Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Hadits, Antara Masalah Ghaib Dan Yang Nyata

Memahami Hadits, Antara Masalah Ghaib Dan Yang Nyata

As-Sunnah tidak lepas dari pembahasan masalah alam gaib, sebagiannya berhubungan dalam alam tidak tampak seperti malaikat yang dimobilisasikan Allah untuk banyak tugas : "Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri". (al-Muddatstsir 74:31)

Dan seperti jin, penduduk bumi yang mendapat beban agama seperti kita, mereka dapat melihat kita sementara kita tidak dapat melihat mereka. Dan di antara mereka adalah setan, bala tentara iblis yang bersumpah di hadapan Allah ta'ala untuk menyesatkan kita, umat manusia dan menghiasi kebatilan dan kejahatan agar terlihat indah di hadapan mata kita :

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ 
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau
لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ .
aku akan menyesatkan mereka semuanya,
 إِلَّا عِبَادَكَ 
kecuali hamba- hamba-Mu
مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ 
yang mukhlis di antara mereka", (Shaad 38:82, 83).

Dan seperti al-'arsy, al-kursiy, al-lauh dan al-qalam. Sebagian benda gaib ini ada kaitannya dengan kehidupan di alam barzakh, yaitu kehidupan setelah mati sebelum terjadinya kiamat yang berhubungan dengan interogasi kubur, keni'matannya atau siksaannya. Dan sebagian lainnya berkaitan dengan kehidupan akhirat, kebangkitan, dikumpulkannya seluruh manusia di padang mahsyar, peristiwa-peristiwa mengerikan pada hari kiamat, syafa'at yang besar, timbangan, hisab, jembatan, surga dengan segala macam keni'matan di dalamnya yang bersifat material dan non-material dan tingkatan penghuninya, dan neraka dengan segala macam siksanya, baik yang bersifat material dan yang non-material dan tingkatan para penghuninya.

Baca juga: Penta'wilan Hadits Yang Tertolak

Semua masalah ini juga dibahas dalam al-Qur'an al-Karim. Tetapi as-Sunnah membahasnya lebih luas dan lebih rinci. Kita harus kemukakan di sini bahwa sebagian hadits yang membicarakan masalah ini tidak sampai peringkat shahih yang dapat dijadikan pegangan. Karenanya kita tidak perlu membicarakannya. Pembicaraan kita hanya terbatas pada hadits-hadits yang telah terbukti keshahihannya bersumber dari Nabi Muhammad saw. Yang harus dilakukan oleh cendikiawan Muslim di sini adalah menerima hadits-hadits shahih yang telah dibuktikan keshahihannya menurut kaidah-kaidah para ahli dan ulama terdahulu panutan mereka. Dan tidak boleh menolaknya karena sekedar bertentangan dengan pengetahuan kita atau seakan-akan mustahil terjadi dibanding dengan apa yang kita ketahui selama ini, selama hal itu masih berada dalam lingkup kemungkinan secara akal, kendati kita anggap mustahil menurut kebiasaan. Manusia setelah mendapat karunia ilmu pengetahuan dapat membuat segala macam yang tadinya dianggap sebagai mustahil menurut kebiasaannya. Dan bila karyanya itu diceritakan kepada orang-orang dulu, mereka pasti menuduhnya sebagai orang gila. Maka apakah lagi dengan kemampuan Allah ta'ala yang tidak ada sesuatupun mengungguli-Nya baik di bumi maupun di langit ?

Baca juga: Memahami Hadits Yang Mengandung Majaz

Oleh karena itu para ulama kita menetapkan bahwa agama datang membawa ajaran yang mengajak akal untuk berdialog tetapi ia tidak mungkin membawa ajaran yang dapat dirubah oleh akal. Maka bagaimanapun juga, dalil naqli yang shahih tidak bakal bertentangan dengan akal murni. Apa yang diduga sebagai kontroversi antara keduanya adalah sebagai akibat terjadinya kesalahan, baik karena dalil naqlinya yang tidak shahih, atau akalnya tidak murni. Maksudnya, apa yang diduga manusia sebagai ajaran agama sebetulnya bukanlah ajaran agama, atau apa yang diduga sebagai ilmu atau akal ternyata bukan ilmu dan akal. Sebagian sekte Islam ada yang bersikap ekstrem, seperti Mu'tazilah, dalam menolak hadits-hadits shahih yang mereka anggap bertentangan dengan rasio, seperti kita lihat sikap sebagian mereka yang menolak hadits- hadits yang membicarakan interogasi dua malaikat di dalam kubur dan kenikmatan atau siksa setelahnya. Demikian pula sikap mereka terhadap hadits-hadits tentang timbangan dan jembatan.

Tentang kaum Mu'minin bakal melihat Allah ta'ala di surga. Tentang jin dan hubungannya dengan manusia. Al-Imam asy-Syathibi dalam bukunya yang bermutu al-I'tishaam mengatakan bahwa sifat para pelaku bid'ah dan penyimpangan adalah mereka menolak hadits-hadits yang dianggap tidak sesuai dengan tujuan dan mazhabnya dan mereka menuduhnya bertentangan dengan rasio dan tidak sesuai dengan yang dimaksud dalil, karenanya harus ditolak, seperti mereka yang menolak adanya siksa kubur, jembatan, timbangan, melihat Allah Azza wa Jalla di akhirat.

Demikian pula hadits tentang lalat yang menerangkan bahwa dalam salah satu sayapnya terdapat penyakit dan dalam sayap lainnya terdapat penangkalnya dan seranggga ini mendahulukan sayap yang mengandung penyakit, dan hadits yang menerangkan orang yang saudaranya menderita diare dan Rasulullah saw menyuruhnya diminumi madu, dan hadits-hadits lainnya yang shahih dan diriwayatkan dengan benar.

Terkadang mereka mengkritik para sahabat, tabi'in ra dan para pakar hadits yang telah disepakati tentang keadilan dan keahliannya yang meriwayatkan hadits- hadits tersebut. Dan ini hanya sekedar alasan untuk menentang orang-orang yang dianggap bertentangan dengan mazhab mereka. Dan dalam kesempatan lain mereka menolak fatwa-fatwa para ulama ini dan mencemoohkannya di hadapan masyarakat awam agar mereka tidak mengikuti as-Sunnah dan menjauhi para penolongnya. Mereka menuduh pendapat yang menetapkan adanya jembatan, timbangan dan telaga sebagai pendapat yang tidak rasional. Salah seorang di antara mereka pernah ditanya : "Apakah kafir orang yang berpendapat bahwa Allah dapat dilihat di akhirat ?". Ia menjawab : "Tidak, karena ia mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya dan barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak dipahaminya ia tidak kafir". Sebagian sekte menafikan hadits-hadits ahad secara keseluruhan dan cukup dengan yang dianggap baik menurut akal mereka dalam memahami al-Qur'an sehingga mereka membolehkan khamar dengan berdasarkan pada firman Allah ta'ala : "Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu ... (al-Maidah 5:93).

Tentang mereka dan yang sebangsanya, Rasulullah saw bersabda : "Sama sekali aku tidak akan menemui salah seorang dari kalian yang bertelekan pada dipannya yang telah mendengar ajaranku baik yang berkenaan dengan yang diperintahkan atau dilarang, kemudian ia berkata : "Saya tidak tahu, apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah itulah yang kami ikuti.( Diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 4605 dan at-Turmudzi nomor 2665 dari hadita Abu Rafi', Ahmad meriwayatkannya dalam al-Musnad dengan ringkas, jilid 6, halaman 8).

Ini adalah ancaman berat yang mengandung larangan terhadap orang yang menolak as-Sunnah. Di antaranya lagi, penolakan sebagian orang yang mengaku sebagai kaum pembaharu pada masa sekarang terhadap hadits shahih yang menjelaskan bahwa di surga terdapat sebatang pohon dimana orang yang berkendaraan berjalan di bawah bayang-bayangnya selama seratus tahun tanpa henti.

Hadits, ini muttafaq 'alaih, diriwayatkan oleh al- Bukhari dan Muslim dari Sahal bin Sa'ad, Abu Sa'id dan Abu Hurairah. Al-Bukhari juga meriwayatkannya dari Anas. Oleh karena itu, ketika menafsirkan firman Allah ta'ala : "dan naungan yang terbentang luas". (al-Waaqi'ah 56:30).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini tsabit dari Rasulullah saw bahkan mutawatir lagi pasti keshahihannya menurut para ulama hadits. Yang jelas seratus tahun yang disebutkan dalam hadits di atas adalah tahunnya dunia. Oleh karena itu dikatakan dalam riwayat Abu Sa'id "Orang yang berkendaraan kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi". Dan hanya Allah-lah yang mengetahui perbandingan waktu di dunia ini dengan waktu di sisi Allah. Dan dalam al-Qur' an disebutkan : Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu". (al-Hajj 22:47).

Dan bila hadits ini shahih, yang patut kita lakukan adalah mengatakan dengan penuh kesadaran bahwa kita mengimani dan membenarkannya, meyakini bahwa di akhirat terdapat peraturan-peraturan khusus yang tidak sama dengan yang ada di dunia ini, sehingga Ibnu Abbas berkata : "Tidak ada di surga apa yang ada di dunia ini melainkan nama-namanya saja". Dan yang seperti itu adalah hadits-hadits yang membicarakan tentang siksa yang ditimpakan kepada orang-orang kafir di dalam neraka, seperti gerahamnya yang besar, jarak yang jauh antar kedua bahu kulitnya yang tebal. Menerima hadits-hadits yang memang shahih ini adalah cara yang paling selamat sedangkan mencari- cari rinciannya adalah perbuatan sia-sia. Sebagaimana juru da'wah yang mendapat taufiq dari Allah tidak akan menjejali benak pembaca atau pendengarnya dengan hadits-hadits seperti ini yang bakal menimbulkan problem menurut pemikiran masa kim dan dengan mengetahuinya itu belum tentu agamanya menjadi baik dan kebahagiaan dunia dapat diperoleh.

Hadits-hadits ini dikemukakan hanya dalam kesempatan yang memang memerlukannya. Dan yang sepatutnya dilakukan orang Islam adalah mohon kepada Allah agar dirinya menjadi penghuni surga, memberinya jalan menuju surga, baik perkataan ataupun perbuatan. Dan ia mohon perlindungan kepada- Nya dari neraka dan hal-hal yang menyebabkan ia masuk ke dalamnya, baik yang berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan hendaknya ia mengikuti jalan yang ditempuh orang-orang yang dijamin masuk surga dan menjauhi jalan yang ditempuh orang-orang yang bakal masuk neraka.

Sikap yang benar yang diterima logika iman dan tidak ditolak logika akal adalah kita mengatakan terhadap hal-hal gaib yang telah ditetapkan agama : “Kami mengimani dan membenarkannya". Sebagaimana terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ibadah kita katakan : "Kami mendengar dan kami mentaatinya". Memang, kita mengimani apa yang disebutkan dalam dalil dan tidak menanyakan substansi dan tata caranya dan tidak mencari detailnya, karena seringkali akal kita tidak mampu menguasai hal-hal yang gaib ini. Allah ta'ala yang menciptakan manusia memang tidak memberinya kemampuan untuk mengetahui hal-hal seperti ini karena memang tidak diperlukan dalam tugasnya sebagai khalifah d muka bumi ini.

Seandainya kelompok rasionalis dalam masalah teologi yang diwakili oleh Mu'tazilah mendapat taufiq untuk mengetahui hakekat ini dan menerimnaya, maka tidak perlu mereka menolak hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ta'ala di akhirat dan mereka melihatnya sebagaimana melihat bulan purnama. Yang diperumpamakan adalah kejelasan melihat-Nya bukannya objek yang dilihat, di samping teks-teks al-Qur'an yang mereka ta'wilkan secara mengada-ada, seperti firman-Nya : "Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri, Kepada Tuhannyalah mereka melihat". (al-Qiyamah 75: 22, 23).

Kesalahan yang mendasar yang mereka lakukan adalah mengkiaskan hal yang gaib dengan yang nyata, kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia, yaitu mengkiaskan sesuatu yang berbeda. Setiap alam mempunyai peraturan tersendiri. Oleh karena itu Ahlus Sunnah mengakui bahwa orang-orang beriman bakal melihat Allah dengan kesepakatan bahwa penglihatan tersebut tidak sama dengan penglihatan yang kita kenal sekarang yang menggunakan mata dalam kehidupan sehari-hari. Penglihatan tersebut sebagaimana dikatakan al-Imam Muhammad Abduh adalah penglihatan yang tidak diketahui cara dan batasannya. Dan penglihatan seperti itu hanya menggunakan penglihatan yang dikhususkan Allah bagi kehidupan akhirat atau karakteristiknya berbeda dari kebiasaannya dalam tidak mungkin kita ketahui kendati kita membenarkan terjadinya selama haditsnya benar.'

Sayid Rasyid Ridla memberikan komentar terhadap perkataan gurunya tentang sarana penglihatan di akhirat: "Penglihatan pada hakekatnya adalah untuk ruh, sementara indera hanya merupakan pirantinya. Telah dibuktikan melalui berbagai percobaan oleh para cendikiawan di timur dan di barat pada masa sekarang bahwa di antara manusia ada yang dapat melihat dan membaca sementara kedua matanya tertutup rapat, yaitu yang dikenal dengan membaca pikiran, melihat sesuatu dalam keadaan tidur. Dan di antara mereka ada yang melihat sesuatu kendati terhalang benda dan berjarak jauh, seperti seseorang yang berada di Mesir melihat saudaranya di Iskandariah keluar dari rumahnya menuju stasiun.

Bila hal seperti ini dapat dibuktikan kebenarannya pada alam sekarang ini kendati bertentangan dengan hal kebiasaan penglihatan setiap manusia, maka apakah patut bagi seorang yang berakal untuk menganggap mustahil sesuatu yang lebih aneh daripada hal itu yang terjadi di surga, yaitu yang termasuk alam gaib yang peraturan dan kebiasaannya tidak sama dengan alam nyata ? Bila orang-orang yang menolak bahwa orang- orang beriman bakal melihat Allah di akhirat alasannya karena mengkiaskan alam gaib dengan alam nyata dalam hal melihat dan objek penglihatan, maka pengkiasannya ini tidak benar dan kesalahannya mengkiaskan objek penglihatan lebih jelas lagi.


Sumber:

Buku Metode Memahami Sunnah Dengan Benar oleh Yusuf Al-Qaradhawi