Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Pendidikan merupakan salah satu pondasi yang menentukan ketangguhan dan kemajuan suatu bangsa. Jalur pendidikan dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal di tuntut untuk melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan seoptimal mungkin. Sehingga dapat mencetak generasi muda bangsa yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi. Proses pembelajaran membantu siswa untuk mengembangkan potensi intelektual yang dimilikinya, sehingga tujuan utama pembelajaran adalah usaha yang dilakukan agar intelektual setiap pelajar dapat berkembang. Salah satu pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran matematika.

Pendidikan merupakan modal utama dalam pembangunan. Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah dipersiapkan secara matang dan mantap. Hal tersebut dapat diperoleh melalui proses pendidikan, semakin maju suatu bangsa atau Negara makasemakin besar pula penekanan terhadap tujuan pendidikan kearah peningkatan mutu kelulusan yang merupakan hasil dari suatu sistem pendidikan.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas untuk menemukan serta menjalankan teknologi. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki tantangan besar dalam menyongsong era globalisasi. Salah satu tantangannya adalah meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu pemerintah menaruh perhatian pada peningkatan mutu pendidikan sehingga diharapkan lahirnya tenaga-tenaga yang memiliki keahlian, keterampilan dan kemampuan menciptakan teknologi yang lebih maju. Salah satu bidang studi yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah matematika. Oleh karena itu matematika merupakan bidang studi yang menduduki peranan penting dalam bidang pendidikan.

Baca juga: Teori Pendukung Model Pembelajaran Treffinger

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Kehidupan di dunia ini akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu siswa harus memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis, kreatif atau kemauan bekerja sama yang efektif. Dengan demikian, maka seorang guru harus terus mengikuti perkembangan matematika dan selalu berusaha kreatif dalam pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat membawa siswa ke arah yang diinginkan.

Matematika bukan alat untuk berfikir, melainkan ia merupakan alat untuk meyempaikan ide yang jelas dan tepat. Oleh karena itu, matematika harus disampaikan sebagai satu bahasa yang bermakna. Matematika merupaka aktivitas sosial yang melibatkan proses interaksi yang aktif, dimana pelajar harus menerima ide-ide matematika melalui mendengar, membaca dan membuat visualisasi mengungkapkan serta mampu mengungkapkan dan mengkomunikasikan ide-ide yang terdapat dalam matematika. Karena komunikasi membuka ruang kepada siswa untuk berdiskusi membahas tentang matematika dalam memecahkan masalah.

Namun pada kenyataannya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, pelajaran matematika pada umumnya kurang disukai oleh siswa. Kemampuan mengekspresikan, menafsirkan ide-ide matematika melalui lisan dan tertulis, serta kemampuan untuk menuangkan dalam bentuk visual dan gambar masih jauh dari harapan. Hal ini dikarenakan di dalam matematika terdapat konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sukar dipelajari dan dipahami oleh siswa. Dalam hal ini siswa masih sulit membedakan masing-masing konsep, siswa juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan kembali konsep matematika yang telah dipelajari dengan bahasanya sendiri. Sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menafsirkan ide-ide dan menyelesaikan masalah dalam matematika. Selain itu kuragnya kesadaran siswa bahwa aturan yang ada pada matematika mengajarkan untuk berfikir logis, rasioal, dan kritis, serta mampu mengkomunikasikannya. Dengan adanya permasalahan di atas akan mengakibatkan terhambatnya kemampuan komunikasi matematika siswa.

Baca juga: Metode Pembelajaran Inkuiri

Komunikasi merupakan alat bantu berupa bahasa yang sangat diperlukan dan penting dalam proses pembelajaran. Dan matematika tidak hanya sekedar alat bantu berfikir, tetapi matematika juga sebagai alat yang berharga untuk mengkomunikasikan ide secara jelas. Pada kenyataannya siswa yang telah memahami konsep suatu materipun,masih belum mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain dan kurang mampu merangkai ide dan pendapat yang berhubungan dengan matematika. Matematika sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran matematika, sebagai wahana untuk berinteraksi antar guru dan siswa. Hal ini merupakan bagian terpeting untuk mempercepat pemahaman matematika siswa.

Namun kenyataan dilapangan berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan kelas VII di SMP negeri yaitu matematika siswa belum sesuai yang diharapkan. Terlihat dari salah satu soal yang diajarkan kepada siswa dalam memperhatikan kemampuan komunikasi matematika siswa. Adapun sosial yang diajukan mengenai indikator menjelaskan ide sesuai dan relasi matematika secara lisan dan tulisan.

Amir membuat kerangka layang-layang dengan panjang kedua diagonalnya 9 cm dan 18 cm, selanjutnya Andi ingin menghias dengan kertas, jika kertas layang-layang lebih besar 1 cm dari kerangka layang-layang berapakah luas kertas yang dibutuhkan Amir untuk menghias layang-layangnya.

Berdasarkan hasil jawaban siswa diatas dapat dikatakan kemampuan komunikasi matematika masih rendah, dimana dari 30 siswa hanya 5 siswa yang menjawab soal dengan benar. Hal ini menunjukkan siswa belum mampu menjelaskan ide situasi dan relasi ,matematika secara tulisan. Dan terlihat dari jawaban siswa yang hanya mencari luas kerangka layang-layang, padahal yang ditanya luas kertas yang dibutuhkan untuk membuat layang-layang. Melihat kurang terampilnya komunikasi matematika siswa untuk menyampaikan informasi seperti menyatakan ide, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi pertanyaan atau pendapat orang lain. Siswa cenderung bersikap pasif atau diam ketika guru mengajukan pertanyaan, padahal siswa sebenarnya sudah memahami materi yang telah diajarkan, hal ini terlihat dari tugas yang diberikan, baik tugas di sekolah maupun tugas di rumah.

Siswa juga masih terlihat segan atau malu-malu untuk bertanya, kalaupun ada yang menjawab pertanyaan baik yang diajukan guru atau temannya, penyampaiannya terasa kaku, kurang variatif, monoton, dan tidak actual. Jadi terlihat bahwa proses pembelajaran di kelas “tidak hidup”. Situasi tersebut terjadi kemungkinan karena siswa jarang diberikan kesempatan untuk berbicara, karena kebanyakan guru mengajar siswa dengan metode ceramah dan mencatat di papan tulis.

Ini berarti masih terjadi pelaksanaan proses pembelajaran di kelas jarang melatihkan dan mengembangkan keterampilan komunikasi dan proses interaksi di antara siswa. Tentu paradigma pembelajaran ini perlu direnovasi sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang inovatif, yang diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan proses interaksi antar siswa.

Dengan menggunakan strategi yang tepat dan sesuai dengan pokok bahasan Bangun datar. Karena setiap strategi belum tentu cocok dengan semua situasi ataupun tujuan pembelajaran, maka diperlukan stategi yang tepat. Strategi pembelajaran tersebut dipilih dalam suatu pembelajaran yang kooperatif. Pembelajaran kooperatif terdiri dari berbagai macam tipe, salah satunya adalah tipe Think-Pair-Share.

Strategi Think – Pair – Share merupakan jenis strategi pembelajaran kooperatif yang yang dapat meningkatkan partisipasi siswa yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dimaksud sebagai alternatif pengganti terhadap struktur kelas tradisional. Prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberikan siswa lebih banyak waktu untuk berfikir, merespon dan saling membantu. Jadi pembelajaran TPS adalah suatu pembelajaran yang menempatkan siswa secara berpasangan (berkelompok) untuk menyelesaikan tugas akademik melalui tiga tahap, yaitu (1) berfikir, (2) berpasangan, dan (3) berbagi dengan siswa yang lain. Oleh karena itu dengan adanya metode pembelajaran Cooperative tipe Think-Pair-Share pada materi aljabar, maka diharapkan akan tercapai kemampuan komunikasi yang efektif.

Adapun salah satu materi yang diajarkan disekolah SMP/MTsN adalah materi bangun datar segi empat, dimana siswa SMP Negeri  merasa kesulitan dalam menyampaikan informasi/seperti menanggapi pertanyaan atau mengajukan pertanyaan dengan bahasa sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Hal ini kemudian disebabkan oleh faktor kurangnya kemampuan komunikasi matematika siswa pada materi bangun datar.