama, jika kalian menerima seruan kami, tentara Islam akan segera ditarik mundur tanpa darah tertumpah.

Kedua, jika kalian bersedia membayar pajak sebagai tanda mau hidup bersama kami dan terlindung di bawah kekuatan kami, kalian akan kami jaga dengan segenap jiwa raga kami.

Ketiga, jika kalian mengangkat senjata, kami siap menghadapinya sampai tetes darah yang penghabisan.

Semua itu kujamin pasti akan dipatuhi oleh tentara kami.”“Engkau berani menjamin. Apakah engkau pemimpin mereka ?”tanya Rustam keheranan.”Kami bagaikan sebatang tubuh. Setiap kami adalah pemimpin. Landasan kami adalah musyawarah. Maka jangan terkejut kalau serdadu rendahan dapat memaksa panglimanya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.


Lalu Rab'i menaiki kudanya dengan tangkas dan menghilang di balik lengkung cakrawala, meninggalkan Rustam yang terpukau oleh kemuliaan pribadinya. Sayang, meskipun sebetulnya ia tertarik ingin menganut agama Islam, ia lebih taat kepada perintah raja nya. Maka dalam peperangan yang terjadi sesudah itu, Rustam terbunuh dengan gagah perkasa dan dihormati oleh tentara Islam sebagai panglima dan ksatria.