Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Model Pembelajaran Treffinger

Model Pembelajaran Treffinger

1. Karakteristik Model Pembelajaran Treffinger

Adapun karakteristik model pembelajaran treffinger dalam mengembangkan kemampuan kreativitas siswa dalam pemecahan masalah sebagai berikut :
  1. Mengasumsikan bahwa kretivitas adalah proses dan hasil belajar
  2. Dilaksanakan kepada semua siswa dalam berbagai latar belakang dan tingkat kemampuan
  3. Mengintegrasikan di mensi kognitif dan afektif dalam pengembangannya
  4. Melibatkan secara bertahap kemampuan berfikir konvergen dan divergen dalam proses pemecahan masalah
  5. Memiliki tahapan pengembangan yang sistematik, dengan beragam metode dan tekhnik untuk setiap tahap yang dapat diterapkan secara fleksibel
Baca juga: Hakikat Pemebelajaran Inkuiri

2. Tujuan Model Pembelajaran Treffinger

Model pembelajaran treffinger memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Melatih kemampuan siswa agar mampu belajar kreatif , sehingga siswa dapat mandiri dalam proses pembelajaran.
  2. Melatih siswa agar mampu menerapkannya dalam tantangan kehidupan nyata. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran tidak hanya berlangsung ketika proses pembelajaran berlangsung di sekolah saja, akan tetapi pembelajaran ini lebih menekankan agar mampu melaksanakan dalam kehidupannya sehingga proses pembelajaran dapat lebih berbekas.
  3. Mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah karena pembelajaran ini mencoba membawa permasalahan-permasalahan yang terjadi di kehidupan nyata.
  4. Orientasi pembelajaran ini pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, siswa dapat lebih belajar kreatif sehingga kemampuan dalam memecahkan masalah dapat terus berkemban
3. Tahap-Tahap Model Pembelajaran Treffinger

Model pembelajaran treffinger dalam Utami Munandar untuk belajar kreatif digambarkan sebagai
 susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Seperti dalam model pengayaan Renzulli, dimana siswa terlibat dalam kegiatan membangun keterampilan pada kedua tingkat pertama untuk kemudian menangani masalah kehidupan nyata pada tingkat ketiga.