Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Falsafah Pengetahuan Dalam Perspektif Ibnu Sina

Pengetahuan Dalam Perspektif Ibnu Sina

Karya Ibn Sina yang membincangkan panjang lebar mengenai falsafah pengetahuan adalah Al Syifa. Buku ini dianggap sebagai buku yang terpenting dalam falsafah pengetahuan. Ibn Sina mengikuti dua cara dalam menulis kitab-kitabnya. 

Ada kitab-kitab yang ditulisnya untuk orang umum atau sebahagian besar dari penuntut-penuntut hikmah; ada kitab-kitab untuk orang-orang khusus atau untuk dirinya dan orang-orang yang dekat kepadanya. Maknanya, beliau tidaklah menyalahi falsafah masysyaiyah (peripatetic). Inilah yang kita namakan mazhab yang terkenal. Dalam kitab-kitab lain Ibn Sina menyatakan terus terang bahwa ia memasukkan falsafah dalam kitab-kitab itu guna menentang falsafah yang pada masa itu terkenal di kalangan orang banyak. 

Baca juga: Falsafah Pendidikan Perspektif Ibnu Sina

Socrates pernah berkata "Hikmah adalah benda yang suci, tidak rusak dan kotor. Jadi tidaklah patut kita menyimpannya kecuali dalam jiwa yang hidup, kita harus membersihkannya dari kulit yang mati, dan men- jaganya dari hati yang membangkang" (Ibn Abi Usaibiah, 1965). 

Sebelum Ibn Sina memberikan klasifikasi pada hikmat itu ia menentukan tujuannya dahulu yaitu mencari sesuatu hakikat yang sesungguhnya sesuai dengan kesanggupan manusia. Kemudian di- bahagikannya hikmah itu menurut benda-benda yang wujud. Se- tengah benda-benda itu wujudnya tidak bergantung pada perbuat- an dan kemauan kita. Setengahnya lagi bergantung pada perbuat- an dan kemauan kita. 

Semua benda-benda ini tidak tertakluk wujudnya pada perbuatan dan kemauan kita. Kita sanggup memilih sistem politik, tingkah-laku akhlak dan menciptakannya. Kita juga boleh meninggalkannya, begitu juga dengan berbagai seni dan pertukangan. 

Baca juga: Masyarakat Dalam Perspektif Islam

Dengan demikian mengetahui perkara-perkara dari bahagian pertama, yaitu yang tidak bergantung wujudnya pada perbuatan dan kemauan kita disebut falsafah teoritis, sedang bahagian kedua disebut falsafah praktis (Morewedge, 1973: 145). Seperti juga pada Aristotle, maka tujuan falsafah teoritis ada- lah untuk menyempurnakan jiwa (nafs) dengan mengetahui. 

Ini bermakna "berlakunya kepercayaan yang diyakini tentang hal-hal yang wujud" (Ibn Sina, 1953). Manakala tujuan falsafah praktis pula bukan sekadar menyempurnakan jiwa dengan pengetahuan tetapi melakukan perbuatan yang sesuai dengan kehendak pengetahuan itu. Dengan itu tujuan falsafah teoritis adalah kebenaran sedangkan tujuan fals af an praktis adalah kebaikan. 

Ibn Sina membahagikan falsafah teoritis kepada tiga macam ilmu, masing-masing menurut darjat penglibatan tajuk-tajuknya dengan materi dan gerakan atau kebebasannya dari gerakan dan materi itu. Ilmu-ilmu itu adalah: 
  1. ilmu tabi'i, yang disebut ilmu yang paling bawah 
  2. ilmu matematik, yang disebut ilmu pertengahan. 
  3. ilmu Ketuhanan, yang dipanggilnya ilmu paling tinggi, yaitu menurut daerajat kebebasannya dari materi (Ibn Sina, 1908).
Pembahagian seperti ini juga pernah dilakukan oleh Aristotle sebelum itu. Ibn Sina, misalnya, menambahkan cabang-cabang ilmu berikut kepada ilmu tabi'i, yang pada Aristoteles hanya terbahagi pada materi dan bentuk, gerakan dan perubahan, wujud dan kehancuran, dan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jiwa-jiwa; ilmu-ilmu itu ialah kedokteran, astrologi, ilmu firasat, ilmu sihir (tilsam), ilmu tafsir mimpi, ilmu niranjiyat, dan ilmu kimia. 

Kepada ilmu matematik ditambahkannya cabang-cabang ilmu berikut: ilmu ruang, bayang bergerak, memikul be- rat, ilmu timbangan, ilmu pandangan dan cermin, dan ilmu memin- dah air (Ibn Sina, 1908: 110-111).

Mengenai ilmu Ketuhanan (ilahiyat) ditambahkannya cabang seperti: cara-cara turunnya wahyu, jauhar rohani yang membawa wahyu, bagaimana wahyu turun sehingga dapat didengar dan dilihat, mukjizat, khabar ghaib, ilham bagi orang-orang yang taqwa yang menyerupai wahyu, dan keramat serupa dengan wahyu. Juga dibicarakan di situ tentang roh amin dan ruh qudus. Ruh amin termasuk peringkat kedua jauhar rohani, manakala ruh qudus termasuk jauhar rohani peringkat pertama, yakni dari peringkat malaikat-malaikat (Ibn Sina, 1908: 114). 

Beliau juga membincangkan tentang ilmu Al-Maad, yaitu ilmu yang bersangkut paut dengan kekekalan roh sesudah matinya badan dan segala yang bersangkutan dengan kebahagiaan, pahala dan siksa an. Itulah pembahagian falsafah teoritis dan segala tambahan yang diberikan oleh Ibn Sina; dan dengan demikian usaha Ibn Sina itu lebih luas daripada pembahagian yang telah dibuat oleh Aristoteles. 

Seperti yang telah kita lihat di atas tambalhan-tambahan yang diberikan oleh Ibn Sina itu adalah mengenai idee-idee agama yang diberikan kepada falsafah Yunani. Dengan kata lain beliau mengislamkan falsafah Yunani itu. Falsafah praktis juga terbahagi kepada tiga ilmu, yaitu: 

  1. ilmu akhlak, yang mengkaji tentang cara-cara pengurusan tingkahlaku seseorang manusia atau kesucian dirinya 
  2. ilmu pengurusan rumah tangga, yang mengkaji tentang hubungan antara lelaki dan isterinya, anak-anaknya dan pembantu-pembantunya, kemudian juga mengkaji tentang ma- salah pengaturan rezeki dan kehidupan keluarga. 
  3. ilmu politik, yang mengkaji tentang bagaimana sepatutnya hubungan-hubungan masyarakat dalam suatu kota, hubungan antara berbagai kota, dan hubungan berbagai negara. Juga mengkaji tentang berbagai jenis politisi, kepemimpinan, dan masyarakat yang luhur dan hina dina. 
Seperti yang telah kita lihat di atas, pembahagian itu serupa dengan pembahagian yang dibuat oleh Aristotle, tetapi Ibn Sina memberikan peranan penting kepada Syara' dalam falsafah praktis. Sesudah membuat pembagian tersebut beliau berkata "Semua itu hanya terlaksana secara keseluruhan dengan pemikiran akal dan petunjuk syariat, sedang secara terperinci dengan syariat llahi" (Ibn Sina, 1953: 14). 

Dengan lebih tegas lagi akal dan wahyu ibarat sebuah mata uang yang bermuka dua, muka pertama adalan wahyu, manakala muka kedua adalah akal. Dengan kata lain, pelaksanaan falsafah ini dalam hidup manusia baik dalam bentuk akhlak atau urusan rumahtangga atau politik tidak dapat tidak memerlukan pemikiran akal dan petunjuk syari'at yang berasal dari wahyu.

Baca juga: Manusia Dalam Perspektif Hasan Langgulung

Dalam pembahasan ilmu politik misalnya. Ibn Sina menambahkan suatu bahagian lain yang terkenal dengan wujudnya kenabian dan keperluan manusia kepadanya. Ibn Sina berpendapat bahwa kenabian itu merupakan suatu sifat kemestian untuk kemanfaatan dan kebaikan manusia, karena manusia itu tidak dapat hidup kecuali dalam suatu masyarakat. Masyarakat pula tidak bisa sempurna tanpa mu amalah, dan mu'amalah memerlukan aturan dan keadilan, yakni undang-undang dan syari'at. Pembuat aturan dan keadilan Nabi, dengan perintah, keinginan dan wahyu Allah, yang membuat aturan itu bagi manusia, mengajak dan memerintah manusia menetapi aturan dan keadilan itu. 

Dengan demikian kehidupan manusia dalam masyarakat memerlukan Nabi. Adalah tidak masuk akal manusia dibiarkan bersengketa mengenai ukuran-ukuran keadilan dan kezaliman, sehingga setiap orang melihat yang menguntungkan dirinya saja yang dianggap adil manakala yang menugikannya dianggap sebagai zalim.

Untuk memberi penjelasan yang lebih terang maka diturunkan Bentuk 1 mengenai pembagian ilmu menurut Ibnu Sina. Setelah menerangkan panjang lebar mengenai teori pengetahuan menurut Ibn Sina maka timbullah pertanyaan di manakah letaknya Ibn Sina di antara ahli-ahli falsafah pengetahuan (philosophers of epistemology) seperti yang dikenal oleh sarjana pendidikan kebelakangan ini ? 

Sarjana-sarjana pendidikan, terutama sarjana kurikulum, biasanya menjeniskan falsafah pengetahuan (epistemology) ini kepada tiga kategori besar menurut nilai pengetahuan: 

Pengetahuan Dalam Perspektif Ibnu Sina

  1. Falsafah-falsafah di sebalik alam (other-worldly philosophies) yang terbahagi kepada dua golongan besar, yaitu falsafah- falsafah yang berasal dari agama dan falsafah yang berasal dari Athena Kuno dan kedua-duanya mempengaruhi pendidikan Barat.
  2. falsafah-falsafah berpusatkan bumi (earth-centered philosophies) yang juga terbahagi lagi kepada dua golongan besar, yaitu falsafah-falsafah yang beranggapan bahwa alam-semesta ini tidak bergerak (static universe) dan falsafah-falsafah yang beranggapan bahwa alam semesta ini selalu bergerak dan tidak tetap. Falsafah-falsafah berpusatkan bumi ini, walaupun sudah agak tua, yaitu semenjak zaman Aristotle, tidak mendapat tempat dalam zaman pertengahan di Eropah malah banyak mendapat pengaruh di dunia Islam seperti kita lihat pada Ibn Sina. Pada zaman renaisans di Eropah barulah ia mendapat pengaruh dan mendorong kebangkitan sains dan membawa revolusi sainstifik, dan 
  3. falsafah-falsafah berpusatkan manusia (earth centered philosophies). Falsafah jenis baru ini baru saja munculnya, yaitu pada ujung abad ke 19, bermula dengan mazhab pragmatisme oleh dua orang ahli falsafah Amerika, yaitu Charles S. Pierce (1839 - 1914) dan William James (1842 - 1910). Sumber lain adalah mazhab existensialisme yang dipelopori oleh ahli fal- safah Denmark Soren Kirkgard (1813 - 1855). Paragmatisme dan existensialisme telah banyak mempengaruhi pendidikan orang-orang barat kebelakangan ini. 
Sepintas lalu, Ibn Sina adalah ahli falsafah berpusatkan bumi (earth-centered philosopher) sebab beliau adalah pengikut Aristotle. Tetapi bila dikaji lebih mendalam, Ibn Sina bukan hanya sekedar mengikut Aristoteles, tetapi ia menambahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan kepada tiga bahagian ilmu pada falsafah teoritis dan pada falsafah praktis. Malah pada falsafah teoritis itu diciptakannya suatu bahagian baru yaitu ilmu kulli. 

Begitu juga pada falsafah praktis diberinya satu bahagian baru, yaitu ilmu Nabi, yang disebut juga Namus atau Syari'ah. Tambahan-tambahan itu berdasarkan pada pengalamannya sendiri, sebab beliau sangat sadar akan konsepsi Islam dalam hubungannya dengan Tuhan dan Alam Semesta dan dengan demikian selalu ia berusaha membukti- kan bahwa sesuatu yang dicipta itu adalah bergantung pada Pen- cipta. Dengan itu beliau tetap setia kepada prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam (Nasr, 1969: 311). 

Dengan demikian Ibn Sina adalah sekaligus ahli falsafah disebalik alam (other-worldly philosopher) dan ahli falsafah berpusatkan bumi (earth-centered philosopher). Atau orang boleh berkata bahwa Ibn Sina adalah pengikut Aristotle dan Neo-Palatonism sekaligus, atau beliau berusaha mendamaikan pendapat kedua orang ahli falsafah Yunani itu, Plato dan muridnya Aristotle. Itu satu pendapat. 

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa beliau, dalam usahanya membela Islam dari serangan sarjana-sarjana Yahudi, Nasrani dan lain-lain telah mengambil dari Aristotle dan Plato diantara unsur yang tidak bertentangan dengan Islam, sehingga akhirnya muncullah mazhab Ibn Sina yang berdiri sendiri, dan tidak dapat dikatakan Aristotelisme atau Platonisme, tetapi lebih tepat disebut Ibn Sinaisme. 

Dari segi lain pula tulisan-tulisannya mengenai akhlak dan politik (siyasah) memberi kesan seakan-akan beliau seorang ahli falsafah berpusatkan manusia (man-centered philosopher). Seperti yang telahdisebutkan di atas, ilmu praktis itu terbahagi kepada tiga bahagian: akhlak, pengurusan kota, dan pengurusan keluarga. 

Mengenai akhlak ini Ibn Sina telah mengaitkannya dengan jiwa (nafs) dalam konteks dirinya sendiri dan jiwa dalam konteks orang lain. Jiwa dalam konteks orang lain adalah sivik, yaitu urusan kota, dan rumahtangga, yaitu urusan keluarga. Semuanya berkaitan dengan manusia, baik sebagai perseorangan maupun sebagai masyarakat. Tetapi semua ini tidak lepas dari hubungan syari'at, salah satu cabang ilmu praktikal yang hanya ada pada Ibn Sina dan tidak ada pada Aristotle. 

Ini yang mengaitkannya dengan sistem falsafah di sebalik alam (other-worldly philosophy) dan juga falsafah berpusatkan bumi (earth-centered philosophy) sebab syari'ah pun mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.

Kutipan Tulisan ini adalah dari Buku Hasan langgulung yang berjudul Manusia Dan Pendidikan