Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Model Pembelajaran Problem Solving

Model Pembelajaran Problem Solving

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa, guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi contoh identifikasi diri. Di sekolah, guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur murid dan fasilitasnya.

Siswa sebagai makhluk individu, sosial dan sebagai warga negara perlu mengembangkan diri untuk dapat hidup dikalangan masyarakat dan reformasi yang menuntut perubahan disegala bidang kehidupan manusia, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan meningkatkan kemampuan wawasan, keterampilan berpikir kritis (critical thinking skill) dan pemahaman serta mampu menyikapi terhadap segala sesuatu yang dialami dan dihadapi dalam kehidupannya.

Baca juga: Model Pembelajaran Reciprocal Teaching

Rendahnya hasil belajar siswa merupakan salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah. Hasil belajar ini dipengaruhi berbagai faktor, yaitu faktor internal maupun eksternal. Bloom mengemukakan adanya tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran yang dilakukan ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan. Model pembelajaran merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

Berdasarkan pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran di MIN , ditemukan beberapa masalah antara lain masih kurangnya minat belajar dikarenakan penyampaian materi hanya didominasi dengan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif dan cepat merasa jenuh pada materi yang diajarkan. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar siswa masih banyak yang di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, para pendidik harus menguasai bahan atau materi ajar. Tetapi perlu dipahami kegagalan seorang pendidik dalam menyampaikan materi ajar terjadi bukan karena tidak menguasai materi ajar tersebut, tetapi karena tidak tahu cara menyampaikan materi dengan baik dan tepat sehingga peserta didik dapat belajar dengan menyenangkan.

Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima setiap mata pelajaran yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu guru perlu memotivasi siswa supaya siswa dapat melatih dan mengembangkan kemampuannya. Dari perkembangan kognitif, siswa sekolah dasar masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indra. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berfikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret.

Peneliti merasa pada saat melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di MIN , kegiatan belajar mengajar di kelas pada pembelajaran IPA siswa memberikan respon yang kurang baik, seperti:
  1. Beberapa siswa mengobrol dibelakang kelas tanpa memperhatikan mata pelajaran yang disampaikan.
  2. Siswa jenuh karena guru hanya menggunakan metode ceramah dan memberi soal-soal yang harus dikerjakan.

Kondisi tersebut menyebabkan suasana kelas menjadi tidak nyaman dan kurang kondusif karena suasana gaduh oleh beberapa siswa di belakang, dan tingkat pemahaman siswa dalam menyerap materi yang diajarkan masih kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut guru harus memberikan rangsangan yang berbeda dari metode sebelumnya agar siswa tidak mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik dapat belajar dengan menyenangkan dan mendapatkan hasil belajar yang maksimal, maka pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang metode yang tepat dalam menyampaikan materi ajar tersebut.

Model pembelajaran yang digunakan pendidik memang bisa menjadi konduktor yang ampuh untuk menghantarkan materi pembelajaran, di lapangan sering dijumpai guru yang dapat menguasai materi belajar yang baik, tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal ini bisa terjadi karena kegiatan belajar tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran yang sesuai sehingga hasil belajar yang diperoleh pun rendah. Model pembelajaran Problem Solving dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut karena model pembelajaran ini tidak menitik beratkan pada metode konvensional dengan anggapan seperti itu siswa diharapkan lebih tertarik dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran karena menggunakan model penyampaian yang lebih menarik dan lain dari biasanya.

Berdasarkan permasalahan tersebut diharapkan model pembelajaran Problem Solving dapat membuat rasa kepercayaan diri siswa semakin terlatih serta rasa tanggung jawab terhadap persoalan yang diberikan guru akan menjadi pengalaman dan menambah wawasan siswa, karena model pembelajaran ini mencari solusi dimana siswa turun langsung pada permasalahan tersebut. Model pembelajaran Problem Solving merupakan sebuah srategi pembelajaran yang mengaktifkan siswa, siswa diikut sertakan dalam pembelajaran dengan bersifat kreatif.

Peneliti merasa yakin bahwa model pembelajaran Problem Solving ini sangat cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran IPA di Sekolah Tingkat Dasar (SD/MI). Lingkungan yang mendukung dan proses pembelajaran IPA di Sekolah Tingkat Dasar (SD/MI) yang menyenangkan dapat menciptakan motivasi belajar sehingga hasil yang didapat pun memuaskan, sehingga keluhan seperti bosan, jenuh, kurang bergairah dan tidak menarik yang selama ini sering dialami oleh peserta didik dalam Proses Pembelajaran IPA dapat teratasi melalui model Pembelajaran Problem Solving ini.