Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pendidikan sekarang ini menjadi hal yang sangat penting, mengingat bahwa dengan pendidikan siapapun akan mampu hidup dalam dunia yang semakin maju disegala bidang. Pendidikan juga merupakan sarana dan alat yang tepat dalam membentuk masyarakat dan bangsa yang dicita-citakan, yaitu masyarakat yang berbudaya dan dapat menyelesaikan masalah kehidupan yang dihadapinya. 

Dalam upaya pengembangan kualitas manusia Indonesia minimal harus dicapai adalah tumbuhnya kemampuan berfikir logis dan sikap kemandirian dalam diri peserta didik. Untuk itu sistem pengajaran yang mengutamakan matematika dan ilmu pengetahuan lainnya menjadi prasyarat bagi proses pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia yang mampu menghadapi dan mengantisipasi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (Depdiknas 2006) dikemukakan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Baca juga: Tipe modelPembeajaran Kooperatif

Hal yang sama juga tersirat di dalam National Council of Teacher of Mathematics ( NCTM) terdapat 5 aspek keterampilan matematik (doing math) yaitu : (1) belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication); (2) belajar untuk bernalar (mathematical reasoning); (3) belajar untuk memecahkan masalah (mathematical problem solving); (4) belajar untuk mengaitkan ide (mathematical conections); (5) pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics).

Dari pernyataan di atas bahwa komunikasi salah satu yang sangat berperan di dalam pembelajaran matematika. Dengan komunikasi siswa dapat menjelaskan atau menyampaikan ide-ide dan konsep-konsep matematika dalam proses pembelajaran. Untuk itu pembelajaran matematika di sekolah hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi lingkungan siswa (contextual problem). Dengan mengajukan masalah–masalah yang kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep–konsep matematika.

Dalam pembelajaran matematika, seringkali ditemukan proses berpikir dan cara siswa berbeda dengan strategi guru. Suwarsono dalam Suradi menyatakan bahwa kesulitan siswa dalam mempelajari matematika tidak terlepas dari strategi pengajaran yang selama ini digunakan di sekolah-sekolah Indonesia, yaitu strategi pengajaran klasikal dengan metode ceramah sebagai metode utama, ini menandakan bahwa guru memaksakan strateginya untuk melaksanakan proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat proses pemecahan masalah untuk siswa

Guru menganggap matematika sebagai suatu bahan siap jadi yang akan disuapkan kepada siswa, mereka tidak memandang matematika sebagai suatu proses. Hal ini akan menghambat aktivitas siswa untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang dimilikinya dalam belajar matematika. Selain dari itu guru lebih banyak memikirkan bagaimana materi yang ada harus selesai tepat waktu sehingga waktu untuk siswa memberikan ide-ide atau pendapat mengenai permasalahan matematika justru tidak ada.

Baca juga: Hakikat PembelajaranProbem Based Instruction

Siswa yang kurang mampu terkadang tidak bisa meminta bantuan pada teman yang lainnya, hal ini disebabkan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih bersifat individual. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi siswa dengan siswa dalam pembelajaran matematika belum termanfaatkan. Kondisi seperti ini lebih memprihatinkan jika guru menghadapi kelas besar, maka mereka tidak sanggup memberikan bantuan kepada setiap siswa yang membutuhkannya, sehingga guru dalam pembelajaran matematika cenderung lebih aktif sebagai pemberi pengetahuan kepada siswa secara klasikal, yang dilakukan dengan ceramah.

Guru dalam pembelajaran matematika secara klasikal berusaha menjelaskan materi sejelas-jelasnya mulai dari defenisi, kemudian contoh-contoh, dan dilanjutkan dengan pemberian tugas yang serupa kepada siswa. Hanya sebagian kecil waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan. Hal ini menyebabkan kemampuan komunikasi matematika siswa masih terbatas pada jawaban verbal yang pendek atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Saragih berpendapat bahwa guru dapat mempercepat peningkatan komunikasi matematik siswa dengan cara memberikan tugas matematika dalam berbagai variasi. Komunikasi matematik akan berperan efektif manakala guru mengkondisikan siswa agar mendengarkan secara aktif (listen actively) sebaik mereka mempercakapkannya. Oleh karena itu perubahan pandangan belajar dari guru mengajar ke siswa belajar sudah harus menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan pembelajaran matematika

Berdasarkan hasil observasi awal pada SMK Negeri 3  bahwa fenomena permasalahan di atas juga terdapat di sekolah ini, dimana guru masih mengajar secara konvensional yang lebih banyak menulis, memberikan penjelasan dan contoh-contoh soal. Sedangkan siswa hanya pasif mengikuti keaktifan guru saja. Siswa tidak dihadapkan pada permasalahan yang bersifat menemukan atau menghubungkan pengetahuan atau informasi yang telah mereka dapatkan. Kesempatan siswa untuk memberikan ide-ide atas permasalahan matematika dapat dikatakan tidak ada sama sekali, yang ada hanya kesempatan untuk bertanya terhadap kekurang pahaman pada contoh soal yang diberikan oleh guru saja. Sehingga pembelajaran seperti ini akan membuat kemampuan komunikasi matematika siswa akan melemah dan tidak terlatih.

Untuk mengatasi masalah di atas maka pendekatan pembelajaran yang sangat sesuai adalah pendekatan pembelajaran kooperatif. Karena memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang harus dimiliki, sebagaimana yang dikemukakan Suradi bahwa pemberian kesempatan kepada siswa merupakan suatu sumber pembelajaran agar siswa berinteraksi dalam kelompok belajar secara kooperatif.

Penerapan pembelajaran kooperatif pada umumnya disebutkan siswa aktif selama kegiatan pembelajaran, dan mayoritas siswa senang mengikuti pembelajaran matematika secara kooperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui interaksi saling membantu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya sehingga akan terciptanya komunikasi matematika antar siswa. Dalam proses pembelajaran kooperatif, siswa kelompok atas (pandai) akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah.

Penelitian ini dibatasi hanya pada pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Division (STAD). Hal ini didasari kajian penulis dari berbagai literatur bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan sangat mudah diterapkan dalam pembelajaran matematika. Tipe ini paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.

Dengan demikian diharapkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD guru tidak mengalami kesulitan dalam pembelajaran dan dapat memfasilitasi siswa, agar saling berinteraksi dengan siswa lainnya, dengan cara mengajukan masalah agar siswa terdorong untuk bertukar informasi dan berdiskusi. Selain itu hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dengan mudah diimplementasikan di sekolah.